KOMPAS.com - Membaca zikir sebanyak 33 kali setelah sholat fardhu menjadi amalan yang lazim dilakukan umat Islam.
Bacaan tersebut terdiri dari tasbih, tahmid, dan takbir yang masing-masing diulang 33 kali, kemudian dilengkapi dengan kalimat tauhid agar genap menjadi 100.
Amalan ini bukan sekadar rutinitas untuk mengisi waktu setelah salat. Setiap bacaannya mengandung makna pengagungan kepada Allah, ungkapan syukur, dan pengakuan atas kebesaran-Nya.
Anjuran tersebut juga memiliki landasan hadis yang menjelaskan keutamaan zikir setelah salat.
Baca juga: Hari Santri 2026, Menag Siapkan 5 Program untuk Pesantren
Zikir yang umum diamalkan terdiri dari tiga bacaan. Pertama, سُبْحَانَ اللَّهِ (Subhanallah) sebanyak 33 kali, yang berarti Mahasuci Allah. Kedua, الْحَمْدُ لِلَّهِ (Alhamdulillah) sebanyak 33 kali, yang berarti segala puji bagi Allah. Ketiga, اللَّهُ أَكْبَرُ (Allahu Akbar) sebanyak 33 kali, yang berarti Allah Mahabesar.
Jika ketiganya dijumlahkan, terdapat 99 bacaan. Dalam hadis riwayat Abu Hurairah, Rasulullah SAW mengajarkan agar rangkaian tersebut disempurnakan dengan kalimat tauhid: La ilaha illallahu wahdahu la syarika lahu, lahul-mulku wa lahul-hamdu wa huwa ‘ala kulli syai’in qadir.
Artinya, tidak ada Tuhan selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, milik-Nya segala kerajaan dan pujian, serta Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Dengan demikian, rangkaian zikir tersebut berjumlah 100 bacaan.
Baca juga: Hari Santri 2026, Menag Siapkan 5 Program untuk Pesantren
Anjuran membaca zikir tersebut tercantum dalam hadis riwayat Abu Hurairah yang diriwayatkan Imam Muslim.
مَنْ سَبَّحَ اللَّهَ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ وَحَمِدَ اللَّهَ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ وَكَبَّرَ اللَّهَ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ فَتِلْكَ تِسْعَةٌ وَتِسْعُونَ وَقَالَ تَمَامَ الْمِائَةِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ غُفِرَتْ خَطَايَاهُ وَإِنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ
Man sabbahallaha fi duburi kulli salatin tsalatsan wa tsalatsina wa hamidallaha tsalatsan wa tsalatsina wa kabbarallaha tsalatsan wa tsalatsina, fa tilka tis‘atun wa tis‘una, wa qala tamamal-mi’ati la ilaha illallahu wahdahu la syarika lahu, lahul-mulku wa lahul-hamdu wa huwa ‘ala kulli syai’in qadir.
Artinya: “Siapa yang bertasbih kepada Allah setelah setiap sholat sebanyak 33 kali, memuji Allah sebanyak 33 kali, dan mengagungkan Allah sebanyak 33 kali, sehingga berjumlah 99, lalu menyempurnakannya menjadi 100 dengan membaca ‘Tidak ada Tuhan selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, milik-Nya kerajaan dan segala pujian, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu’, maka kesalahan-kesalahannya diampuni meskipun sebanyak buih di lautan.” (HR Muslim, nomor 597a).
Baca juga: Santri di Era AI, Nasruddin Ingatkan Teknologi Alat Bantu, Bukan Pembimbing Spiritual
Hadis ini menunjukkan besarnya keutamaan zikir setelah salat.
Namun, janji ampunan tersebut tidak seharusnya dipahami sebagai alasan untuk meremehkan dosa atau meninggalkan kewajiban lain.
Zikir tetap perlu disertai kesungguhan untuk bertobat dan memperbaiki perilaku.
Bacaan Subhanallah mengajarkan seorang Muslim untuk menyucikan Allah dari segala kekurangan.
Ketika mengucapkannya, seseorang diingatkan bahwa Allah memiliki kesempurnaan yang tidak dapat disamakan dengan makhluk.
Kesadaran ini membantu manusia menempatkan dirinya secara proporsional dan tidak mudah merasa paling benar.
Sementara itu, Alhamdulillah merupakan ungkapan pujian dan syukur atas nikmat Allah.
Syukur tidak berhenti pada ucapan, tetapi dapat diwujudkan melalui penggunaan nikmat secara bertanggung jawab, membantu sesama, dan tidak menganggap keberhasilan semata-mata hasil usaha pribadi.
Baca juga: Pengawasan Syariah Tak Cukup Sebatas Administrasi
Adapun Allahu Akbar menegaskan bahwa kebesaran Allah melampaui segala sesuatu.
