Editor
DENPASAR, KOMPAS.com — Sebanyak 30 usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menjalani proses kurasi untuk masuk ke platform digital Haji dan Umrah Store melalui Bali Expo UMKM dan Ekosistem Ekonomi Haji dan Umrah 2026.
Langkah ini diharapkan membuka akses pemasaran produk untuk memenuhi kebutuhan jemaah.
Direktur Jenderal Pengembangan Ekosistem Ekonomi Haji dan Umrah (PE2HU) Kementerian Haji dan Umrah Jaenal Effendi mengatakan, peluang usaha dalam sektor tersebut mencakup beragam produk.
“Peluang ekonomi haji dan umrah tidak terbatas pada bumbu dan makanan siap saji, tetapi juga mencakup perlengkapan haji, pangan olahan, busana, kerajinan, hingga oleh-oleh. Potensi ini perlu dimanfaatkan untuk memperluas pasar produk UMKM,” ujar Jaenal di Denpasar, Minggu (11/10/2026).
Baca juga: Dibeli di Arab Saudi, Boneka Unta Oleh-oleh Haji Ternyata Buatan Indonesia
Bali Expo diikuti 58 pelaku usaha. Sekitar 70 persen di antaranya merupakan produsen.
Produk yang ditampilkan meliputi perlengkapan haji dan umrah, fesyen, kerajinan dan industri kreatif, makanan, minuman, serta layanan lainnya.
Berdasarkan catatan penyelenggara, kegiatan tersebut menghasilkan dampak ekonomi sekitar Rp1,45 miliar.
Nilai itu berasal dari aktivitas usaha dan sektor pendukung selama expo, termasuk transaksi tenant UMKM, akomodasi hotel, kuliner, serta pembelian oleh-oleh.
Dengan demikian, angka tersebut mencakup aktivitas ekonomi di luar transaksi produk UMKM di lokasi pameran.
Untuk memperluas jejaring usaha, Ditjen PE2HU juga memfasilitasi pertemuan bisnis yang melibatkan empat pelaku UMKM berpengalaman ekspor dengan peserta pameran.
Melalui sesi diskusi dan berbagi cerita, para pelaku usaha membahas pengalaman pengembangan bisnis serta kesiapan produk untuk menjangkau pasar yang lebih luas.
Baca juga: UMKM Bali Diajak Pasok Kebutuhan Jemaah Haji dan Umrah
Sementara itu, proses kurasi 30 UMKM untuk masuk ke Haji dan Umrah Store masih berlangsung.
Platform tersebut diharapkan memperluas pemasaran sekaligus memudahkan akses terhadap produk yang dibutuhkan dalam ekosistem haji dan umrah.
Jaenal mengatakan, perluasan pasar harus diikuti kesiapan produk dan kapasitas produksi.
Ia mendorong pembentukan konsorsium ekspor yang dikoordinasikan eksportir berpengalaman.
Langkah tersebut diarahkan untuk menjaga kualitas, kesinambungan pasokan, dan kepastian pasar.
Menurut Jaenal, hasil pameran perlu ditindaklanjuti agar peluang yang terbuka dapat berkembang menjadi kerja sama berkelanjutan.
“Apa yang telah kita capai hari ini adalah fondasi. Namun, fondasi saja tidak cukup. Kita membutuhkan komitmen berkelanjutan dari semua pihak untuk mewujudkan ekosistem haji dan umrah yang berdaya saing dan berkelanjutan,” katanya.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.