Editor
KOMPAS.com - Dalam kehidupan sehari-hari, berperang di jalan Allah, mempelajari dan mengajarkan Al-Qur'an, serta bersedekah merupakan amalan yang terlihat terpuji.
Namun, menurut hadis riwayat Muslim, tiga amalan tersebut justru bisa berujung siksaan di akhirat.
Baca juga: Apa Itu Riya? Pengertian, Contoh, Bahaya, dan Cara Menghindarinya
Hal ini terjadi ketika pelakunya melakukannya demi mendapatkan pujian dan pengakuan manusia, bukan semata-mata mengharapkan keridaan Allah SWT.
Seseorang bisa saja melakukan kebaikan sambil berharap mendapat pujian, dianggap saleh, atau diakui sebagai orang yang berilmu dan dermawan baik secara sengaja maupun tidak.
Keinginan mendapatkan pengakuan tersebut perlu diwaspadai apabila menjadi tujuan utama dalam beramal. Lantas, bagaimana penjelasannya?
Baca juga: 6 Perbuatan yang Diam-Diam Menghapus Pahala Muslim, Ghibah hingga Riya
Dilansir dari laman Muhammadiyah, dalam hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah RA dalam Sahih Muslim nomor 1905, diceritakan adanya tiga golongan yang pertama kali diadili pada hari kiamat.
Ketiga golongan tersebut mengaku telah melakukan amal kebaikan, tetapi Allah mengungkapkan niat yang mendasarinya.
Kisah ini menjadi peringatan tentang bahaya riya, yakni melakukan amal agar mendapat pujian atau pengakuan manusia.
Golongan pertama yang disebut dalam hadis adalah seseorang yang berperang di jalan Allah hingga gugur sebagai syahid. Allah memperlihatkan berbagai nikmat yang telah diberikan kepadanya, kemudian menanyakan apa yang telah dia lakukan dengan nikmat tersebut.
Orang itu menjawab bahwa dirinya telah berperang di jalan Allah hingga gugur sebagai syahid. Namun, Allah mengungkapkan bahwa tujuan sebenarnya adalah agar dirinya disebut sebagai orang yang pemberani.
Hadis tersebut menyebutkan:
قَالَ كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ قَاتَلْتَ لأَنْ يُقَالَ جَرِىءٌ. فَقَدْ قِيلَ.ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِىَ فِى النَّار
Allah berkata, “Engkau dusta, akan tetapi engkau melakukan itu supaya disebut sebagai seorang pemberani dan ucapan itu telah dilontarkan.” Akhirnya, dia diseret dengan wajahnya terjerembab di tanah dan dilemparkan ke dalam neraka.”
Kisah ini memperlihatkan bahwa pengorbanan yang tampak besar tidak menjamin seseorang mendapatkan balasan baik apabila niatnya menyimpang.
Perbuatan yang seharusnya ditujukan untuk mengharapkan keridaan Allah justru dilakukan demi memperoleh pengakuan manusia.
Golongan kedua adalah seseorang yang mempelajari ilmu agama, mengajarkannya, dan membaca Al-Qur'an. Ketika Allah menanyakan amal yang telah dilakukannya, dia menjawab bahwa dirinya telah belajar, mengajar, dan membaca Al-Qur'an karena Allah SWT.
Namun, Allah mengungkapkan bahwa orang tersebut melakukan semua itu agar dikenal sebagai orang alim dan seorang qari, bukan semata-mata untuk mengharapkan keridaan-Nya.
Dalam hadis tersebut disebutkan:
قَالَ كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِيُقَالَ عَالِمٌ. وَقَرَأْتَ الْقُرْآنَ لِيُقَالَ هُوَ قَارِئٌ. فَقَدْ قِيلَ ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِىَ فِى النَّارِ
Allah berkata, “Engkau dusta, akan tetapi engkau belajar agama supaya disebut orang alim dan engkau membaca Al Quran supaya disebut qari’ dan ucapan itu telah dilontarkan.” Seperti pejuang sebelumnya, dia pun diseret dengan wajahnya terjerembab di tanah dan dilemparkan ke dalam neraka.”
Kisah ini menjadi pengingat bagi orang yang menuntut ilmu agama, mengajar, maupun membaca Al-Qur'an agar senantiasa menjaga keikhlasan.
Ilmu agama dan ibadah seharusnya menjadi jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, bukan sarana untuk membangun popularitas atau mendapatkan pujian.
Golongan ketiga adalah seorang laki-laki yang memperoleh kelapangan rezeki dan berbagai macam harta dari Allah SWT. Ketika dimintai pertanggungjawaban, dia mengaku telah menginfakkan hartanya di berbagai jalan yang dicintai Allah.
Namun, Allah mengungkapkan bahwa orang tersebut bersedekah agar dikenal sebagai orang yang dermawan. Dengan demikian, amal yang dilakukannya tidak didasarkan pada keikhlasan untuk mengharapkan keridaan Allah SWT.
Hadis tersebut menyebutkan:
قَالَ كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ فَعَلْتَ لِيُقَالَ هُوَ جَوَادٌ. فَقَدْ قِيلَ ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ ثُمَّ أُلْقِىَ فِى النَّارِ
“Allah berkata, “Engkau dusta, akan tetapi engkau melakukan seperti itu supaya disebut dermawan dan ucapan itu telah dilontarkan.” Dan nasibnya pun sama, diseret dengan wajahnya terjerembab di tanah dan dilemparkan ke neraka.”
Kisah tersebut mengingatkan bahwa sedekah dan infak bukan hanya berkaitan dengan jumlah harta yang diberikan, tetapi juga niat di balik pemberian itu.
Berbagi kepada sesama seharusnya menjadi bentuk ketaatan kepada Allah SWT, bukan cara untuk memperoleh pujian atau membangun citra diri.
Riya dapat muncul ketika seseorang melakukan amal kebaikan untuk memperoleh pujian, pengakuan, atau kedudukan di mata manusia.
Keinginan tersebut bisa berkaitan dengan berbagai perbuatan, termasuk beribadah, menyampaikan ilmu agama, membantu orang lain, dan memberikan sedekah.
Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang perlu mengevaluasi niat ketika melakukan kebaikan. Misalnya, apakah dia membantu orang lain karena ingin meringankan beban mereka atau lebih mengutamakan pujian yang mungkin diterimanya.
Namun, memperlihatkan amal kebaikan tidak serta-merta berarti riya. Hal yang ditekankan dalam hadis tersebut adalah niat yang mendasari perbuatan, yakni ketika seseorang melakukan amal demi memperoleh pengakuan manusia.
Karena itu, hadis riwayat Muslim nomor 1905 mengingatkan setiap Muslim agar tidak hanya memperhatikan bentuk amal yang dilakukan, tetapi juga tujuan di baliknya. Keikhlasan menjadi hal penting agar amal kebaikan benar-benar ditujukan untuk mengharapkan keridaan Allah SWT.
Pada akhirnya, kisah tiga golongan tersebut menjadi pengingat bahwa penilaian manusia tidak selalu sejalan dengan penilaian Allah SWT.
Setiap Muslim perlu terus mengevaluasi niat dalam beribadah, menuntut ilmu, dan berbagi kepada sesama. Dengan menjaga keikhlasan, amal kebaikan diharapkan menjadi bentuk penghambaan kepada Allah, bukan sekadar jalan untuk mendapatkan pujian manusia.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.