Editor
KOMPAS.com - Berikut adalah teks Khutbah Jumat tentang mental pemuda produktif dalam berkarya, yang disusun Subdit Kepustakaan Islam seperti dikutip dari laman Simbi Kemenag.
Baca juga: Khutbah Jumat 30 Oktober 2026: Pemuda sebagai Pemimpin Masa Kini dan Masa Depan
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِيَ بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,
Momentum Sumpah Pemuda bisa kita gunakan mengoreksi arah hidup: apakah masa muda digunakan untuk belajar dan berkarya, atau justru habis untuk rebahan, menggulir layar media sosial, dan menunda pekerjaan?
Salah satu tantangan pemuda saat ini adalah penggunaan layar yang seolah tidak pernah berakhir. Sebuah meta-analisis yang diterbitkan pada 2025 dalam Frontiers in Psychiatry merangkum 21 studi kohort dengan 548.338 peserta. Hasilnya menunjukkan bahwa tambahan waktu layar berkaitan dengan waktu tidur yang semakin mundur dan meningkatnya risiko tidur singkat.
Teknologi bukanlah musuh. Persoalan muncul ketika kita tidak mampu mengendalikannya. Malam dihabiskan bersama layar, pagi sulit bangun, siang kehilangan fokus, tugas terus ditunda, lalu tubuh memilih rebahan.
Niatnya membuka media sosial selama lima menit, tetapi tahu-tahu satu jam berlalu. Kita hafal drama kehidupan orang lain, tetapi lupa menyusun masa depan sendiri. Kita sibuk melihat pencapaian orang lain, tetapi malas memulai langkah pertama. Kita ingin hasil yang cepat, tetapi tidak sabar menjalani proses.
Inilah yang disebut budaya kaum rebahan: kemalasan dijadikan kebiasaan, penundaan menjadi gaya hidup, dan kata "nanti" dijadikan tempat bersembunyi dari tanggung jawab.
Jemaah salat Jumat rahimakumullah,
Namun, kita harus bersikap adil. Tidak setiap orang yang beristirahat adalah pemalas. Ada yang sedang kelelahan, menghadapi tekanan hidup, sulit memperoleh pekerjaan, atau kehilangan semangat setelah berkali-kali mengalami kegagalan. Islam tidak mengajarkan kita untuk menghakimi orang yang sedang lelah.
Istirahat berfungsi memulihkan tenaga, sedangkan kemalasan dapat mematikan potensi. Rebahan boleh menjadi jeda, tetapi jangan sampai menjadi cara hidup.
Rasulullah saw. bersabda:
نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ.
Artinya: "Dua nikmat yang banyak manusia tertipu di dalamnya, yaitu kesehatan dan waktu luang." (H.R. al-Bukhari).
Masa muda merupakan masa ketika tubuh masih kuat, pikiran cepat belajar, dan kesempatan terbuka luas. Namun, masa ini tidak berlangsung selamanya. Waktu yang telah berlalu tidak dapat diulang, dan usia yang telah terlewati tidak bisa diatur ulang. Karena itu, jangan sampai masa muda hanya meninggalkan jejak tontonan, permainan, dan rencana yang tidak pernah diwujudkan.
Jemaah yang dirahmati Allah,
Produktif dalam Islam bukan berarti memenuhi hidup dengan kesibukan. Jadwal bisa padat, tetapi hidup tetap tidak terarah. Pekerjaan bisa menumpuk, tetapi salat, keluarga, kesehatan, dan kejujuran justru terabaikan.
Produktif dalam Islam berarti mengubah waktu, tenaga, ilmu, dan kesempatan menjadi amal yang diridai Allah dan bermanfaat bagi sesama. Bukan sekadar banyak bergerak, melainkan memastikan arah yang benar; bukan hanya menghasilkan sesuatu, melainkan juga memastikan hasilnya halal dan membawa kebaikan.
Al-Qur'an memberikan teladan melalui kisah Nabi Musa a.s. Ketika tiba di Madyan, beliau belum memiliki pekerjaan, tempat tinggal, ataupun bekal yang memadai. Namun, ketika melihat dua perempuan mengalami kesulitan memberi minum ternaknya, Musa tidak tinggal diam dengan alasan bahwa dirinya juga sedang mengalami kesulitan.
Allah Swt. berfirman:
فَسَقَى لَهُمَا ثُمَّ تَوَلَّى إِلَى الظِّلِّ.
Artinya: "Maka, dia (Musa) memberi minum (ternak) kedua perempuan itu. Dia kemudian berpindah ke tempat yang teduh." (Q.S. Al-Qasas [28]: 24).
Kisah ini mengajarkan bahwa kesulitan pribadi tidak seharusnya mematikan inisiatif, kepekaan sosial, dan kemauan untuk memberikan manfaat. Setelah menyaksikan kemampuan Musa, salah seorang perempuan tersebut berkata:
إِنَّ خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ الْقَوِيُّ الْأَمِينُ.
