Editor
KOMPAS.com - Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH M Cholil Nafis mengingatkan para dai agar tidak menjadikan bayaran sebagai fokus ketika berceramah.
Ia juga meminta penceramah menghindari gurauan soal mencari istri keempat.
“Maka kalau ceramah jangan soal berapa bayarannya, itu ada etikanya. Apalagi ceramah hanya untuk mencari istri keempat. Itu enggak baik gitu, meskipun bercanda itu ya enggak baik,” ujar Cholil, dikutip dari MUI Digital, Rabu (4/11/2026).
Baca juga: Gus Baha Tangani Dakwah Digital, Ini Tugas 5 Wakil Rais Aam PBNU
Menurut Cholil, dai perlu menjaga adab dalam memilih materi dan menyampaikan pesan agama.
Ia menekankan pentingnya ketulusan dalam berdakwah serta meminta penceramah menghindari gurauan yang dapat merendahkan martabat dakwah.
Cholil mengatakan, program Standardisasi Dai MUI memberi para penceramah acuan etika dalam berdakwah.
Pembinaan itu juga bertujuan menjaga kualitas dai dan mencegah penyampaian pemahaman agama yang menyimpang.
Pengasuh Pondok Pesantren Cendekia Amanah, Depok, Jawa Barat, itu berharap para dai dapat menjadi teladan bagi masyarakat.
Ia juga mengingatkan pentingnya saling menasihati dengan santun, mengedepankan sikap moderat, dan menjaga persaudaraan sesama umat Islam.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.