Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Cemburu Anak Lebih Dekat dengan Kakek-Nenek? Begini Menyikapinya dalam Islam

Kompas.com, 27 Oktober 2026, 10:03 WIB
Reni Susanti

Editor


KOMPAS.com — Kedekatan anak dengan kakek-nenek terkadang menimbulkan kecemburuan orangtua.

Anak bisa lebih memilih bermain, menyampaikan keinginan, bahkan mengadukan persoalannya kepada kakek atau nenek dibandingkan kepada ayah dan ibunya.

Alumnus PP Nurul Cholil sekaligus Perumus LBM Nurul Cholil, Syifaul Qulub Amin, menjelaskan bahwa perasaan tersebut manusiawi.

Namun, orang tua perlu menyikapinya secara bijak agar tidak mengganggu keharmonisan keluarga.

Baca juga: Bantu Teman Tuli Belajar Islam, Kemenag Kembangkan KOSMIN dan RISE

Dalam uraiannya, pengajar di Pondok Pesantren Putri Al-Masyhuriyah Kebonan, Bangkalan, itu mengingatkan bahwa orang tua tidak perlu merasa tersaingi selama kedekatan anak dengan kakek-nenek membawa pengaruh positif.

Kasih sayang, kesabaran, dan perhatian yang diberikan kakek-nenek justru dapat menjadi bahan introspeksi untuk membangun hubungan yang lebih hangat dengan anak.

Mengapa anak nyaman bersama kakek-nenek?

Dikutip dari NU Online, Syifaul mengatakan, kedekatan anak dengan kakek-nenek bukan hal baru dalam kehidupan keluarga.

Selain kasih sayang, hubungan tersebut dapat dipengaruhi oleh suasana yang nyaman, kebersamaan yang berkualitas, serta sikap kakek-nenek yang cenderung sabar dan tenang.

Anak yang merasa nyaman dapat memilih mendatangi kakek-nenek ketika menginginkan sesuatu atau membutuhkan tempat bercerita.

Keadaan tersebut terkadang memunculkan kecemburuan orang tua. Namun, selama hubungan itu memberikan pengaruh positif, orang tua tidak perlu menyikapinya secara berlebihan.

Baca juga: Bagaimana Hukum Mahar Hafalan Al-Quran? Ini Ketentuannya dalam Islam

Memahami rasa cemburu dalam Islam

Syifaul menjelaskan bahwa rasa cemburu dapat muncul dalam hubungan keluarga, termasuk ketika orang tua melihat anak lebih dekat dengan kakek-neneknya.

Dalam pembahasannya, ia mengutip hadis riwayat Imam Muslim:

وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَغَارُ، وَالْمُؤْمِنُ يَغَارُ، وَغِيْرَةُ اللَّهِ تَعَالَى أَنْ يَأْتِيَ الرَّجُلُ الْمُؤْمِنُ مَا حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ

Artinya, “Rasulullah SAW bersabda, ‘Allah memiliki cemburu. Orang mukmin pun cemburu. Cemburu Allah adalah ketika seorang mukmin melakukan larangan yang diharamkan oleh-Nya’.” (HR Imam Muslim).

Sifat cemburu yang dinisbatkan kepada Allah dalam hadis tersebut dipahami sesuai dengan keagungan-Nya dan tidak disamakan dengan kecemburuan manusia.

Adapun dalam hubungan keluarga, munculnya rasa cemburu perlu disikapi dengan mempertimbangkan alasan dan pengaruhnya terhadap hubungan antaranggota keluarga.

Cemburu terpuji dan tercela

Syifaul merujuk penjelasan Syekh Zainuddin Al-Munawi mengenai dua macam kecemburuan, yakni yang terpuji dan tercela.

Al-Munawi menjelaskan:

فَإِنَّ غِيْرَةَ الْعَبْدِ عَلَى مَحْبُوبِهِ نَوْعَانِ: مَمْدُوحَةٌ يُحِبُّهَا اللَّهُ تَعَالَى وَهِيَ مَا كَانَ عِنْدَ قِيَامِ رِيبَةٍ، وَمَذْمُومَةٌ يَكْرَهُهَا وَهِيَ مَا كَانَ عِنْدَ عَدَمِهَا بَلْ بِمُجَرَّدِ سُوءِ الظَّنِّ، وَهَذِهِ تُفْسِدُ الْحِيْبَ وَتُوقِعُ الْعَدَاوَةَ بَيْنَ الْمُحِبِّينَ.

Artinya, “Cemburunya hamba terhadap orang yang dicintainya itu ada dua macam. Pertama, cemburu terpuji yang disenangi oleh Allah SWT. Yaitu merujuk pada setiap cemburu saat ada indikator.

“Dan kedua, cemburu tercela yang dibenci oleh-Nya. Yaitu merujuk pada setiap cemburu tanpa adanya indikator. Ia hanya berangkat dari prasangka buruk. Cemburu macam ini bisa merusak tali kekerabatan dan dapat menyebabkan permusuhan di antara dua kekasih.” (Syekh Zainuddin Al-Munawi, Faidhul Qadir, Mesir: Maktabah at-Tijariyah al-Kubra, 1356 H, jilid II, hlm. 294).

Dalam konteks hubungan orang tua dan anak, Syifaul mengajak orang tua menilai apakah kecemburuan itu didasari persoalan yang jelas atau sekadar prasangka buruk.

Apabila anak dekat dengan kakek-nenek karena mendapatkan kasih sayang, kesabaran, dan perhatian, orang tua dapat menjadikannya sebagai bahan introspeksi.

Sikap positif kakek-nenek dapat menjadi teladan untuk membangun hubungan yang lebih hangat dengan anak. Sebaliknya, kecemburuan yang bertumpu pada prasangka buruk perlu dihindari karena berpotensi memicu konflik keluarga.

