KOMPAS.com - Menegur seseorang yang melakukan kesalahan bukan perkara mudah. Teguran yang disampaikan dengan cara keliru dapat melukai perasaan, memicu pertengkaran, bahkan membuat orang yang dinasihati semakin sulit menerima masukan. Karena itu, Islam mengajarkan adab menasihati agar pesan kebaikan dapat disampaikan tanpa merendahkan martabat orang lain.
Nasihat idealnya bertujuan membantu seseorang menyadari kesalahan dan memperbaiki perilakunya, bukan mempermalukan atau menunjukkan bahwa pemberi nasihat merasa lebih baik. Oleh karena itu, umat Islam perlu memperhatikan pilihan kata, waktu, tempat, dan cara menyampaikan teguran agar tetap menjaga kehormatan orang yang dinasihati.
Allah SWT memerintahkan umat Islam untuk menyampaikan ajakan menuju kebaikan dengan cara yang bijaksana. Hal ini tercantum dalam Surah An-Nahl ayat 125:
Baca juga: Pelatihan AI Gratis untuk Guru Pesantren, Pendaftaran hingga 2 November 2026
اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۗ
Ud'u ilā sabīli rabbika bil-ḥikmati wal-mau'iẓatil-ḥasanati wa jādilhum billatī hiya aḥsan.
Artinya, “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik.” (QS. An-Nahl: 125).
Ayat tersebut menekankan pentingnya hikmah, pengajaran yang baik, dan cara berdialog yang santun. Dalam konteks menasihati, seseorang perlu mempertimbangkan keadaan orang yang diingatkan, termasuk bagaimana menyampaikan koreksi tanpa memancing permusuhan.
Bijaksana bukan berarti membiarkan kesalahan. Teguran tetap dapat disampaikan dengan jelas, tetapi tidak perlu disertai hinaan, ejekan, atau kata-kata yang menyerang harga diri seseorang.
Baca juga: Sering Lupa Saat Belajar, Amalkan Doa Ini
Rasulullah SAW juga mengajarkan pentingnya kelembutan dalam perkataan dan tindakan. Dalam hadis yang diriwayatkan Aisyah, beliau bersabda:
إِنَّ الرِّفْقَ لَا يَكُونُ فِي شَيْءٍ إِلَّا زَانَهُ وَلَا يُنْزَعُ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا شَانَهُ
Innar-rifqa lā yakūnu fī syai'in illā zānahu wa lā yunza'u min syai'in illā syānahu.
Artinya, “Sesungguhnya kelembutan tidaklah ada pada sesuatu melainkan ia akan menghiasinya, dan tidaklah dicabut dari sesuatu melainkan akan membuatnya buruk.” (HR. Muslim 2594a).
Hadis ini menunjukkan bahwa kelembutan merupakan bagian penting dari akhlak seorang Muslim. Ketika menegur, seseorang dapat menjelaskan kesalahan secara tegas tanpa membentak atau menggunakan kata-kata yang merendahkan.
Baca juga: Abu Dujanah, Sahabat Nabi yang Dikenal Berani di Medan Perang
Kelembutan juga bukan berarti teguran harus selalu terdengar lunak atau menghindari persoalan. Hal yang perlu dijaga adalah cara penyampaiannya tetap menghormati orang lain, sementara substansi kesalahan dijelaskan secara jujur dan proporsional.
Melansir dari laman NU Online dalam artikel menjelaskan pandangan ulama mengenai pentingnya menjaga kehormatan orang yang dinasihati. Nasihat secara tertutup dapat membantu seseorang menerima koreksi tanpa merasa dipermalukan di hadapan orang lain.
Dalam kehidupan sehari-hari, menegur teman di depan banyak orang berisiko membuatnya merasa diserang. Perhatian dapat beralih dari isi nasihat menjadi rasa malu atau keinginan membela diri. Akibatnya, pesan yang sebenarnya baik justru sulit diterima.
Baca juga: Khutbah Jumat Bahasa Jawa: Ngathahi Istighfar lan Tetulung Nalika Mangsa Ketiga
Meski demikian, situasi perlu dipertimbangkan. Jika kesalahan harus segera dihentikan untuk mencegah bahaya, teguran langsung mungkin diperlukan. Prinsipnya, pilih cara yang paling tepat untuk memperbaiki keadaan tanpa mempermalukan seseorang secara tidak perlu.
Sebelum menyampaikan nasihat, perhatikan kondisi orang yang akan ditegur. Mengajak bicara ketika seseorang sedang sangat marah, terburu-buru, atau berada dalam situasi penuh tekanan dapat membuat komunikasi tidak berjalan baik. Menunggu suasana lebih tenang bisa menjadi pilihan yang bijaksana.
Gunakan kalimat yang berfokus pada tindakan, bukan menyerang kepribadian. Daripada menyebut seseorang tidak bertanggung jawab, jelaskan perilaku yang perlu diperbaiki dan dampaknya. Cara ini membantu pembicaraan tetap terarah pada persoalan, bukan berubah menjadi pertengkaran pribadi.
Orang yang menasihati juga perlu memeriksa niatnya sendiri. Apakah teguran disampaikan karena ingin membantu, atau justru untuk melampiaskan kekesalan dan memperlihatkan kekurangan orang lain? Pertanyaan ini penting agar nasihat tidak berubah menjadi sarana merendahkan.
Baca juga: Dari Kepatuhan Menuju Kemaslahatan
Selain itu, pastikan informasi yang menjadi dasar teguran benar. Jangan langsung menyalahkan seseorang hanya berdasarkan kabar yang belum terverifikasi. Jika persoalannya belum jelas, tanyakan terlebih dahulu dengan tenang agar tidak terjadi kesalahpahaman.
Nasihat yang baik tidak selalu langsung diterima. Orang yang dinasihati mungkin membutuhkan waktu untuk memahami masukan atau memiliki penjelasan yang belum diketahui. Karena itu, berikan kesempatan kepadanya untuk berbicara dan hindari memaksakan kehendak melalui tekanan atau penghinaan.
Menegur tanpa merendahkan berarti menjaga keseimbangan antara keberanian mengingatkan dan penghormatan terhadap sesama. Sampaikan kesalahan secara jelas, pilih cara yang santun, dan arahkan pembicaraan pada perbaikan. Dengan demikian, nasihat tidak sekadar menjadi teguran, tetapi juga ikhtiar membangun hubungan yang lebih baik.
Baca juga: Khutbah Jumat Terbaru: Jangan Abai terhadap Penderitaan Korban Karhutla
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.