Mengulanginya setelah salat dapat menjadi pengingat agar urusan dunia, pencapaian, maupun persoalan sehari-hari tidak membuat seseorang melupakan kewajibannya kepada Allah.
Al-Qur’an juga memerintahkan umat Islam untuk memperbanyak zikir. Allah berfirman dalam Surah Al-Ahzab ayat 41:
يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ ذِكْرًۭا كَثِيرًۭا
Yā ayyuhallażīna āmanużkurullāha żikran kaṡīrā.
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Ingatlah kepada Allah, dengan mengingat (nama-Nya) sebanyak-banyaknya.” (QS Al-Ahzab: 41).
Baca juga: Link Twibbon Hari Santri 2026 dari PBNU, Lengkap dengan Cara Pakainya
Ayat tersebut menegaskan pentingnya mengingat Allah secara konsisten.
Meskipun ayat ini tidak menetapkan jumlah 33 kali setelah salat, kandungannya sejalan dengan anjuran memperbanyak zikir. Adapun hitungan dan susunan bacaan setelah salat merujuk pada hadis Nabi.
Dalam hadis lain, terdapat susunan zikir setelah salat berupa tasbih 33 kali, tahmid 33 kali, dan takbir 34 kali. Artinya, amalan zikir setelah salat memiliki beberapa bentuk yang sama-sama bersumber dari riwayat hadis.
Dalam hadis riwayat Ka'b bin 'Ujrah, Rasulullah SAW menjelaskan salah satu susunan zikir setelah salat wajib.
مُعَقِّبَاتٌ لَا يَخِيبُ قَائِلُهُنَّ - أَوْ فَاعِلُهُنَّ - دُبُرَ كُلِّ صَلَاةٍ مَكْتُوبَةٍ ثَلَاثٌ وَثَلَاثُونَ تَسْبِيحَةً وَثَلَاثٌ وَثَلَاثُونَ تَحْمِيدَةً وَأَرْبَعٌ وَثَلَاثُونَ تَكْبِيرَةً
Mu‘aqqibātun lā yakhību qā’iluhunna (aw fā‘iluhunna) dubura kulli ṣalātin maktūbah: ṡalāṡun wa ṡalāṡūna tasbīḥatan, wa ṡalāṡun wa ṡalāṡūna taḥmīdatan, wa arba‘un wa ṡalāṡūna takbīratan.
Baca juga: Suriah Buka Kembali Masjid Berusia 1.300 Tahun Setelah 13 Tahun Tutup Imbas Perang
Artinya, “Ada sejumlah zikir yang apabila dibaca atau diamalkan setelah setiap salat wajib, orang yang mengamalkannya tidak akan merugi: 33 kali tasbih, 33 kali tahmid, dan 34 kali takbir.” (HR Muslim, nomor 596a).
Hadis ini menunjukkan bahwa zikir setelah salat memiliki beberapa susunan yang diajarkan Rasulullah SAW.
Karena itu, umat Islam dapat mengamalkan susunan 33 kali tasbih, 33 kali tahmid, dan 34 kali takbir, selain susunan 33 kali untuk setiap bacaan yang dilengkapi kalimat tauhid sebagaimana diriwayatkan dalam Sahih Muslim 597a.
Perbedaan tersebut tidak perlu menjadi alasan untuk saling menyalahkan. Umat Islam dapat mengamalkan susunan yang memiliki landasan riwayat, sembari memahami bacaan dan konteksnya.
Yang penting, zikir dilakukan dengan mengikuti tuntunan yang dapat dipertanggungjawabkan, bukan menganggap satu susunan sebagai satu-satunya bentuk yang sah.
Nahdlatul Ulama dalam pembahasan tentang keutamaan zikir setelah salat wajib mengingatkan pentingnya membiasakan diri berzikir dan berdoa seusai salat.
Amalan ini relatif ringan, tetapi membutuhkan ketekunan agar tidak ditinggalkan karena terburu-buru menjalani aktivitas berikutnya.
Baca juga: Suriah Buka Kembali Masjid Berusia 1.300 Tahun Setelah 13 Tahun Tutup Imbas Perang
Agar tidak sekadar menghitung bacaan, seorang Muslim dapat melafalkan zikir dengan tenang sambil memahami artinya.
Tasbih mengingatkan pada kesempurnaan Allah, tahmid menumbuhkan rasa syukur, dan takbir meneguhkan kesadaran akan kebesaran-Nya.
Pada akhirnya, zikir 33 kali setelah salat fardu merupakan kesempatan untuk menjaga hubungan dengan Allah setelah ibadah wajib selesai.
Membiasakannya secara istiqamah, memahami maknanya, dan menerapkan nilai-nilainya dalam kehidupan sehari-hari membuat zikir tidak berhenti sebagai rangkaian ucapan, tetapi menjadi pengingat dalam bersikap dan bertindak.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.