Editor
YOGYAKARTA, KOMPAS.com — Sakit, kegelisahan, dan kesedihan dapat menjadi jalan kebaikan bagi seorang Muslim.
Ketua Lembaga Pembinaan Haji dan Umrah Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Daerah Istimewa Yogyakarta Nanang Joko Purwanto mengingatkan pentingnya kesabaran dan prasangka baik kepada Allah ketika menghadapi ujian kehidupan.
“Dengan ujian-ujian yang kita terima di satu sisi kita merasa sedih, sakit, gelisah, tapi di situ Allah tidak membiarkan kita tanpa diberikan sebuah balasan,” kata Nanang dikutip dari laman Muhammadiyah, Kamis (1/10/2026).
Baca juga: Khutbah Jumat: Berbaik Sangka kepada Allah saat Menghadapi Ujian
Dalam kajiannya, Nanang mengutip hadis riwayat Bukhari dan Muslim dari Abu Said dan Abu Hurairah.
Hadis tersebut menjelaskan bahwa kepayahan, penyakit, kegelisahan, kesedihan, gangguan, bahkan duri yang menusuk seorang Muslim dapat menjadi sebab terhapusnya dosa.
Menurut Nanang, petunjuk Nabi Muhammad SAW tersebut mengajak umat melihat ujian kehidupan dengan tetap berharap pada kebaikan dari Allah.
Nanang mengatakan, kehidupan manusia diwarnai keadaan yang berganti-ganti, mulai dari kebahagiaan dan kesehatan hingga kesulitan dan sakit.
Seorang mukmin, menurutnya, perlu menyikapi setiap keadaan dengan merujuk pada petunjuk Nabi. Ketika memperoleh kenikmatan, ia bersyukur. Ketika menghadapi musibah, ia bersabar.
Ia juga mengutip hadis riwayat Bukhari yang menyebutkan bahwa orang yang dikehendaki kebaikan oleh Allah akan mendapatkan cobaan.
Karena itu, Nanang mengajak umat menjaga husnuzan atau prasangka baik kepada Allah saat menghadapi kesulitan.
“Ujian cobaan yang menimpa seorang Muslim menjadikan hatinya lebih tangguh, lebih tegar,” ujarnya.
Baca juga: Harta, Jabatan, dan Ilmu Juga Bisa Jadi Ujian, Ini Penjelasan Ustaz Adi Hidayat
Nanang mengibaratkan proses menghadapi ujian dengan lempengan besi yang dipanaskan dan ditempa oleh pandai besi.
Besi melewati panas dan pukulan sebelum menjadi alat yang bermanfaat. Menurutnya, perumpamaan itu menggambarkan bagaimana kesabaran dalam melewati kesulitan dapat membentuk keteguhan seseorang.
“Begitu juga ujian cobaan kita. Mungkin kita merasakan sakit yang begitu pedih, keletihan, kepayahan dengan ujian cobaan yang Allah berikan. Tapi dengan kita bersabar mengikuti proses yang ada, tetap berhusnuzan pada Allah, kemudian jadilah kita menjadi suatu yang insyaallah akan mendapatkan kebaikan-kebaikan dan menjadi orang yang lebih baik lagi,” tuturnya.
Nanang menjelaskan, cobaan berupa sakit, kemiskinan, maupun keadaan yang membuat seseorang merasa direndahkan dapat menjadi jalan kebaikan apabila dihadapi dengan kesabaran.
Menurutnya, kebaikan tersebut dapat berupa kedekatan kepada Allah serta terhapusnya dosa.
Dalam kajian tersebut, Nanang turut mengutip hadis dari Anas bin Malik mengenai orang yang dikehendaki kebaikan oleh Allah.
Ia menjelaskan bahwa dalam hadis tersebut, Allah dapat menyegerakan balasan atas kesalahan seorang hamba di dunia, sedangkan balasan yang ditangguhkan akan diterima di akhirat.
Nanang juga menyampaikan hadis tentang besarnya pahala yang berkaitan dengan besarnya cobaan, serta ujian yang diberikan Allah kepada kaum yang dicintai-Nya.
Melalui sejumlah hadis itu, ia mengingatkan umat untuk bersabar, menjaga keridaan kepada Allah, dan tidak berputus asa ketika menghadapi kesulitan.
Nanang menekankan bahwa kesabaran dalam menghadapi musibah dan penyakit dapat menjadi sebab terhapusnya dosa. Ujian juga dapat menjadi bagian dari proses yang mendekatkan seorang hamba kepada Allah.
“Dengan demikian dia akan mendapatkan keridaan dari Allah Subhanahu wa taala,” ujarnya.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.