Bersikap proporsional saat cemburu

Syifaul juga merujuk penjelasan Imam Al-Ghazali mengenai pentingnya bersikap proporsional dalam menghadapi kecemburuan:

الاِعْتِدَالُ فِي الْغِيْرَةِ وَهُوَ أَنْ لَا يَتَغَافَلَ عَنْ مَبَادِئِ الْأُمُورِ الَّتِي تُخْشَى غَوَائِلُهَا وَلَا يُبَالِغَ فِي إِسَاءَةِ الظَّنِّ وَالتَّعَنْتِ وَتَجَسُّسِ الْبَوَاطِنِ

Artinya, “Proporsional dalam cemburu, yaitu tidak lupa terhadap prinsip-prinsip yang dikhawatirkan terjadi kerusakan dan tidak berlebihan dalam buruk sangka, (berlebihan) mencari kesalahan, dan mengintai hal-hal yang bersifat rahasia.” (Ihya’ Ulumiddin, Beirut: Darul Ma’rifah, t.t., jilid II, hlm. 45).

Merujuk penjelasan tersebut, orang tua perlu menjaga keseimbangan antara kepedulian terhadap anak dan pengendalian prasangka.

Orang tua tetap perlu memperhatikan hubungan serta pengasuhan anak, tetapi tidak berlebihan dalam mencurigai kedekatannya dengan anggota keluarga lain.

Dorongan memperbaiki pengasuhan

Menurut Syifaul, kecemburuan ketika anak lebih dekat dengan kakek-nenek dapat diarahkan menjadi dorongan untuk meningkatkan kualitas pengasuhan.

Orang tua dapat memperkuat hubungan melalui perhatian, kebersamaan yang berkualitas, dan suasana komunikasi yang membuat anak nyaman bercerita.

Perhatian tersebut juga mencakup pendidikan, kesehatan fisik dan mental, serta penanaman kemandirian sebagai bekal masa depan.

Selama kedekatan dengan kakek-nenek membawa pengaruh positif, kasih sayang mereka dapat menjadi dukungan bagi orang tua dalam mendampingi tumbuh kembang anak.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
Sumpah Pemuda, Belajar Keteguhan Prinsip dari Kisah Ashabul Kahfi
Sumpah Pemuda, Belajar Keteguhan Prinsip dari Kisah Ashabul Kahfi
Aktual
Dua Putra Menhaj Irfan Yusuf Mundur dari Tenaga Ahli usai Tuai Polemik
Dua Putra Menhaj Irfan Yusuf Mundur dari Tenaga Ahli usai Tuai Polemik
Aktual
Cemburu Anak Lebih Dekat dengan Kakek-Nenek? Begini Menyikapinya dalam Islam
Cemburu Anak Lebih Dekat dengan Kakek-Nenek? Begini Menyikapinya dalam Islam
Aktual
Hilman Latief Ungkap Kunci Ketahanan Keuangan Muhammadiyah
Hilman Latief Ungkap Kunci Ketahanan Keuangan Muhammadiyah
Aktual
40 Contoh Penutup Pidato Islami Singkat dan Berkesan
40 Contoh Penutup Pidato Islami Singkat dan Berkesan
Aktual
Nu’aim bin Mas’ud, Sahabat Nabi yang Meretakkan Koalisi dalam Perang Khandaq
Nu’aim bin Mas’ud, Sahabat Nabi yang Meretakkan Koalisi dalam Perang Khandaq
Aktual
Beasiswa Santri ke Malaysia Dibuka 27–29 Oktober 2026, Ini Syaratnya
Beasiswa Santri ke Malaysia Dibuka 27–29 Oktober 2026, Ini Syaratnya
Aktual
Dugaan Penipuan Berkedok Agama di Bangkalan, MUI Minta Warga Tak Mudah Percaya
Dugaan Penipuan Berkedok Agama di Bangkalan, MUI Minta Warga Tak Mudah Percaya
Aktual
PK-Tren Apresiasi Festival Sarung dan Peci Santri, Dinilai Bisa Gerakkan Ekonomi Kreatif
PK-Tren Apresiasi Festival Sarung dan Peci Santri, Dinilai Bisa Gerakkan Ekonomi Kreatif
Aktual
Bantu Teman Tuli Belajar Islam, Kemenag Kembangkan KOSMIN dan RISE
Bantu Teman Tuli Belajar Islam, Kemenag Kembangkan KOSMIN dan RISE
Aktual
Dari 2 Hektar Sawah Wakaf, Baitul Arqom Kembangkan Lahan Produktif untuk Pendidikan
Dari 2 Hektar Sawah Wakaf, Baitul Arqom Kembangkan Lahan Produktif untuk Pendidikan
Aktual
Kemenag Siapkan 15 Program Kerukunan, dari Nikah Akbar hingga Masjid Ramah Pemudik
Kemenag Siapkan 15 Program Kerukunan, dari Nikah Akbar hingga Masjid Ramah Pemudik
Aktual
Contoh Kultum Hari Sumpah Pemuda 2026: Pemuda Muslim Penjaga Persatuan
Contoh Kultum Hari Sumpah Pemuda 2026: Pemuda Muslim Penjaga Persatuan
Aktual
7 Golongan yang Mendapat Naungan Allah pada Hari Kiamat, Siapa Saja?
7 Golongan yang Mendapat Naungan Allah pada Hari Kiamat, Siapa Saja?
Aktual
Contoh Teks Amanat Pembina Upacara Sumpah Pemuda 2026 Singkat untuk Guru Madrasah
Contoh Teks Amanat Pembina Upacara Sumpah Pemuda 2026 Singkat untuk Guru Madrasah
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar