KOMPAS.com - Kesehatan tubuh merupakan salah satu nikmat yang sering baru disadari ketika seseorang jatuh sakit.
Padahal, kondisi fisik yang terjaga dapat membantu umat Islam menjalankan berbagai kewajiban, mulai dari salat, puasa, hingga aktivitas sosial yang bernilai ibadah.
Dalam Islam, menjaga kesehatan bukan semata-mata urusan penampilan atau kebugaran.
Tubuh merupakan amanah yang perlu dirawat agar dapat digunakan untuk melakukan kebaikan.
Karena itu, menerapkan pola makan seimbang, berolahraga, menjaga kebersihan, dan mencukupi waktu istirahat menjadi bagian dari ikhtiar seorang Muslim dalam mensyukuri nikmat Allah SWT.
Rasulullah SAW mengingatkan umatnya agar tidak menyia-nyiakan kesehatan dan waktu luang. Pesan tersebut diriwayatkan Abdullah bin Abbas dalam hadis berikut:
نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ، الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ
Ni‘matāni maghbūnun fīhimā katsīrun minan-nās, aṣ-ṣiḥḥatu wal-farāgh.
Baca juga: Fenomena Budaya Flexing dan Pamer Kekayaan dalam Perspektif Islam
Artinya: "Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu karenanya, yaitu kesehatan dan waktu luang." (HR. Bukhari, Sahih al-Bukhari 6412)
Hadis ini mengingatkan bahwa kesehatan termasuk kesempatan berharga yang tidak selalu dimiliki seseorang sepanjang hidup.
Ketika tubuh berada dalam kondisi baik, seseorang memiliki peluang lebih besar untuk bekerja, belajar, membantu keluarga, dan menjalankan ibadah dengan leluasa.
Karena itu, menjaga kesehatan sebaiknya tidak menunggu munculnya penyakit. Upaya merawat tubuh dapat dimulai dari kebiasaan sederhana dan dilakukan secara konsisten. Dengan begitu, nikmat kesehatan tidak hanya disyukuri melalui ucapan, tetapi juga melalui tindakan.
Baca juga: Ketum GP Ansor Dorong Perguruan Tinggi Bukan Sekadar Cetak Sarjana
Kesehatan tubuh dapat dipahami sebagai amanah yang harus dipertanggungjawabkan.
Islam mengajarkan manusia untuk tidak memperlakukan tubuh secara sembarangan, termasuk mengabaikan kebutuhan makan, istirahat, dan kebersihan.
Melansir dari laman Muhammadiyah, menjaga kebugaran melalui pola makan yang baik dan olahraga merupakan wujud syukur atas nikmat Allah.
Artikel tersebut mengutip pandangan Muhammad Hasnan Nahar, mengenai pentingnya kesehatan dalam pengamalan agama.
Baca juga: Peserta dari 6 Negara Pelajari Peran Ulama Perempuan Indonesia
Pandangan tersebut memperlihatkan bahwa kehidupan beragama tidak terpisah dari kebiasaan merawat tubuh.
Menjaga kesehatan dapat dimulai dengan memperhatikan asupan makanan, menghindari kebiasaan berlebihan, dan menyediakan waktu untuk bergerak.
Ikhtiar ini juga perlu disesuaikan dengan kondisi fisik masing-masing orang.
Salah satu kebiasaan yang berpengaruh terhadap kesehatan adalah mengatur pola makan.
Makanan merupakan sumber energi untuk menjalankan aktivitas, termasuk beribadah.
Namun, mengonsumsi makanan secara berlebihan dapat mengganggu keseimbangan kebutuhan tubuh.
Islam memberikan pedoman agar manusia tidak berlebih-lebihan dalam memenuhi kebutuhan. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-A'raf ayat 31:
يٰبَنِيْٓ اٰدَمَ خُذُوْا زِيْنَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَّكُلُوْا وَاشْرَبُوْا وَلَا تُسْرِفُوْاۚ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِيْنَ ࣖ
Yā banī ādama khużū zīnatakum ‘inda kulli masjidiw wa kulū wasyrabū wa lā tusrifū, innahū lā yuḥibbul-musrifīn(a).
Baca juga: Mengenal Abu Ubaidah bin Al-Jarrah, Sosok Paling Dipercaya Rasulullah
Artinya: Wahai anak cucu Adam, pakailah pakaianmu yang indah pada setiap (memasuki) masjid dan makan serta minumlah, tetapi janganlah berlebihan. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang berlebihan.
Prinsip ini memerintahkan manusia untuk makan dan minum tanpa melampaui batas.
Pesan tersebut menunjukkan bahwa menikmati makanan diperbolehkan, tetapi tetap perlu memperhatikan kebutuhan dan kemaslahatan tubuh.
Pola makan yang baik juga perlu disertai pemilihan makanan yang beragam dan sesuai kebutuhan.
Selain memperhatikan jumlah, seseorang dapat membiasakan diri mengonsumsi makanan bergizi, mencukupi kebutuhan air, serta menjaga keteraturan waktu makan.
Kebiasaan tersebut merupakan bagian dari ikhtiar menjaga kondisi tubuh agar tetap bugar.
Baca juga: Soal Pesantren di Sukoharjo, GP Ansor: Masyarakat Tak Main Hakim Sendiri, Polisi Jangan Gegabah
Menjaga kesehatan bukan berarti setiap orang harus selalu berada dalam kondisi fisik prima.
Islam memahami bahwa manusia dapat mengalami sakit dan keterbatasan. Karena itu, syariat menyediakan keringanan dalam pelaksanaan ibadah sesuai keadaan yang dialami.
Allah berfirman dalam Surah Al-Ma'idah ayat 6:
يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِذَا قُمْتُمْ إِلَى ٱلصَّلَوٰةِ فَٱغْسِلُوا۟ وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى ٱلْمَرَافِقِ وَٱمْسَحُوا۟ بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى ٱلْكَعْبَيْنِ ۚ وَإِن كُنتُمْ جُنُبًا فَٱطَّهَّرُوا۟ ۚ وَإِن كُنتُم مَّرْضَىٰٓ أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ أَوْ جَآءَ أَحَدٌ مِّنكُم مِّنَ ٱلْغَائِطِ أَوْ لَـٰمَسْتُمُ ٱلنِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا۟ مَاءً فَتَيَمَّمُوا۟ صَعِيدًا طَيِّبًا فَٱمْسَحُوا۟ بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُم مِّنْهُ ۚ مَا يُرِيدُ ٱللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُم مِّنْ حَرَجٍ وَلَـٰكِن يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهُۥ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
Yā ayyuhallażīna āmanū iżā qumtum ilaṣ-ṣalāti faghsilū wujūhakum wa aidiyakum ilal-marāfiqi wamsaḥū biru'ūsikum wa arjulakum ilal-ka‘bain. Wa in kuntum junuban faṭṭahharū. Wa in kuntum marḍā au ‘alā safarin au jā'a aḥadum minkum minal-gā'iṭi au lāmastumun-nisā'a fa lam tajidū mā'an fa tayammamū ṣa‘īdan ṭayyiban famsaḥū biwujūhikum wa aidīkum minhu. Mā yurīdullāhu liyaj‘ala ‘alaikum min ḥarajin wa lākin yurīdu liyuṭahhirakum wa liyutimma ni‘matahū ‘alaikum la‘allakum tasykurūn.
Baca juga: Ketua PP Muhammadiyah: Bila Hukum Tak Dihormati, Hukum Rimba Akan Terjadi
Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu hendak melaksanakan salat, maka basuhlah wajahmu dan tanganmu sampai ke siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kedua kakimu sampai ke kedua mata kaki. Jika kamu junub maka mandilah. Dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan debu yang baik (suci); usaplah wajahmu dan tanganmu dengan (debu) itu. Allah tidak ingin menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, agar kamu bersyukur."
Ayat ini menjelaskan ketentuan bersuci sekaligus menunjukkan adanya kemudahan bagi orang yang sakit dalam keadaan tertentu.
Jika penggunaan air tidak memungkinkan dan syarat tayamum terpenuhi, seseorang dapat bersuci dengan cara tersebut.
Artinya, Islam tidak menghendaki pelaksanaan ibadah menjadi beban yang membahayakan kondisi seseorang.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.