Artinya: "Sesungguhnya sebaik-baik orang yang engkau pekerjakan adalah orang yang kuat lagi dapat dipercaya." (Q.S. Al-Qasas [28]: 26).
Para mufasir menjelaskan bahwa al-qawiyy tidak hanya berkaitan dengan kekuatan fisik, tetapi juga kemampuan yang sesuai dengan pekerjaan. Adapun al-amin berarti jujur, bertanggung jawab, dan tidak menyalahgunakan kepercayaan.
Inilah dua karakter penting pemuda produktif, yaitu kompeten dan berintegritas. Semangat tanpa kemampuan hanya akan menghasilkan kegaduhan. Sebaliknya, kemampuan tanpa integritas dapat melahirkan pengkhianatan. Umat membutuhkan pemuda yang terampil, tajam pikirannya, dan bersih hatinya.
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,
Lalu, bagaimana cara keluar dari mentalitas kaum rebahan?
Pertama, jaga waktu sebelum waktu meninggalkan kita.
Jangan serahkan jam-jam terbaik dalam hidup kepada kebiasaan menggulir layar tanpa tujuan, menonton secara berlebihan, dan menunda pekerjaan. Mulailah tanpa harus menunggu merasa sempurna. Bacalah satu halaman buku, latihlah satu keterampilan, atau selesaikan satu tugas.
Konsistensi dalam langkah kecil lebih berharga daripada semangat besar yang hanya bertahan sesaat.
Kedua, kuatkan kemampuan.
Jangan hanya menjadi penonton. Kurangi waktu untuk sekadar mengonsumsi informasi dan tambahlah waktu untuk menciptakan sesuatu. Setelah belajar, tulislah. Setelah menguasai keterampilan, berkaryalah. Setelah memahami sesuatu, ajarkan dengan cara yang baik.
Jangan hanya bertanya, "Konten apa yang menarik hari ini?" Tanyakan juga, "Manfaat apa yang saya hasilkan hari ini?"
Allah Swt. berfirman:
وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَى.
Artinya: "Bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya." (Q.S. An-Najm [53]: 39).
Ayat ini menegaskan pentingnya usaha dalam kehidupan manusia. Namun, Islam tidak mengajarkan bahwa kerja keras selalu otomatis menghasilkan kesuksesan duniawi. Manusia berkewajiban bersungguh-sungguh, sedangkan hasil akhirnya berada dalam ketetapan dan hikmah Allah.
Ketiga, jaga amanah.
Produktif bukan hanya soal kecepatan, tetapi juga ketepatan. Bukan sekadar menyelesaikan pekerjaan, melainkan melakukannya dengan jujur. Jangan mengejar prestasi dengan menyontek, membangun usaha dengan menipu, atau mencari popularitas dengan merendahkan orang lain.
Karya besar yang dibangun tanpa amanah justru dapat menimbulkan masalah besar.
Keempat, jadikan ibadah sebagai sistem hidup.
Salat melatih kedisiplinan waktu. Puasa melatih pengendalian diri. Al-Qur'an memberikan arah, sedangkan doa menjaga hati agar tetap bergantung kepada Allah. Produktivitas tanpa iman dapat melahirkan kesibukan yang kosong. Sebaliknya, iman tanpa usaha dapat dijadikan alasan untuk bersikap pasif.
Karena itu, marilah kita senantiasa memohon pertolongan Allah Swt. Rasulullah saw. mencontohkan doa berikut:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ.
Artinya: "Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan dan kemalasan." (H.R. al-Bukhari dan Muslim).
Hadirin yang dimuliakan Allah,
Rebahan boleh menjadi jeda, tetapi jangan menjadikannya cara hidup. Jangan biarkan masa muda habis hanya untuk menyaksikan orang lain membangun masa depannya.
Umat ini tidak kekurangan komentar. Umat ini membutuhkan karya. Bangsa ini tidak hanya membutuhkan pemuda yang pandai menunjukkan masalah, tetapi juga pemuda yang berani menjadi bagian dari penyelesaiannya.
Bangunlah dari kebiasaan menunda. Bangunlah dari rasa takut gagal. Bangunlah dari kenyamanan yang mematikan potensi.
Semoga Allah Swt. menjadikan kita pemuda yang produktif, bukan kaum rebahan. Amin.
بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا كَمَا أَمَرَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، اتَّقُوا اللَّهَ تَعَالَى، وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيهِ بِنَفْسِهِ، وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ، وَثَلَّثَ بِكُمْ أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ، فَقَالَ عَزَّ مِنْ قَائِلٍ عَلِيمًا:
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ فِي الْعَالَمِينَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ.
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ شَبَابَ الْمُسْلِمِينَ، وَاحْفَظْ أَوْقَاتَهُمْ، وَبَارِكْ فِي أَعْمَارِهِمْ، وَقَوِّ عَزَائِمَهُمْ، وَاجْعَلْهُمْ نَافِعِينَ لِدِينِهِمْ وَأُمَّتِهِمْ وَأَوْطَانِهِمْ.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَنَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَعَمَلًا صَالِحًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.
فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.