Penulis
KOMPAS.com – Rais Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 2026–2031, KH Imam Jazuli, menilai edukasi seks bagi ibu nyai dan ning penting untuk membangun keharmonisan rumah tangga sekaligus mendukung pengelolaan pesantren yang sehat dan aman.
Menurut Imam Jazuli, hubungan suami-istri tidak hanya berkaitan dengan kehidupan seksual, tetapi juga mencakup komunikasi, kesehatan mental, dan keharmonisan keluarga secara menyeluruh.
Hal itu disampaikannya saat membuka Workshop Edukasi Seks, Kesehatan Mental, dan Keharmonisan Rumah Tangga angkatan kedua bagi ibu nyai dan ning di Hotel Aston Serang, Banten, Minggu (18/10/2026).
Imam Jazuli yang juga pengasuh Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon, mengatakan gagasan penyelenggaraan workshop tersebut telah muncul sejak lama. Salah satu latar belakangnya adalah persoalan rumah tangga yang dinilainya dapat berpengaruh terhadap kehidupan dan pengelolaan pesantren.
“Sejak tahun 2015, saya buka open house untuk wali santri dan masyarakat umum. Itu saya lakukan setiap hari Jumat sore. Yang datang ternyata makin variatif kelas sosial, profesi, dan jabatannya, tak terkecuali pengasuh pesantren dari mana-mana. Dari dialog itulah saya paham bahwa hubungan suami-istri yang tidak selesai dapat berpengaruh ke pengelolaan pesantren,” kata Kiai Imam Jazuli dalam sambutannya dikutip dari keterangan tertulis, Rabu (21/10/2026).
Baca juga: Tema Hari Santri 2026 dan Panduan Peringatannya, dari Upacara hingga Kegiatan Pesantren
Ia menjelaskan, persoalan dalam hubungan suami-istri dapat berkelindan dengan masalah lain apabila tidak ditangani dengan baik.
“Ketika hubungan itu bermasalah, maka akibatnya berupa rangkaian masalah yang mengular dan kait mengait,” ujarnya.
Kiai Imam Jazuli mengatakan, sejak 2025 dirinya telah berinteraksi dengan lebih dari 5.000 kiai dari berbagai daerah di Indonesia yang mengikuti workshop pesantren transformatif di Pesantren Bina Insan Mulia.
Menurut dia, para pengasuh pesantren menghadapi tanggung jawab yang beragam, mulai dari mengurus santri, guru, dan fasilitas pendidikan hingga berkomunikasi dengan wali santri serta mengelola kehidupan keluarga.
Di tengah tanggung jawab tersebut, para kiai dan bu nyai juga membutuhkan ruang untuk memahami dan menyelesaikan persoalan rumah tangga mereka.
“Para kiai dituntut untuk menyelesaikan berbagai persoalan di pesantren, mulai dari santri, guru, bangunan, wali santri, hingga keluarga. Di saat yang sama, para kiai tidak bisa menjalani kehidupan sosial sebagaimana masyarakat biasa, maka ketika hubungan suami-istri bermasalah, masalah itu melahirkan masalah lain,” kata pria yang akrab disapa Kiai Imjaz ini.
Ia juga menceritakan pengalamannya menelaah 12 kasus yang ditangani kepolisian. Menurut dia, sembilan kasus di antaranya berkaitan dengan hubungan suami-istri yang tidak harmonis.
Imam menyebut kondisi yang ditemukan beragam, mulai dari pasangan yang telah pisah ranjang, hubungan yang terasa hambar, hingga pasangan yang sedang menjalani proses perceraian.
Namun, pengalaman tersebut disampaikannya sebagai pengamatan atas kasus-kasus yang ditelaahnya, bukan sebagai gambaran statistik seluruh kasus kekerasan atau penyimpangan seksual di pesantren.
“Karena itu, workshop ini ingin lebih memastikan bahwa para kiai dan bu nyai telah selesai dalam mengatasi masalah hubungan rumah tangga, sehingga pesantrennya aman dan perjuangan mereka membesarkan pesantren semakin nyaman,” ujarnya.
Workshop tersebut menghadirkan dua narasumber, yakni pakar psikologi Hena Rustiana dari Kesehatan Mental Indonesia dan seksolog dr Boyke Dian Nugraha.
Hena menyoroti hubungan antara kesehatan mental, komunikasi, dan kualitas keintiman pasangan. Menurut dia, kemampuan mengelola emosi, mengendalikan diri, serta berkomunikasi secara terbuka berperan penting dalam membangun hubungan suami-istri yang sehat.
Sementara itu, dr Boyke memberikan materi mengenai kehidupan seksual pasangan, termasuk variasi hubungan intim, orgasme, fantasi seksual, dan cara membangun kepuasan bersama.
Materi tersebut diarahkan untuk memberikan pemahaman kepada peserta mengenai kehidupan seksual dalam perkawinan, termasuk cara membicarakan kebutuhan dan persoalan yang selama ini dianggap tabu.
Salah seorang peserta, Nyai Heni dari Tangerang, menilai workshop tersebut memberinya ruang untuk memahami pentingnya membicarakan persoalan seksual secara terbuka dalam rumah tangga.
Peserta lainnya, Ning Indah dari Lebak, mengaku tertarik mempelajari variasi hubungan intim yang dibahas dalam kegiatan tersebut. Adapun Nyai Nena menyampaikan bahwa materi workshop membantunya memahami kehidupan seksual ketika memasuki masa menopause.
Workshop edukasi seks, kesehatan mental, dan keharmonisan rumah tangga angkatan kedua itu dikhususkan bagi ibu nyai dan ning di Provinsi Banten.
Panitia menyebut sebanyak 372 peserta hadir dalam kegiatan tersebut. Meski masa pendaftaran dan seleksi dibuka hanya beberapa hari sebelum acara, antusiasme peserta dinilai tinggi hingga menimbulkan antrean saat proses verifikasi data.
Angkatan pertama kegiatan serupa sebelumnya diselenggarakan bagi ibu nyai dan ning di Jawa Barat.
Penyelenggara menargetkan workshop tersebut dapat menjangkau 5.000 peserta di berbagai provinsi di Indonesia melalui kerja sama dengan jaringan hotel Aston.
Ketua Panitia Ubaydillah Anwar mengatakan seluruh kebutuhan penyelenggaraan, mulai dari tempat, akomodasi, transportasi, konsumsi, hingga kebutuhan narasumber, ditanggung oleh Imam Jazuli Foundation (IJF).
“IJF adalah lembaga non-profit yang bergerak untuk membantu berbagai bentuk kegiatan pemberdayaan, pelatihan, dan pengembangan pesantren, para kiai, guru, dai, santri, dan masyarakat berprestasi. IJF tidak menerima donasi sedekah, zakat, infak, dan wakaf dari luar,” kata Ubaydillah.
Baca juga: Susunan Upacara Hari Santri 2026 Resmi Kemenag untuk Madrasah dan Pesantren
Melalui kegiatan tersebut, penyelenggara berharap edukasi mengenai kesehatan mental, komunikasi pasangan, dan kehidupan seksual dapat menjadi bagian dari upaya memperkuat keharmonisan keluarga pengasuh pesantren.
Bagi Imam Jazuli, pembekalan tersebut penting agar para kiai dan bu nyai dapat menjalankan peran dalam keluarga sekaligus mengelola pesantren dengan lebih baik.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.