Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ketum GP Ansor Dorong Perguruan Tinggi Bukan Sekadar Cetak Sarjana

Kompas.com, 2 November 2026, 14:25 WIB
Farid Assifa

Penulis

KOMPAS.com - Ketua Umum Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda (GP) Ansor, Addin Jauharudin, mendorong perubahan paradigma pendidikan tinggi di Indonesia.

Menurut dia, perguruan tinggi tidak cukup hanya menjalankan fungsi tradisional sebagai pencetak lulusan, tetapi harus mampu melahirkan sumber daya manusia (SDM) yang memiliki kompetensi nyata dan sesuai kebutuhan dunia kerja.

Gagasan tersebut disampaikan Addin dalam Orasi Kebangsaan dalam Dies Natalis ke-4 Institut Nahdlatul Ulama (INU) Ciamis dan Wisuda Perdana Program Sarjana (S1) Tahun 2026, di Ciamis, Minggu (1/11/2026)

Dalam orasi itu, Addin menawarkan konsep Peta Besar Rumpun Keilmuan Indonesia dan Masterplan Peta Keilmuan, Kompetensi, Profesi, dan Industri Indonesia sebagai fondasi pengembangan Ansor University di Institut.

Baca juga: Soal Pesantren di Sukoharjo, GP Ansor: Masyarakat Tak Main Hakim Sendiri, Polisi Jangan Gegabah

Ia menilai, perubahan teknologi, disrupsi industri, dan meningkatnya kebutuhan tenaga kerja berbasis kompetensi menuntut dunia pendidikan untuk beradaptasi.

"Pendidikan tinggi tidak lagi cukup menjalankan fungsi tradisional sebagai pencetak lulusan. Pendidikan tinggi dituntut mampu melahirkan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi nyata, terhubung dengan profesi, dan relevan dengan kebutuhan pembangunan nasional," kata Addin dalam gagasan orasi kebangsaannya, dikutip dari keterangan tertulis, Senin (2/11/2026).

Menurut Addin, pendidikan harus dipahami sebagai sebuah ekosistem yang menghubungkan ilmu pengetahuan, kompetensi, profesi, hingga sektor industri.

Dengan demikian, lulusan perguruan tinggi tidak berhenti pada kepemilikan gelar akademik, tetapi juga mempunyai peta kompetensi yang dapat diterapkan di dunia kerja maupun ruang pengabdian masyarakat.

"Melalui kerangka ini, pembangunan manusia Indonesia memerlukan perubahan cara pandang terhadap pendidikan. Bukan semata mengejar jumlah lulusan, melainkan memastikan setiap lulusan memiliki kompetensi yang relevan, adaptif terhadap perubahan, dan mampu berkontribusi dalam pembangunan bangsa," ujarnya.

Addin Tawarkan Peta Besar Rumpun Keilmuan Indonesia

Dalam konsep yang ditawarkan, Addin membagi ilmu pengetahuan ke dalam enam rumpun utama, yakni ilmu agama, humaniora, ilmu sosial, ilmu alam, ilmu formal, dan ilmu terapan.

Enam rumpun tersebut bukan sekadar klasifikasi akademik, melainkan menjadi dasar untuk membangun hubungan antara pendidikan dan kebutuhan pembangunan nasional.

Dalam rumpun ilmu agama, misalnya, pengembangan keilmuan tidak berhenti pada kajian Al-Qur'an, hadis, fikih, atau dakwah.

Orientasinya diperluas hingga bidang pengelolaan zakat dan wakaf, industri halal, keuangan syariah, manajemen lembaga keagamaan, pelayanan sosial, serta kajian etika teknologi dan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

"Pendekatan ini mempertemukan nilai-nilai keagamaan dengan tantangan kontemporer, termasuk perkembangan teknologi dan kebutuhan masyarakat modern," katanya.

Perspektif serupa diterapkan pada rumpun humaniora dan ilmu sosial. Kajian sejarah, budaya, bahasa, ekonomi, politik, psikologi, hingga kebijakan publik diposisikan sebagai instrumen untuk memperkuat kepemimpinan, pemberdayaan masyarakat, dan tata kelola pemerintahan.

Sementara itu, ilmu formal dan ilmu alam diarahkan untuk menjadi fondasi pengembangan talenta di sektor strategis, seperti kecerdasan buatan, sains data, keamanan siber, energi, lingkungan, geologi, dan teknologi digital.

Masterplan Hubungkan Ilmu, Kompetensi, dan Profesi

Gagasan tersebut diperkuat melalui Masterplan Peta Keilmuan, Kompetensi, Profesi, dan Industri Indonesia.

Masterplan ini dirancang untuk menjawab enam pertanyaan mendasar dalam pembangunan SDM, yaitu apa yang dipelajari seseorang, kompetensi apa yang dimiliki, profesi apa yang dapat dijalankan, sektor mana yang membutuhkan kompetensi tersebut, bagaimana kompetensi dikembangkan, serta hasil apa yang diharapkan.

Melalui pendekatan tersebut, pendidikan diposisikan sebagai bagian dari ekosistem pembangunan ekonomi dan sosial, bukan sebagai sistem yang berdiri sendiri.

Masterplan itu juga memetakan pengembangan akademi pada berbagai sektor strategis, mulai dari kepemimpinan keagamaan, industri kreatif, kebijakan publik, energi, lingkungan, manufaktur, pertanian, hingga kecerdasan buatan dan keamanan siber.

Pemetaan tersebut diharapkan mampu menghubungkan dunia pendidikan dengan perubahan struktur ekonomi nasional yang semakin dipengaruhi teknologi dan kebutuhan kompetensi spesifik.

Ansor University Disiapkan Jadi Bagian Pengembangan SDM

Peta Besar Rumpun Keilmuan Indonesia dan masterplan tersebut menjadi fondasi pengembangan Ansor University.

Melalui konsep ini, pengembangan pendidikan diarahkan agar tidak hanya menekankan penguasaan teori dan pencapaian gelar akademik, tetapi juga kompetensi profesional yang relevan dengan kebutuhan industri dan masyarakat.

Perguruan tinggi diharapkan mampu memetakan kemampuan peserta didik, menghubungkannya dengan kebutuhan dunia kerja, sekaligus membuka ruang bagi lahirnya profesi-profesi baru di tengah transformasi digital.

Baca juga: Jenguk Gus Yaqut, Ketum GP Ansor: Bukan Intervensi, Beri Dukungan Moral

Bagi Addin, tantangan pendidikan Indonesia ke depan bukan hanya menghasilkan lebih banyak sarjana, tetapi memastikan para lulusan memiliki kemampuan yang dibutuhkan untuk menghadapi perubahan zaman.

"Dengan pendekatan integrasi ilmu pengetahuan, kompetensi, profesi, dan industri, Ansor University diharapkan dapat mengambil bagian dalam menyiapkan SDM Indonesia yang adaptif, profesional, dan berkontribusi bagi pembangunan bangsa," tandasnya.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar