Editor
BANDUNG, KOMPAS.com — Perbedaan agama tidak menjadi penghalang bagi Fransisca Natalia Hedy untuk menempuh pendidikan profesi apoteker di Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung.
Sebagai seorang Katolik, ia mengaku merasa nyaman belajar di kampus Islam tersebut.
Fransisca menjadi salah satu dari 12 lulusan angkatan pertama Program Studi Pendidikan Profesi Apoteker UM Bandung.
Baca juga: Wamendikdasmen ke Mahasiswa UMB: Kuliah Bukan Hanya untuk Mendapatkan Ijazah
Ia menyelesaikan pendidikan dengan indeks prestasi kumulatif (IPK) tertinggi di angkatannya, yakni 3,96.
“Saya enjoy bisa kuliah di UM Bandung. Tidak ada diskriminasi terkait latar belakang agama,” ujar Fransisca dalam rilisnya, Rabu (7/10/2026).
Ia bersama 11 lulusan lainnya menjalani pengambilan sumpah apoteker di Auditorium KH Ahmad Dahlan, kampus UM Bandung, Jalan Soekarno-Hatta Nomor 751, Sabtu (3/10/2026).
Selama mengikuti pendidikan, Fransisca mengaku dapat menjalani pembelajaran tanpa mengalami diskriminasi berdasarkan agamanya.
Saat mengikuti mata kuliah agama, ia memilih memahami persamaan dan mengesampingkan perbedaan.
Baginya, perbedaan keyakinan tidak menghambat proses belajar maupun interaksi dengan lingkungan kampus.
Pengalaman itu menjadi bagian penting dari perjalanan Fransisca sebelum memasuki dunia kerja sebagai apoteker.
Ia juga mengaku bahagia menjadi bagian dari angkatan pertama pendidikan profesi apoteker di UM Bandung. Menurutnya, dukungan dosen dan fasilitas pembelajaran membantu dirinya menyelesaikan pendidikan.
Baca juga: Muhammadiyah: Cegah Korupsi Sejak Dini Dimulai dengan Rizki yang Halal
Setelah mengucapkan sumpah profesi, Fransisca menegaskan komitmennya untuk menjalankan pekerjaan dengan menjunjung kejujuran, tanggung jawab, integritas, dan kepedulian.
Ia ingin membawa nilai-nilai tersebut dalam pelayanan kesehatan kepada masyarakat, termasuk melayani siapa pun tanpa membedakan latar belakang.
“Di mana pun saya berkarier nanti, saya ingin tetap memberikan pelayanan kesehatan dengan penuh tanggung jawab, kejujuran, dan cinta kasih kepada masyarakat tanpa memandang latar belakang,” ungkapnya.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.