Editor
KOMPAS.com - Berikut adalah teks Khutbah Jumat tentang menghindari sikap pamer yang mengundang hasad yang disusun Subdit Kepustakaan Islam dikutip dari laman Simbi Kemenag.
Baca juga: Khutbah Jumat Muhammadiyah Hari Ini: Menjaga Kehormatan Orang Lain dengan Menutupi Aibnya
الْحَمْدُ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً وَسَلَامًا مُتَلَازِمَيْنِ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.
قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ:
وَلَا تُصَعِرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ.
Marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah Swt. dengan sebenar-benar takwa. Ketakwaan tidak hanya tampak dalam ibadah, tetapi juga tercermin dalam sikap hidup, akhlak, dan cara kita memperlakukan nikmat yang Allah anugerahkan kepada kita.
Jemaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Di era digital saat ini, manusia hidup dalam dunia yang serba terbuka. Apa yang dimiliki, dilakukan, bahkan dirasakan, dapat dengan mudah dipublikasikan. Di tengah kondisi ini, muncul fenomena yang dikenal dengan istilah flexing, yaitu memamerkan kekayaan, pencapaian, atau gaya hidup secara berlebihan.
Fenomena ini tidak sekadar menjadi gaya hidup, tetapi juga berkembang sebagai kecenderungan sosial yang membudaya. Banyak kajian menunjukkan bahwa dorongan untuk pamer sering muncul dari kebutuhan untuk diakui dan dihargai. Ketika seseorang merasa belum cukup dihargai, ia berusaha menunjukkan apa yang dimilikinya agar mendapatkan tempat di mata manusia. Namun, perilaku ini justru kerap menimbulkan masalah, baik bagi diri sendiri maupun dalam kehidupan sosial.
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,
Dalam pandangan Islam, perilaku ini sejatinya bukan hal baru. Islam telah lama mengingatkan umatnya tentang bahaya riya', ujub, dan takabur, yaitu beramal bukan karena Allah, tetapi untuk mendapatkan pujian manusia. Flexing hanyalah bentuk baru dari penyakit lama yang kini memperoleh ruang lebih luas dalam kehidupan modern.
Rasulullah saw. bersabda:
أَخْوَفُ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ الشَّرْكُ الأَصْغَرُ، قَالُوا: وَمَا الشَّرْكُ الْأَصْغَرُ؟ قَالَ: الرِّيَاءُ
"Perkara yang paling aku khawatirkan atas kalian adalah syirik kecil." Para sahabat bertanya: "Apakah itu?" Beliau menjawab: "Riya." (H.R. Ahmad)
Budaya pamer bukan hanya berpotensi merusak keikhlasan pelakunya, tetapi juga menimbulkan dampak sosial yang luas. Salah satunya adalah munculnya penyakit hasad atau iri dengki dalam hati orang lain. Hasad merupakan salah satu penyakit hati yang sangat berbahaya dalam ajaran Islam.
Secara sederhana, hasad adalah keinginan agar nikmat yang dimiliki orang lain hilang, baik nikmat tersebut berpindah kepada dirinya maupun tidak. Ketika seseorang terus-menerus mempertontonkan kelebihannya melalui flexing, tidak semua orang mampu menyikapinya dengan lapang dada.
Allah Swt. berfirman:
وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ
"Dari kejahatan orang yang dengki apabila dia dengki." (Q.S. Al-Falaq [113]: 5)
Penyakit hasad yang muncul dalam kehidupan sosial dapat merusak persaudaraan, menimbulkan kebencian dan permusuhan, bahkan menghapus pahala amal kebajikan. Karena itu, kita perlu menjaga diri dari perilaku yang mendorong kesombongan sekaligus berhati-hati agar tidak terjebak dalam iri dengki terhadap nikmat orang lain.
Jemaah yang berbahagia,
Islam mengajarkan kita untuk hidup sederhana, rendah hati, dan tidak berlebihan dalam menampilkan nikmat. Hidup sederhana bukan berarti seseorang tidak memiliki harta atau pengaruh di lingkungannya. Bisa jadi, orang yang menjalani gaya hidup sederhana justru memiliki harta dan aset berlimpah serta pengaruh yang besar. Namun, kesederhanaan merupakan pilihan untuk menjalankan anjuran agama.
Rasulullah saw. bersabda:
كُلُوا وَاشْرَبُوا وَتَصَدَّقُوا وَالْبَسُوا فِي غَيْرِ مَخِيلَةٍ وَلَا سَرَفٍ
"Makanlah, minumlah, bersedekahlah, dan berpakaianlah tanpa kesombongan dan tanpa berlebihan." (H.R. Bukhari)
Islam tidak melarang umatnya memiliki harta dan menikmati nikmat yang Allah berikan. Islam juga tidak melarang keindahan. Namun, keindahan tidak boleh berubah menjadi kesombongan atau ajang flexing.
Rasulullah saw. memperingatkan:
"Tidak akan masuk surga orang yang dalam hatinya ada kesombongan sebesar biji sawi," dan beliau menjelaskan, "Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia."
Karena itu, kebiasaan memamerkan nikmat bukan hanya berpotensi menumbuhkan sifat kibr atau kesombongan dalam diri, tetapi juga dapat memicu hasad di hati orang lain. Di sinilah letak persoalannya. Flexing bukan sekadar soal pamer, melainkan juga dampak yang ditimbulkannya, termasuk potensi tumbuhnya penyakit hati berupa hasad.
Jemaah yang dimuliakan Allah Swt.,
Oleh karena itu, ada beberapa sikap yang perlu kita tanamkan dalam menghadapi fenomena zaman sekarang, ketika banyak orang memamerkan kelebihannya di media sosial.
Pertama, meluruskan niat. Segala sesuatu yang kita lakukan hendaknya semata-mata karena Allah, bukan untuk dilihat atau mendapatkan pujian manusia. Ketika niat sudah lurus, kita tidak akan terdorong untuk menampilkan segala hal demi memperoleh pengakuan orang lain.
Kedua, menjaga kesederhanaan. Tidak semua yang kita miliki harus ditampilkan kepada publik. Kesederhanaan merupakan bentuk penjagaan diri sekaligus upaya menjaga hati orang lain agar tidak mudah terjerumus dalam rasa iri dan hasad.
Ketiga, bersyukur dalam diam. Ada nikmat yang justru lebih berkah ketika tidak diumbar. Tidak semua kebahagiaan perlu diumumkan kepada orang lain. Dalam diam, ada keikhlasan; dan dalam keikhlasan, ada keberkahan.
Keempat, membangun empati sosial. Kita harus menyadari bahwa tidak semua orang berada dalam kondisi yang sama. Apa yang kita tampilkan bisa menjadi beban bagi orang lain. Bahkan, hal itu berpotensi memicu hasad yang pada akhirnya menjadi dosa bagi orang yang dengki. Karena itu, kita perlu bijak dalam menampilkan nikmat agar tidak menyakiti atau merendahkan orang lain.
Hadirin rahimakumullah,
Flexing bukanlah cara untuk memperoleh penghormatan. Jangan sampai apa yang kita tampilkan justru menjadi sebab tumbuhnya penyakit hati pada orang lain. Jangan pula sampai nikmat yang seharusnya menjadi jalan untuk bersyukur berubah menjadi sebab munculnya dosa.
Mari kita ubah budaya pamer menjadi budaya syukur. Gunakan nikmat yang Allah berikan untuk kebaikan, bukan sekadar untuk membanggakan diri.
Semoga Allah menjaga hati kita dari hasad dan menjaga kita agar tidak menjadi sebab tumbuhnya hasad pada orang lain. Semoga Allah melindungi hati kita dari riya', ujub, takabur, dan hasad. Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang rendah hati, ikhlas, dan senantiasa memperoleh keberkahan dalam hidup. Amin.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَةِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ وَتَقَبَّلَ اللَّهُ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ وَاسْتَغْفِرُوا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَبِهِ نَسْتَعِينُ عَلَى أُمُورِ الدُّنْيَا وَالدِّينِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ، وَأَحُثُّكُمْ عَلَى طَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ.
قَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ.
وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ:
«اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ».
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ وَقَاضِي الْحَاجَاتِ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.
فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَاسْأَلُوهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.