KOMPAS.com - Sanad keilmuan menjadi salah satu tradisi penting dalam pendidikan pesantren. Sanad bukan sekadar daftar nama kiai dan ulama yang tersusun dari generasi ke generasi, melainkan keterangan tentang jalur penerimaan dan penyampaian ilmu dari seorang guru kepada muridnya hingga sumber keilmuan yang dirujuk.
Tradisi ini membantu santri mengenali asal pengetahuan agama yang dipelajari sekaligus menghargai proses belajar bersama guru. Dalam kajian hadis, sanad berperan penting untuk menelusuri para perawi. Di pesantren, konsep sanad juga dikenal dalam pembelajaran kitab dan silsilah keilmuan ulama.
Secara istilah, sanad dalam ilmu hadis merupakan rangkaian perawi yang menyampaikan riwayat hingga sampai kepada sumbernya. Dalam penggunaan yang lebih luas di lingkungan pesantren, sanad keilmuan merujuk pada keterhubungan guru dan murid dalam proses mempelajari serta meneruskan suatu ilmu.
Baca juga: Hari Santri 2026, Menag Siapkan 5 Program untuk Pesantren
Mengutip dari laman NU Online menjelaskan bahwa sanad kitab dapat menunjukkan jalur seorang ulama dalam menerima dan mempelajari karya tertentu hingga terhubung dengan pengarangnya. Dalam tradisi pesantren, sanad juga dapat dibacakan setelah suatu kitab selesai dikaji bersama guru.
Karena itu, sanad tidak cukup dipahami sebagai nama-nama yang dihafalkan. Hubungan tersebut berkaitan dengan proses belajar, sumber kitab, dan cara ilmu disampaikan. Rincian sanad pun dapat berbeda sesuai bidang ilmu dan jenis transmisi yang dibicarakan.
Sanad membantu menjelaskan dari siapa suatu riwayat atau pengetahuan diterima. Dalam ilmu hadis, identitas dan keadaan para perawi diteliti untuk menilai kualitas riwayat. Karena itu, keberadaan sanad tidak otomatis menjadikan setiap riwayat sahih; jalur dan para perawinya tetap perlu diperiksa.
Tradisi ini sejalan dengan perhatian ulama terhadap ketelitian dalam menyampaikan ilmu. Sanad menjadi salah satu cara untuk menelusuri sumber, bukan pengganti pemeriksaan isi atau penilaian ilmiah. Dalam konteks pembelajaran pesantren, keterhubungan dengan guru juga memungkinkan santri bertanya, mengklarifikasi pemahaman, dan mempelajari konteks suatu teks.
Baca juga: 99 Motor Banser Disiapkan Kawal Kirab Resolusi Jihad dari Jombang ke Surabaya
Rasulullah SAW menjelaskan keutamaan orang yang menempuh jalan untuk mencari ilmu. Dalam hadis yang diriwayatkan Abu Dawud dari Abu Darda RA, beliau bersabda:
Man salaka ṭarīqan yaṭlubu fīhi ‘ilman salakallāhu bihi ṭarīqan min ṭuruqil-jannah.
Artinya: “Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR Abu Dawud, nomor 3641).
Hadis tersebut menegaskan keutamaan perjalanan menuntut ilmu. Dalam tradisi pesantren, proses itu tidak hanya berlangsung melalui membaca kitab, tetapi juga melalui bimbingan guru yang membantu santri memahami istilah, konteks, dan penjelasan ulama.
Baca juga: Hari Santri 2026, Gus Kikin Ajak Hidupkan Resolusi Jihad untuk Lawan Kemiskinan
Sanad menjadi bagian dari tradisi yang menghubungkan proses belajar tersebut dengan sumber keilmuan sebelumnya.
Salah satu praktiknya berlangsung ketika kiai mengajarkan kitab melalui metode bandongan atau sorogan. Dalam bandongan, kiai membacakan dan menerangkan teks di hadapan para santri. Sementara itu, melalui sorogan, santri membaca kitab secara langsung di hadapan guru untuk diperiksa bacaan dan pemahamannya.
Dalam tradisi sejumlah pesantren, sanad kitab juga dibacakan setelah pembelajaran kitab selesai. Praktik ini menunjukkan jalur penerimaan kitab yang menghubungkan guru, ulama sebelumnya, hingga pengarang karya tersebut. Pelaksanaannya tidak selalu sama di setiap pesantren atau untuk semua jenis ilmu.
Sanad dapat membantu seseorang mengetahui sumber keilmuan yang dipelajari, tetapi keberadaan silsilah guru tidak otomatis membuktikan semua pendapat seseorang benar. Isi penjelasan, ketepatan pemahaman, dan rujukan yang digunakan tetap perlu diperiksa.
Baca juga: Santri di Era AI, Nasruddin Ingatkan Teknologi Alat Bantu, Bukan Pembimbing Spiritual
Hal ini penting ketika informasi keagamaan beredar luas melalui media sosial. Seseorang sebaiknya tidak hanya melihat gelar atau panjangnya silsilah guru, tetapi juga memperhatikan kompetensi, metode penjelasan, serta kesesuaian keterangan dengan sumber yang dapat dipertanggungjawabkan.
Sanad keilmuan menjadi salah satu cara pesantren merawat kesinambungan tradisi belajar Islam. Melalui hubungan guru dan murid, santri tidak hanya menerima materi, tetapi juga belajar menghormati proses pencarian ilmu dan memahami bahwa pengetahuan memiliki sumber serta sejarah penyampaian.
Pada akhirnya, sanad bukan sekadar rantai nama ulama yang dibacakan saat khataman kitab. Nilainya terletak pada proses belajar yang bertanggung jawab, ketelitian dalam menyampaikan ajaran, dan kesediaan untuk terus menguji pemahaman. Tradisi ini akan bermakna ketika keterhubungan dengan ulama terdahulu berjalan bersama penguasaan ilmu dan sikap rendah hati dalam belajar.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.