Editor
LOMBOK, KOMPAS.com – Keterampilan menenun yang diwariskan secara turun-temurun menjadi sumber penghidupan bagi perempuan di Desa Sukarara, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB).
Kini, aktivitas tersebut tidak hanya membantu meningkatkan pendapatan keluarga, tetapi juga dikembangkan untuk mendukung penyediaan air bersih bagi masyarakat.
Melalui program Galeri Mina Tenun, para perempuan penenun memperoleh akses bahan baku, peralatan, dan pemasaran yang lebih baik. Program ini juga mengembangkan teknologi yang memanfaatkan gerakan alat tenun untuk menghasilkan energi listrik.
VP Community Involvement Development PT Pertamina Patra Niaga, Dian Hapsari Firasati, mengatakan, program tersebut bertujuan memperkuat kemandirian ekonomi perempuan dengan memanfaatkan potensi lokal.
“Melalui Galeri Mina Tenun, kami berupaya membuka akses ekonomi yang lebih baik bagi perempuan penenun, sekaligus mengembangkan potensi lokal melalui inovasi yang mengintegrasikan budaya dan energi terbarukan,” ujar Dian dalam rilisnya, Sabtu (10/10/2026).
Baca juga: Menteri PPPA Ajak Ulama Perempuan Bersinergi Hentikan Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak
Program yang dikembangkan Pertamina Patra Niaga melalui Aviation Fuel Terminal (AFT) Bandara Internasional Lombok (BIL) ini berangkat dari persoalan ekonomi yang dihadapi masyarakat Desa Sukarara.
Sebagian mantan pekerja migran Indonesia (PMI) yang kembali ke kampung halaman mengalami kesulitan memperoleh pekerjaan dan penghasilan yang layak.
Sementara itu, para penenun menghadapi keterbatasan modal, rendahnya nilai jual kain, serta ketergantungan terhadap pengepul.
Sebelum program berjalan, sebagian penenun hanya menerima upah sekitar Rp25.000 per lembar kain. Pembayaran juga kerap harus menunggu hingga produk terjual sehingga menyulitkan mereka membeli bahan baku untuk produksi berikutnya.
Melalui Galeri Mina Tenun, para penenun memperoleh dukungan bahan baku, pengembangan motif, serta alat tenun gedogan.
Galeri tersebut juga membantu pemasaran dan memastikan pembayaran diterima setelah kain selesai diproduksi, tanpa harus menunggu produk terjual kepada konsumen akhir.
Dengan skema tersebut, penghasilan penenun dilaporkan dapat mencapai sedikitnya Rp750.000 per lembar kain setelah memperhitungkan biaya modal.
Baca juga: MUI Siapkan E-commerce untuk UMKM, Targetkan 1.000 Usaha saat Peluncuran
Seorang perempuan tengah menenun kain di Lombok Tengah, NTB. Selain meningkatkan pendapatan keluarga, aktivitas menenun di Desa Sukarara juga dikembangkan untuk membantu mengatasi keterbatasan air bersih.
Kekeringan yang melanda sejumlah wilayah NTB membuat sebagian masyarakat Desa Sukarara harus mencari sumber air alternatif atau membeli air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Untuk membantu mengatasi persoalan tersebut, program Mina Tenun mengembangkan alat tenun bukan mesin (ATBM) yang dimodifikasi agar gerakan mekanis selama proses menenun dapat menghasilkan energi listrik.
Energi tersebut dimanfaatkan untuk mendukung pengoperasian pompa air dan sistem penyaringan air.
Inovasi ini juga didukung pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB) dan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Pertamina Patra Niaga.
“Bagi kami, inovasi sosial bukan hanya tentang menghadirkan teknologi baru, tetapi memastikan inovasi tersebut menjawab kebutuhan masyarakat,” kata Dian.
Dalam Islam, bekerja untuk menghidupi keluarga merupakan bagian dari ibadah. Semangat ini tercermin dari perjuangan perempuan Lombok yang terus menenun, menjaga warisan leluhur, sekaligus berikhtiar membangun kehidupan yang lebih baik.
Melalui Galeri Mina Tenun, keterampilan yang diwariskan secara turun-temurun itu diharapkan tidak hanya menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat, tetapi juga mampu meningkatkan kesejahteraan keluarga.
Program tersebut sekaligus membuka peluang mata pencaharian bagi mantan pekerja migran yang kembali ke kampung halaman.
Dian mengatakan, inovasi yang dikembangkan melalui Mina Tenun diharapkan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat, baik dari sisi ekonomi maupun lingkungan.
“Melalui Mina Tenun, aktivitas menenun yang menjadi bagian dari budaya lokal dikembangkan untuk mendukung penghidupan perempuan sekaligus menghadirkan solusi bagi kebutuhan air bersih,” ujarnya.
Bagi perempuan Desa Sukarara, menenun kini bukan sekadar merangkai benang menjadi kain. Di dalamnya ada ikhtiar menjaga tradisi, memperkuat ekonomi keluarga, dan menghadirkan manfaat bagi sesama.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.