Penulis
KOMPAS.com - Ketua Umum Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda (GP) Ansor, Addin Jauharudin, mendorong perubahan paradigma pendidikan tinggi di Indonesia.
Menurut dia, perguruan tinggi tidak cukup hanya menjalankan fungsi tradisional sebagai pencetak lulusan, tetapi harus mampu melahirkan sumber daya manusia (SDM) yang memiliki kompetensi nyata dan sesuai kebutuhan dunia kerja.
Gagasan tersebut disampaikan Addin dalam Orasi Kebangsaan dalam Dies Natalis ke-4 Institut Nahdlatul Ulama (INU) Ciamis dan Wisuda Perdana Program Sarjana (S1) Tahun 2026, di Ciamis, Minggu (1/11/2026)
Dalam orasi itu, Addin menawarkan konsep Peta Besar Rumpun Keilmuan Indonesia dan Masterplan Peta Keilmuan, Kompetensi, Profesi, dan Industri Indonesia sebagai fondasi pengembangan Ansor University di Institut.
Baca juga: Soal Pesantren di Sukoharjo, GP Ansor: Masyarakat Tak Main Hakim Sendiri, Polisi Jangan Gegabah
Ia menilai, perubahan teknologi, disrupsi industri, dan meningkatnya kebutuhan tenaga kerja berbasis kompetensi menuntut dunia pendidikan untuk beradaptasi.
"Pendidikan tinggi tidak lagi cukup menjalankan fungsi tradisional sebagai pencetak lulusan. Pendidikan tinggi dituntut mampu melahirkan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi nyata, terhubung dengan profesi, dan relevan dengan kebutuhan pembangunan nasional," kata Addin dalam gagasan orasi kebangsaannya, dikutip dari keterangan tertulis, Senin (2/11/2026).
Menurut Addin, pendidikan harus dipahami sebagai sebuah ekosistem yang menghubungkan ilmu pengetahuan, kompetensi, profesi, hingga sektor industri.
Dengan demikian, lulusan perguruan tinggi tidak berhenti pada kepemilikan gelar akademik, tetapi juga mempunyai peta kompetensi yang dapat diterapkan di dunia kerja maupun ruang pengabdian masyarakat.
"Melalui kerangka ini, pembangunan manusia Indonesia memerlukan perubahan cara pandang terhadap pendidikan. Bukan semata mengejar jumlah lulusan, melainkan memastikan setiap lulusan memiliki kompetensi yang relevan, adaptif terhadap perubahan, dan mampu berkontribusi dalam pembangunan bangsa," ujarnya.
Dalam konsep yang ditawarkan, Addin membagi ilmu pengetahuan ke dalam enam rumpun utama, yakni ilmu agama, humaniora, ilmu sosial, ilmu alam, ilmu formal, dan ilmu terapan.
Enam rumpun tersebut bukan sekadar klasifikasi akademik, melainkan menjadi dasar untuk membangun hubungan antara pendidikan dan kebutuhan pembangunan nasional.
Dalam rumpun ilmu agama, misalnya, pengembangan keilmuan tidak berhenti pada kajian Al-Qur'an, hadis, fikih, atau dakwah.
Orientasinya diperluas hingga bidang pengelolaan zakat dan wakaf, industri halal, keuangan syariah, manajemen lembaga keagamaan, pelayanan sosial, serta kajian etika teknologi dan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
"Pendekatan ini mempertemukan nilai-nilai keagamaan dengan tantangan kontemporer, termasuk perkembangan teknologi dan kebutuhan masyarakat modern," katanya.
Perspektif serupa diterapkan pada rumpun humaniora dan ilmu sosial. Kajian sejarah, budaya, bahasa, ekonomi, politik, psikologi, hingga kebijakan publik diposisikan sebagai instrumen untuk memperkuat kepemimpinan, pemberdayaan masyarakat, dan tata kelola pemerintahan.
Sementara itu, ilmu formal dan ilmu alam diarahkan untuk menjadi fondasi pengembangan talenta di sektor strategis, seperti kecerdasan buatan, sains data, keamanan siber, energi, lingkungan, geologi, dan teknologi digital.
Gagasan tersebut diperkuat melalui Masterplan Peta Keilmuan, Kompetensi, Profesi, dan Industri Indonesia.
Masterplan ini dirancang untuk menjawab enam pertanyaan mendasar dalam pembangunan SDM, yaitu apa yang dipelajari seseorang, kompetensi apa yang dimiliki, profesi apa yang dapat dijalankan, sektor mana yang membutuhkan kompetensi tersebut, bagaimana kompetensi dikembangkan, serta hasil apa yang diharapkan.
Melalui pendekatan tersebut, pendidikan diposisikan sebagai bagian dari ekosistem pembangunan ekonomi dan sosial, bukan sebagai sistem yang berdiri sendiri.
Masterplan itu juga memetakan pengembangan akademi pada berbagai sektor strategis, mulai dari kepemimpinan keagamaan, industri kreatif, kebijakan publik, energi, lingkungan, manufaktur, pertanian, hingga kecerdasan buatan dan keamanan siber.
Pemetaan tersebut diharapkan mampu menghubungkan dunia pendidikan dengan perubahan struktur ekonomi nasional yang semakin dipengaruhi teknologi dan kebutuhan kompetensi spesifik.
Peta Besar Rumpun Keilmuan Indonesia dan masterplan tersebut menjadi fondasi pengembangan Ansor University.
Melalui konsep ini, pengembangan pendidikan diarahkan agar tidak hanya menekankan penguasaan teori dan pencapaian gelar akademik, tetapi juga kompetensi profesional yang relevan dengan kebutuhan industri dan masyarakat.
Perguruan tinggi diharapkan mampu memetakan kemampuan peserta didik, menghubungkannya dengan kebutuhan dunia kerja, sekaligus membuka ruang bagi lahirnya profesi-profesi baru di tengah transformasi digital.
Baca juga: Jenguk Gus Yaqut, Ketum GP Ansor: Bukan Intervensi, Beri Dukungan Moral
Bagi Addin, tantangan pendidikan Indonesia ke depan bukan hanya menghasilkan lebih banyak sarjana, tetapi memastikan para lulusan memiliki kemampuan yang dibutuhkan untuk menghadapi perubahan zaman.
"Dengan pendekatan integrasi ilmu pengetahuan, kompetensi, profesi, dan industri, Ansor University diharapkan dapat mengambil bagian dalam menyiapkan SDM Indonesia yang adaptif, profesional, dan berkontribusi bagi pembangunan bangsa," tandasnya.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.