KOMPAS.com - Bersin sering dianggap sebagai refleks biasa tubuh. Namun dalam ajaran Islam, momen kecil ini justru menjadi pintu interaksi sosial dan spiritual yang penuh makna.
Tidak hanya sekadar respons biologis, bersin diiringi dengan doa, balasan doa, hingga adab yang membentuk etika seorang Muslim dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam berbagai hadis, Nabi Muhammad menegaskan bahwa bersin adalah sesuatu yang dicintai Allah, berbeda dengan menguap yang justru tidak disukai.
Dari sini terlihat bahwa Islam memaknai setiap aktivitas manusia, sekecil apa pun, dengan nilai ibadah.
Baca juga: Doa Nabi Ayub AS Ketika Sakit, Lengkap Arab, Arti, dan Maknanya
Secara ilmiah, bersin adalah mekanisme tubuh untuk mengeluarkan partikel asing dari saluran pernapasan.
Namun dalam perspektif keimanan, bersin juga dipahami sebagai tanda nikmat—bahwa tubuh masih berfungsi dengan baik dan mampu membersihkan diri.
Dalam hadis riwayat Sahih Bukhari, Rasulullah SAW bersabda bahwa Allah mencintai bersin dan membenci menguap.
Para ulama menafsirkan bahwa bersin menunjukkan kondisi tubuh yang ringan dan sehat, sedangkan menguap sering dikaitkan dengan rasa malas.
Dalam buku Buku Pintar Sains dalam Al-Qur’an karya Nadiah Thayyarah dijelaskan bahwa refleks bersin juga berkaitan dengan sistem pertahanan tubuh manusia. Hal ini memperkuat bahwa ajaran Islam selaras dengan pengetahuan ilmiah modern.
Baca juga: Doa dan Dzikir Sebelum Tidur: Amalan Sunnah agar Malam Lebih Tenang dan Dilindungi Allah
Islam mengajarkan adab yang runtut ketika seseorang bersin. Tidak berhenti pada satu ucapan, melainkan membentuk dialog doa antar sesama Muslim.
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ
Alhamdulillah
Artinya: “Segala puji bagi Allah.”
Ucapan ini menjadi bentuk syukur spontan atas nikmat kesehatan. Dalam hadis riwayat Sahih Bukhari disebutkan bahwa seorang Muslim dianjurkan mengucapkan hamdalah setiap kali bersin.
يَرْحَمُكَ اللهُ
Yarhamukallah (laki-laki)
Yarhamukillah (perempuan)
Artinya: “Semoga Allah merahmatimu.”
Menjawab orang bersin bukan sekadar sopan santun, tetapi termasuk hak seorang Muslim atas Muslim lainnya.
Dalam hadis riwayat Sahih Muslim, Rasulullah menyebutkan bahwa mendoakan orang bersin adalah bagian dari lima kewajiban sosial dalam Islam.
يَهْدِيْكُمُ اللهُ وَيُصْلِحُ بَالَكُمْ
Yahdiikumullaahu wa yushlihu baalakum
Artinya: “Semoga Allah memberi petunjuk kepadamu dan memperbaiki keadaanmu.”
Rangkaian doa ini menunjukkan bahwa bersin bukan hanya peristiwa pribadi, tetapi menciptakan hubungan timbal balik yang penuh doa dan kebaikan.
Baca juga: Doa Nabi Musa agar Dapat Jodoh dan Rezeki, Bisa Diamalkan
Dalam sebuah riwayat dari Anas bin Malik RA, disebutkan bahwa Rasulullah SAW pernah tidak mendoakan seseorang yang bersin. Alasannya sederhana namun mendalam: orang tersebut tidak mengucapkan “Alhamdulillah”.
Hadis ini mengandung pesan penting bahwa keberkahan doa sangat terkait dengan kesadaran individu dalam mengingat Allah.
Dalam literatur Keutamaan Doa & Dzikir untuk Hidup Bahagia Sejahtera karya M. Khalilurrahman Al Mahfani, dijelaskan bahwa dzikir kecil seperti hamdalah menjadi pembuka turunnya rahmat Allah.
Islam tidak hanya mengatur ucapan, tetapi juga cara bersin itu sendiri. Adab ini menunjukkan bahwa agama memperhatikan aspek kesehatan, kesopanan, dan kenyamanan sosial.
Dalam hadis yang diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW menutup wajahnya ketika bersin. Hal ini relevan dengan prinsip kesehatan modern untuk mencegah penyebaran penyakit.
Dalam buku Kitabul Aadab karya Fuad bin Abdul Aziz Asy-Syalhub, dijelaskan bahwa adab ini termasuk bagian dari menjaga hak orang lain agar tidak terganggu atau tertular penyakit.
Mengucapkan “Alhamdulillah” setelah bersin bukan hanya sunnah, tetapi juga bentuk kesadaran spiritual. Ia mengubah refleks biologis menjadi ibadah.
Bersin dengan suara keras yang berlebihan dapat mengganggu orang lain. Dalam buku 63 Adab Sunnah karya Rachmat Morado Sugiarto, disebutkan bahwa merendahkan suara adalah bentuk kesempurnaan akhlak dalam Islam.
Sebagian ulama juga menekankan agar tidak dibuat-buat atau dilebih-lebihkan. Bersin harus tetap dalam batas alami, tanpa dibuat dramatis.
Baca juga: Doa Nabi Musa Hadapi Firaun, Amalan Agar Urusan Dipermudah
Jika ditelaah lebih dalam, ajaran tentang bersin mengandung tiga dimensi penting.
Pertama, dimensi spiritual. Ucapan hamdalah menghubungkan manusia dengan Allah bahkan dalam kondisi refleks.
Kedua, dimensi sosial. Adanya jawaban “yarhamukallah” dan balasannya menciptakan interaksi positif antar individu.
Ketiga, dimensi kesehatan. Anjuran menutup mulut dan merendahkan suara menunjukkan perhatian Islam terhadap kebersihan dan kenyamanan bersama.
Sering kali, hal-hal sederhana justru memiliki makna yang paling dalam. Bersin adalah contoh nyata bagaimana Islam mengajarkan keseimbangan antara tubuh, jiwa, dan hubungan sosial.
Dalam praktiknya, konsistensi menjalankan adab bersin mencerminkan kualitas keimanan seseorang. Ia tidak hanya taat dalam ibadah besar, tetapi juga dalam detail kecil kehidupan.
Di sinilah letak keindahan ajaran Islam, sunyi dalam praktik, namun luas dalam makna. Sebuah bersin, yang mungkin dianggap sepele, ternyata bisa menjadi jalan turunnya rahmat, doa, dan kebaikan yang berkelanjutan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang