Editor
KOMPAS.com - Warga Afghanistan bersiap menyambut Idul Fitri di tengah tekanan ekonomi yang berkepanjangan.
Perayaan yang biasanya penuh kegembiraan kini diwarnai keterbatasan akibat sanksi dan kemiskinan.
Kondisi ini membuat banyak masyarakat kesulitan memenuhi kebutuhan hari raya.
Meski demikian, tradisi menyambut Lebaran tetap dijaga di tengah situasi yang tidak mudah.
Baca juga: Kisah Mudik Lebaran Saeful Tony, Jalan Kaki dari Cikarang ke Kebumen Usai Jadi Korban Pencopetan
Dilansir dari Antara, Xianhua melaporkan bahwa seperti tahun-tahun sebelumnya, masyarakat Afghanistan tetap merayakan Idul Fitri dengan menyajikan buah-buahan kering dan segar serta berbagai hidangan khas.
Perayaan berlangsung selama tiga hari untuk menyambut tamu dan mempererat silaturahmi.
Namun, suasana perayaan tahun ini kembali dibayangi kondisi ekonomi yang sulit akibat dampak panjang konflik dan tekanan internasional.
Baca juga: “Masa Lebaran di Jalan?” Kisah Edi Rela Naik Kapal Laut karena Tiket Pesawat Habis
Warga Afghanistan menghadapi tekanan berat akibat sanksi yang dijatuhkan oleh Amerika Serikat (AS) serta pembekuan aset negara. Dampak dari kehadiran militer AS selama 20 tahun juga masih dirasakan, terutama dalam bentuk kemiskinan ekstrem di berbagai wilayah.
Mohibullah Jabarzai, warga Kabul, mengeluhkan lonjakan harga kebutuhan pokok yang semakin sulit dijangkau masyarakat.
"Sanksi telah merusak segalanya, mulai dari aktivitas bisnis hingga harga pasar, bahkan hubungan Afghanistan dengan negara lain," ujarnya.
"Banyak orang tidak mampu membeli kebutuhan untuk menyambut Hari Raya Idul Fitri karena kemiskinan," kata Jabarzai.
"Seperti yang Anda tahu, sebagian besar masyarakat kami menganggur, dan mereka tidak bisa membeli kebutuhan akibat pengangguran, lonjakan harga, dan kesulitan ekonomi," tambah Jabarzai.
Dilaporkan bahwa Amerika Serikat membekukan aset Afghanistan senilai miliaran dolar setelah penarikan pasukan pada Agustus 2021 dan terbentuknya pemerintahan baru di Kabul.
Selain itu, hubungan diplomatik dengan penguasa baru juga terputus, sehingga tekanan ekonomi terus berlanjut.
Kondisi ini membuat pasar domestik melemah dan aktivitas ekonomi semakin terbatas.
Mohammad Agha, pedagang buah kering di Kabul, menyebut pembekuan aset menjadi salah satu penyebab utama lesunya pasar.
"Pasar akan berubah jika aset-aset ini (aset Afghanistan yang dibekukan AS) dicairkan," kata Mohammad Agha.
Agha yang telah berjualan selama 25 tahun mengaku penjualannya turun drastis dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
"Dulu, saya sering menjual 60 sir (1 sir setara 7 kilogram) hingga 70 sir dalam beberapa hari menjelang Idul Fitri, tetapi di tahun ini, saya baru menjual tak sampai 20 sir buah kering," gumamnya.
Ia juga menggambarkan kondisi pasar yang semakin lesu.
"Perdagangan lesu dan pasar menyusut," kata Agha, seraya menambahkan, "Harga memang lebih rendah dibandingkan tahun lalu. Misalnya, 1 kilogram kenari tahun lalu seharga 800 afghani (1 afghani = Rp265), sekarang menjadi 500 afghani."
Keluhan serupa disampaikan Mohammad Omar, warga Kabul lainnya, yang menilai kebutuhan hidup semakin sulit dipenuhi.
"Harga memang turun dibandingkan tahun lalu, tetapi daya beli masyarakat merosot akibat kemiskinan dan pengangguran," keluh Omar.
Meski dihadapkan pada berbagai keterbatasan, warga Afghanistan tetap berupaya merayakan Idul Fitri dengan penuh makna.
Tradisi dan kebersamaan menjadi kekuatan utama di tengah tekanan ekonomi yang berat. Kondisi ini mencerminkan ketahanan masyarakat Afghanistan t dalam menghadapi krisis berkepanjangan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang