Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Perjanjian Hudaibiyah, Kesepakatan Berat yang Berbuah Kemenangan

Kompas.com, 26 Oktober 2026, 15:16 WIB
Puji Sri Rahayu,
Farid Assifa

Tim Redaksi

Sumber Kemenag

KOMPAS.com - Perjanjian Hudaibiyah menjadi salah satu peristiwa penting dalam sejarah Islam ketika Nabi Muhammad SAW menerima kesepakatan damai yang dinilai berat sebelah oleh sebagian sahabat. Alih-alih memaksakan kehendak, Rasulullah memilih perundingan untuk menghindari pertumpahan darah.

Keputusan itu tidak mudah diterima. Kaum Muslim harus menunda umrah, menerima ketentuan pemulangan orang tertentu ke Makkah, dan menyetujui perubahan redaksi dalam dokumen perjanjian. Namun, kesepakatan pada tahun keenam Hijriah tersebut justru membuka jalan bagi perkembangan dakwah Islam.

Latar Belakang Perjanjian Hudaibiyah

Perjanjian Hudaibiyah berlangsung pada Dzulqa'dah tahun keenam Hijriah atau sekitar 628 Masehi. Saat itu, Rasulullah SAW bersama sekitar 1.400 sahabat berangkat menuju Makkah untuk menunaikan umrah, bukan untuk berperang. Namun, kaum Quraisy menghalangi rombongan memasuki kota tersebut.

Baca juga: Bagaimana Hukum Mahar Hafalan Al-Quran? Ini Ketentuannya dalam Islam

Melansir dari laman NU Online, perundingan kemudian dilakukan antara kedua pihak hingga tercapai kesepakatan damai. Perwakilan Quraisy, Suhail bin Amr, berunding dengan Rasulullah SAW di Hudaibiyah. Kesepakatan itu menjadi upaya menghentikan konflik yang telah berlangsung antara kaum Muslim dan Quraisy.

Isi Perjanjian yang Dinilai Merugikan

Salah satu ketentuan perjanjian adalah gencatan senjata selama sepuluh tahun. Kedua pihak juga menyepakati bahwa kaum Muslim tidak memasuki Makkah pada tahun itu dan baru boleh melaksanakan umrah pada tahun berikutnya, dengan kunjungan selama tiga hari.

Ketentuan lain yang memicu keberatan adalah pemulangan orang Quraisy yang datang kepada Nabi tanpa izin walinya, sementara orang Muslim yang berpindah ke pihak Quraisy tidak harus dikembalikan. Ketimpangan ini membuat sejumlah sahabat merasa kesepakatan tersebut tidak adil, terutama karena mereka telah menempuh perjalanan untuk beribadah.

Baca juga: 30 Contoh Penutupan MC Islami Singkat dan Penuh Doa

Sikap Nabi Saat Redaksi Perjanjian Dipersoalkan

Ketegangan juga muncul ketika Suhail menolak pencantuman frasa “Muhammad Rasulullah” dan meminta agar dokumen menggunakan nama “Muhammad bin Abdullah”. Rasulullah menerima perubahan tersebut demi menyelesaikan perundingan. Keputusan ini bukan berarti beliau melepaskan keyakinannya, melainkan membedakan kebenaran akidah dari redaksi administratif dalam kesepakatan.

Dalam Sahih al-Bukhari 2731, Rasulullah SAW menyatakan kesediaannya memenuhi permintaan Quraisy selama permintaan itu menghormati ketentuan Allah.

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَا يَسْأَلُونِي خُطَّةً يُعَظِّمُونَ فِيهَا حُرُمَاتِ اللَّهِ إِلَّا أَعْطَيْتُهُمْ إِيَّاهَا

Walladzī nafsī biyadihī, lā yas'alūnī khuṭṭatan yu'aẓẓimūna fīhā ḥurumātillāhi illā a'ṭaituhum iyyāhā.

Artinya: “Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, mereka tidak akan meminta kepadaku suatu ketentuan yang di dalamnya mereka menghormati hal-hal yang dimuliakan Allah, melainkan aku akan memenuhi permintaan mereka.” (Shahih Bukhari No. 2731)

Baca juga: 40 Ucapan Hari Sumpah Pemuda 2026 Bernuansa Islami, Cocok Dibagikan di Medsos

Sikap tersebut memperlihatkan bahwa beliau membuka ruang kompromi dalam urusan perjanjian, tetapi tetap menjadikan prinsip agama sebagai batasnya.

Al-Qur'an Menyebut Hudaibiyah sebagai Kemenangan

Allah berfirman dalam Surah Al-Fath ayat 1:

اِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُّبِيْنًا

Innā fataḥnā laka fatḥam mubīnā.

Artinya: “Sungguh, Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata.” (QS Al-Fath: 1).

Surah Al-Fath turun berkaitan dengan peristiwa Hudaibiyah. Sejumlah ulama tafsir memaknai kemenangan dalam ayat ini sebagai perdamaian tersebut karena kesepakatan itu membuka kesempatan dakwah dalam suasana yang lebih aman. Dengan berkurangnya konflik, hubungan antarkelompok dapat berkembang tanpa terus-menerus dibayangi peperangan.

Baca juga: 20 Model Gamis Batik Sederhana tapi Elegan dan Modern

Mengapa Rasulullah Memilih Perdamaian?

Rasulullah tidak hanya mempertimbangkan keuntungan sesaat, tetapi juga dampak jangka panjang. Gencatan senjata memberi ruang bagi masyarakat untuk mengenal Islam tanpa tekanan konflik bersenjata. Perjanjian itu juga memungkinkan suku-suku Arab menentukan keberpihakan melalui hubungan politik dan persekutuan.

Sikap tersebut menunjukkan bahwa kompromi tidak selalu berarti kekalahan. Dalam Hudaibiyah, Rasulullah menerima ketentuan yang terasa berat karena tujuan lebih besar, yaitu menjaga keselamatan umat dan membuka jalan dakwah. Beliau tidak menjadikan harga diri simbolis sebagai alasan untuk menggagalkan perdamaian.

Hikmah Perjanjian Hudaibiyah bagi Kehidupan

Perjanjian Hudaibiyah mengajarkan pentingnya menilai keputusan berdasarkan dampak jangka panjang, bukan hanya keuntungan langsung. Kesepakatan yang tampak tidak menguntungkan pada awalnya dapat membuka peluang lebih besar apabila disusun dengan pertimbangan matang dan tujuan yang jelas.

Baca juga: Masjid Ramah Musafir, dari Tempat Singgah hingga Penggerak Ekonomi Umat

Dalam kehidupan sehari-hari, teladan ini relevan ketika menghadapi perselisihan keluarga, pekerjaan, atau masyarakat. Mengalah dalam hal yang tidak menyentuh prinsip utama bukan berarti kehilangan pendirian. Sebaliknya, kemampuan berunding, menjaga komitmen, dan menghindari konflik yang tidak perlu dapat menjadi jalan menuju kemaslahatan bersama.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar