Editor
KOMPAS.com — Nama Yaman melekat pada salah satu sudut Ka'bah, yakni Rukun Yamani.
Bagi Rektor UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten M Ishom el Saha, nama itu menjadi pengingat akan jejak sejarah dan ikatan peradaban Yaman dengan Tanah Suci.
Dalam refleksi setelah sembilan hari berada di Tanah Suci, Ishom mengangkat keterkaitan tersebut untuk menyerukan perdamaian antara Houthi dan Arab Saudi serta perlindungan bagi warga sipil.
“Jangan biarkan nama Yaman yang melekat pada rukun Ka'bah dan bintang yang dirindukan itu justru dikelilingi oleh penderitaan,” tulis Ishom dikutip dari laman Kemenag, Senin (12/10/2026).
Baca juga: Doa antara Rukun Yamani dan Hajar Aswad, Lengkap dengan Arti dan Keutamaannya
Menurutnya, Yaman memiliki akar peradaban tua, tradisi keilmuan, jaringan perdagangan, dan warisan kebudayaan yang panjang.
Dalam ingatan sejarah Arab, negeri itu kerap dikaitkan dengan kemakmuran, kearifan, serta keteguhan masyarakatnya.
Ishom menjelaskan, Rukun Yamani terletak sebelum Hajar Aswad dalam arah perjalanan tawaf yang berlawanan dengan arah jarum jam.
Sudut Ka'bah itu dinamai Rukun Yamani karena menghadap ke arah Yaman, mengikuti tradisi penamaan geografis Arab.
“Bagi jamaah, Rukun Yamani bukan sekadar bagian bangunan suci, melainkan pengingat bahwa arah mata angin dapat menyimpan jejak sejarah dan ikatan peradaban,” tulisnya.
Dalam refleksinya, Ishom juga mengingatkan keutamaan penduduk Yaman melalui hadis Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan al-Bukhari dan Muslim tentang kelembutan hati mereka.
Ia menyebut mengusap Rukun Yamani merupakan sunah bagi jemaah yang memungkinkan untuk melakukannya, tanpa menyakiti atau berdesakan dengan jemaah lain.
Baca juga: Kemenhaj Minta Jemaah Umrah Hindari Lokasi Rawan di Arab Saudi
Selain Rukun Yamani, Ishom mengangkat Suhail al-Yamani, nama Arab bagi bintang Canopus yang memiliki tempat dalam tradisi pengamatan langit masyarakat Arab.
Menurutnya, kemunculan bintang tersebut dari arah selatan dikaitkan dengan Yaman, sekaligus menjadi penanda perubahan musim dan meredanya panas di sejumlah wilayah Jazirah Arab.
Ishom menggunakan peralihan musim itu sebagai perumpamaan bahwa konflik juga semestinya memiliki batas dan jalan keluar.
“Sebagaimana kemunculan Suhail menandai peralihan musim, konflik pun semestinya memiliki batas dan jalan keluar,” tulisnya.
Ia berharap warisan sejarah dan kebudayaan Yaman menjadi pengingat untuk mengutamakan kehidupan masyarakat yang terdampak konflik.
Baca juga: Dibeli di Arab Saudi, Boneka Unta Oleh-oleh Haji Ternyata Buatan Indonesia
Ishom menyebut kondisi Masjidil Haram dan Masjid Nabawi kondusif selama sembilan hari pengalamannya di Tanah Suci. Meski demikian, ia tetap merasakan kekhawatiran terhadap situasi keamanan kawasan.
Kekhawatiran itu mencakup kemungkinan kenaikan harga avtur yang berdampak pada harga tiket pesawat, hingga potensi gangguan keamanan terhadap penerbangan menuju Tanah Suci.
Menurutnya, ketegangan antara Houthi dan Arab Saudi turut menimbulkan kecemasan bagi umat Islam yang sedang beribadah maupun merencanakan perjalanan.
Mereka mengharapkan perjalanan yang tenang, penerbangan yang aman, serta kesempatan beribadah tanpa dibayangi kekhawatiran.
Ishom menegaskan, seruan perdamaian yang disampaikannya merupakan panggilan kemanusiaan dan persaudaraan agar perselisihan politik tidak terus membebani masyarakat.
“Senjata boleh menjadi bahasa kekuasaan, tetapi perdamaian semestinya menjadi bahasa kebijaksanaan,” tulisnya.
Ia menyerukan agar Houthi dan Arab Saudi membuka jalan dialog, melindungi warga sipil, serta mengutamakan masa depan generasi yang hidup dalam kecemasan.
“Sebab kemuliaan bangsa tidak diukur dari panjangnya konflik, melainkan dari keberanian mengakhirinya,” tulis Ishom.
“Biarkan jamaah datang ke Tanah Suci dengan tenteram, biarkan Yaman pulih, dan biarkan langit Arab kembali menjadi ruang harapan, bukan bayang-bayang peperangan," pungkasnya.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.