KOMPAS.com - Abdullah bin Amr bin Haram merupakan sahabat Nabi Muhammad SAW dari kalangan Ansar yang gugur dalam Perang Uhud.
Ia juga dikenal sebagai ayah Jabir bin Abdullah, sahabat yang meriwayatkan sejumlah hadis tentang kehidupan Rasulullah.
Nama Abdullah bin Amr bin Haram tercatat dalam kitab biografi sahabat karya Ibnu Sa'd dan Ibnu Hajar al-Asqalani.
Salah satu riwayat penting tentang dirinya terdapat dalam Sahih Muslim, yang menceritakan penghormatan Rasulullah terhadap Abdullah setelah ia gugur di medan perang.
Dalam At-Ṭabaqāt al-Kubrā, Ibnu Sa'd mencatat nama Abdullah bin Amr bin Haram bin Tsa'labah bin Haram bin Ka'b bin Ghanm bin Ka'b bin Salamah.
Ia memiliki kunyah Abu Jabir dan berasal dari Bani Salamah, salah satu kelompok Ansar di Madinah.
Baca juga: Kemenag Targetkan Transisi Ditjen Pesantren Tuntas Awal 2027
Abdullah merupakan bagian dari masyarakat Muslim Madinah yang mendukung perjuangan Rasulullah.
Putranya, Jabir bin Abdullah, kemudian dikenal sebagai salah satu perawi hadis yang banyak meriwayatkan ajaran Nabi.
Catatan biografi tersebut menempatkan Abdullah dalam generasi sahabat yang terlibat langsung dalam perjalanan awal Islam.
Namanya terutama dikenang melalui peristiwa Perang Uhud dan riwayat yang disampaikan oleh putranya.
Perang Uhud berlangsung pada tahun ketiga Hijriah di sekitar Gunung Uhud, dekat Madinah.
Pertempuran ini mempertemukan kaum Muslimin dengan pasukan Quraisy Makkah setelah kekalahan Quraisy dalam Perang Badar.
Baca juga: Hari Santri 2026, Menag Siapkan 5 Program untuk Pesantren
Dalam pertempuran tersebut, Abdullah bin Amr bin Haram gugur. Peristiwa itu menjadi kehilangan bagi keluarganya, termasuk Jabir yang kemudian meriwayatkan pengalamannya ketika melihat jenazah sang ayah.
Keterangan tentang gugurnya Abdullah juga menjadi dasar bagi sejumlah riwayat mengenai keutamaannya.
Salah satunya tercatat dalam Sahih Muslim, tepatnya pada bab tentang keutamaan Abdullah bin Amr bin Haram, ayah Jabir.
Dalam Sahih Muslim 2471b, Jabir bin Abdullah menceritakan bahwa ayahnya gugur dalam Perang Uhud.
Jabir hendak membuka kain yang menutupi wajah ayahnya sambil menangis, tetapi sejumlah orang melarangnya. Rasulullah tidak melarang Jabir menangis.
Hadis tersebut memuat sabda Rasulullah:
تَبْكِيهِ أَوْ لاَ تَبْكِيهِ مَا زَالَتِ الْمَلاَئِكَةُ تُظِلُّهُ بِأَجْنِحَتِهَا حَتَّى رَفَعْتُمُوهُ
Tabkīhi aw lā tabkīhi, mā zālatil-malā’ikatu tuẓilluhu bi-ajniḥatihā ḥattā rafa‘tumūhu.
Artinya: “Engkau boleh menangisinya atau tidak menangisinya. Para malaikat terus menaunginya dengan sayap mereka hingga kalian mengangkatnya.” (HR. Sahih Muslim 2471 b).
Baca juga: Hari Santri 2026, Gus Kikin Ajak Hidupkan Resolusi Jihad untuk Lawan Kemiskinan
Riwayat ini menggambarkan penghormatan yang disampaikan Rasulullah terhadap Abdullah setelah gugur.
Hadis tersebut juga menunjukkan bahwa kesedihan keluarga atas kehilangan orang yang dicintai tidak serta-merta dilarang, sebagaimana terlihat dari sikap Nabi terhadap Jabir.
Riwayat lain mengenai Abdullah tercatat dalam Sunan Ibnu Majah 2800. Dalam hadis yang diriwayatkan dari Jabir, Rasulullah menyampaikan kabar tentang apa yang dikatakan Allah kepada ayahnya setelah gugur dalam Perang Uhud.
يَا عَبْدِي، تَمَنَّ عَلَيَّ أُعْطِكَ
قَالَ: يَا رَبِّ، تُحْيِينِي فَأُقْتَلُ فِيكَ ثَانِيَةً
Yā ‘abdī, tamanna ‘alayya u‘ṭika.
Qāla: yā Rabbi, tuḥyīnī fa-uqtalu fīka ṡāniyatan.
Artinya: Allah berfirman, “Wahai hamba-Ku, mintalah kepada-Ku, niscaya Aku akan memberimu.” Abdullah menjawab, “Wahai Tuhanku, hidupkanlah aku kembali agar aku dapat gugur di jalan-Mu untuk kedua kalinya.”
Riwayat itu menceritakan bahwa Abdullah berharap dapat dihidupkan kembali agar bisa gugur sekali lagi di jalan Allah. Namun, ia diberi tahu bahwa orang yang telah meninggal tidak dikembalikan ke dunia.
Abdullah kemudian memohon agar kabar tentang keadaannya disampaikan kepada orang-orang yang ditinggalkannya.
Riwayat tersebut menghubungkan kisah Abdullah dengan pesan tentang kehidupan para syuhada.
Namun, kisah ini perlu disampaikan sesuai redaksi hadis dan tidak ditambahkan dengan percakapan atau detail lain yang tidak tercantum dalam sumber.
Baca juga: Link Twibbon Hari Santri 2026 dari PBNU, Lengkap dengan Cara Pakainya
Kisah Abdullah bin Amr bin Haram dikenang melalui dua hal yang saling berkaitan: pengorbanannya dalam Perang Uhud dan riwayat yang disampaikan putranya tentang keutamaannya.
Catatan Ibnu Sa'd dan Ibnu Hajar membantu menempatkan sosoknya dalam sejarah para sahabat, sedangkan hadis memberikan keterangan tentang peristiwa setelah ia gugur.
Kisah Abdullah mengingatkan bahwa sejarah para sahabat tidak hanya diwariskan melalui peran mereka ketika hidup, tetapi juga melalui riwayat yang merekam penghormatan Rasulullah terhadap mereka.
Karena itu, memahami kisahnya perlu berpijak pada sumber biografi dan hadis yang dapat ditelusuri.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.