KOMPAS.com - Bersedekah atas nama orang tua yang masih hidup dapat menjadi salah satu cara anak menunjukkan kasih sayang dan bakti kepada ayah serta ibu. Amalan ini dapat dilakukan dengan menyalurkan bantuan kepada orang yang membutuhkan sambil memohon kepada Allah SWT agar kebaikan tersebut membawa keberkahan bagi orang tua.
Namun, muncul pertanyaan apakah sedekah yang diniatkan atas nama orang tua yang masih hidup mendatangkan pahala bagi mereka. Untuk memahaminya, umat Islam perlu membedakan antara memberikan bantuan langsung kepada orang tua, bersedekah untuk orang lain, dan menghadiahkan pahala suatu amalan.
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 215:
يَسْـَٔلُونَكَ مَاذَا يُنْفِقُونَ قُلْ مَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ خَيْرٍ فَلِلْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ
Yas’alūnaka māżā yunfiqūn, qul mā anfaqtum min khairin falil-wālidayni wal-aqrabīna wal-yatāmā wal-masākīni wabnis-sabīli, wa mā taf‘alū min khairin fa innallāha bihī ‘alīm.
Baca juga: Apakah Ahli Waris Wajib Membayar Utang Orang yang Meninggal? Ini Penjelasannya
Artinya: “Mereka bertanya kepadamu (Nabi Muhammad) tentang apa yang harus mereka infakkan. Katakanlah, ‘Harta apa saja yang kamu infakkan, hendaknya diperuntukkan bagi kedua orang tua, kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, dan orang yang dalam perjalanan.’ Apa pun kebaikan yang kamu kerjakan, sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya.” (QS. Al-Baqarah: 215).
Ayat tersebut menempatkan orang tua sebagai salah satu pihak yang perlu diperhatikan ketika seseorang menginfakkan hartanya. Karena itu, anak dapat menunjukkan bakti melalui bantuan finansial, pemberian kebutuhan sehari-hari, atau sedekah yang bermanfaat bagi orang lain.
Kementerian Agama RI melalui Layanan Syariah Ditjen Bimas Islam menjelaskan bahwa bersedekah atas nama orang tua dapat dilakukan sebagai bentuk bakti, baik ketika orang tua masih hidup maupun setelah meninggal dunia. Dalam praktiknya, seseorang dapat menggunakan hartanya sendiri untuk bersedekah sambil memohon kebaikan bagi ayah dan ibunya.
Baca juga: Adzan Sebelum Masuk Waktu Subuh Disebut Apa? Ini Penjelasan Fungsi, Dalil, dan Hukumnya
Meski demikian, dalil yang secara eksplisit membahas sedekah atas nama orang lain dalam hadis sahih yang populer berkaitan dengan orang tua yang telah meninggal. Karena itu, hadis tersebut perlu dipahami sesuai konteksnya, bukan langsung dianggap sebagai riwayat khusus mengenai orang tua yang masih hidup.
Untuk orang tua yang masih hidup, landasan yang jelas ialah anjuran berbuat baik kepada mereka dan menginfakkan harta bagi orang tua. Adapun niat agar pahala sedekah turut diberikan kepada mereka merupakan persoalan yang dijelaskan dalam pandangan keagamaan. Anak dapat beramal dengan hartanya sendiri dan berdoa agar Allah menerima sedekah tersebut serta melimpahkan kebaikan kepada orang tuanya.
Rasulullah SAW bersabda:
إِذَا أَنْفَقَ الْمُسْلِمُ نَفَقَةً عَلَى أَهْلِهِ وَهْوَ يَحْتَسِبُهَا كَانَتْ لَهُ صَدَقَةً
Iżā anfaqal-muslimu nafaqatan ‘alā ahlihi wa huwa yaḥtasibuhā kānat lahu ṣadaqah.
Baca juga: Mengapa Memuliakan Kaum Duafa Bisa Menjadi Jalan Pertolongan Allah?
Artinya: “Apabila seorang Muslim membelanjakan suatu nafkah untuk keluarganya dengan mengharapkan pahala dari Allah, maka nafkah itu menjadi sedekah baginya.” (HR. Bukhari, 5351).
Hadis ini menjelaskan bahwa pengeluaran untuk keluarga dapat bernilai sedekah apabila disertai niat mengharap pahala dari Allah. Konteks hadis tersebut adalah nafkah kepada keluarga, bukan secara khusus menghadiahkan pahala sedekah kepada orang tua.
Meski demikian, hadis ini mengingatkan bahwa bakti tidak selalu harus diwujudkan melalui donasi kepada pihak lain. Membantu kebutuhan ayah dan ibu dengan tulus juga merupakan bentuk kebaikan yang bernilai ibadah.
Anak dapat menyalurkan sedekah melalui berbagai cara, seperti memberikan makanan kepada orang yang membutuhkan, membantu biaya pendidikan, menyumbangkan kebutuhan masjid, atau mendukung kegiatan sosial. Sedekah sebaiknya diberikan dari harta milik sendiri dan disalurkan kepada penerima yang tepat.
Baca juga: 3 Amalan Terpuji yang Justru Berujung Siksaan di Akhirat, Waspadai Riya
Ketika bersedekah, anak tidak harus mengucapkan formula niat tertentu. Niat dapat ditetapkan di dalam hati, kemudian disertai doa agar Allah menerima amal tersebut dan melimpahkan kebaikan kepada orang tua. Tidak ada bacaan khusus yang wajib diucapkan untuk praktik ini.
Bersedekah atas nama orang tua sebaiknya tidak membuat anak melupakan kebutuhan ayah dan ibu yang masih hidup. Jika mereka membutuhkan biaya pengobatan, makanan, tempat tinggal, atau bantuan sehari-hari, kebutuhan tersebut patut menjadi perhatian utama sesuai kemampuan anak.
Bakti juga dapat diwujudkan melalui waktu, perhatian, komunikasi, dan pendampingan. Dengan demikian, sedekah menjadi salah satu bentuk kasih sayang, bukan pengganti kewajiban untuk memperlakukan orang tua dengan baik.
Baca juga: PUI Kecam Serangan Houthi di Arab Saudi, Minta Pemerintah RI Lindungi Jemaah Umrah
Pada akhirnya, anak dapat bersedekah sambil mendoakan kebaikan bagi orang tua yang masih hidup. Lakukan dengan harta yang halal, niat tulus, dan tetap utamakan kebutuhan mereka. Dengan begitu, sedekah tidak hanya menjadi amal sosial, tetapi juga bagian dari ikhtiar berbakti kepada ayah dan ibu.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.