Editor
KOMPAS.com - Kebahagiaan sejati dalam Islam tidak diukur dari banyaknya pujian, pengakuan, atau penerimaan manusia.
Islam mengajarkan agar seorang Muslim mengarahkan tujuan hidupnya untuk mencari ridha dan validasi Allah sebagai sumber ketenangan hati.
Menurut Dr. Aang Kunaepi, M.Ag., Ketua Majelis Tabligh PDM Kota Semarang, kebahagiaan sejati seorang Muslim bersumber dari ketenangan hati dan orientasi hidup untuk mencari ridha Allah.
Baca juga: 4 Tanda Kebahagiaan dalam Islam Menurut Hadits, Ada Tetangga Baik hingga Pasangan Salih
Penilaian manusia dapat berubah sewaktu-waktu sehingga menjadikannya sebagai ukuran kebahagiaan dapat membuat hati mudah gelisah. Seseorang mungkin mendapat pujian hari ini, tetapi bisa menerima celaan pada hari berikutnya.
Karena itu, kebahagiaan yang hanya bergantung pada apresiasi orang lain bersifat rapuh. Islam menawarkan sumber ketenangan yang lebih kokoh dengan menjadikan penerimaan Allah sebagai tujuan utama.
Baca juga: Doa Pembuka Rezeki, Iktiar Jalur Langit Agar Terhindar dari Kesulitan Hidup
Allah berfirman:
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)
Ayat tersebut menegaskan bahwa ketenteraman hati tidak berasal dari pengakuan sosial semata, melainkan dari hubungan seorang hamba dengan Allah. Ketika hati semakin dekat dengan Allah, kebutuhan terhadap pengakuan manusia juga dapat berkurang.
Rasulullah SAW mengingatkan bahwa penilaian Allah tidak didasarkan pada penampilan atau kekayaan seseorang. Hal yang menjadi perhatian adalah hati dan amal yang dilakukan.
“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa kalian dan harta kalian, tetapi Dia melihat hati dan amal kalian.” (HR. Muslim)
Hadis tersebut menunjukkan bahwa seseorang tidak harus dikenal atau dipuji manusia untuk memiliki kedudukan yang mulia di sisi Allah. Amal yang dilakukan dengan hati yang ikhlas tetap memiliki nilai meskipun tidak diketahui banyak orang.
Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang terkadang melakukan sesuatu agar dipandang baik, saleh, atau pintar oleh orang lain. Jika tidak disadari, keinginan mendapatkan pengakuan tersebut dapat menggeser tujuan utama ibadah.
Allah telah mengingatkan:
“Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali untuk beribadah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.” (QS. Al-Bayyinah: 5)
Karena itu, kemurnian niat menjadi bagian penting dalam mencari kebahagiaan sejati. Ketika seseorang beramal karena Allah, ia tetap berbuat baik meskipun tidak mendapatkan pujian dan tetap beribadah meskipun tidak ada yang melihat.
Mencari ridha Allah dapat menjadi prinsip dalam menjalani kehidupan di tengah tuntutan dan penilaian sosial. Rasulullah SAW memberikan penjelasan mengenai hal tersebut dalam sebuah hadis:
“Barang siapa yang mencari ridha Allah meskipun manusia marah, maka Allah akan mencukupkannya dari (urusan) manusia. Dan barang siapa yang mencari ridha manusia dengan kemurkaan Allah, maka Allah akan menyerahkannya kepada manusia.” (HR. Tirmidzi)
Hadis ini menunjukkan bahwa menjadikan Allah sebagai tujuan utama dapat membebaskan seseorang dari ketergantungan terhadap penilaian manusia. Sebaliknya, menjadikan penerimaan manusia sebagai tujuan hidup dapat membuat seseorang terus mengejar pengakuan dari orang lain.
Kebahagiaan yang bersumber dari validasi Allah juga dapat menghadirkan ketenangan batin. Seseorang tidak lagi harus terus membangun citra diri di hadapan manusia karena yakin bahwa Allah mengetahui setiap amal yang dilakukan.
Allah berfirman:
“Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasannya).” (QS. Az-Zalzalah: 7)
Ayat tersebut menegaskan bahwa tidak ada amal kebaikan yang sia-sia di sisi Allah. Bahkan kebaikan yang dilakukan secara tersembunyi tetap diketahui, tercatat, dan memiliki nilai di sisi-Nya.
Sebaliknya, ketergantungan pada pengakuan manusia dapat membuat seseorang mudah kecewa ketika apresiasi yang diharapkan tidak datang. Kesadaran bahwa Allah melihat seluruh amal dapat membantu seorang Muslim tetap merasa bermakna tanpa harus menunggu pengakuan dari orang lain.
Kebahagiaan sejati dalam Islam berkaitan dengan sikap merasa cukup atas penilaian Allah. Seseorang tidak lagi menjadikan tepuk tangan, popularitas, atau pujian manusia sebagai ukuran utama untuk menentukan nilai dirinya.
Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda mengenai pandangan hidup seorang mukmin:
“Dunia adalah penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir.” (HR. Muslim)
Maknanya, kebahagiaan seorang mukmin tidak semata-mata ditentukan oleh pengakuan dan kenikmatan dunia. Harapan terhadap ridha Allah dan kehidupan akhirat menjadi bagian penting dari cara seorang Muslim memandang kebahagiaan.
Dengan demikian, sumber kebahagiaan bukan terletak pada seberapa banyak manusia mengenal atau memuji seseorang, tetapi pada kedekatannya dengan Allah.
Menjadikan ridha Allah sebagai tujuan utama dapat membantu hati tetap tenang meskipun tidak selalu mendapatkan pengakuan dari manusia.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.