Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Dari Museum ke Bahasa, Indonesia-Arab Saudi Perkuat Diplomasi Budaya

Kompas.com, 14 April 2026, 11:27 WIB
Norma Desvia Rahman,
Farid Assifa

Tim Redaksi

KOMPAS.com – Hubungan antara Indonesia dan Arab Saudi selama ini dikenal erat dalam bidang keagamaan.

Namun, dalam beberapa tahun terakhir, kerja sama kedua negara mulai meluas ke ranah yang lebih luas, kebudayaan.

Dilansir dari Saudi Gazette, pertemuan antara Menteri Kebudayaan Arab Saudi Pangeran Badr bin Abdullah dan Menteri Kebudayaan Indonesia Fadli Zon di Jakarta menjadi penanda penting arah baru hubungan bilateral tersebut.

Tidak lagi hanya berfokus pada ibadah haji dan umrah, kedua negara kini berupaya membangun jembatan budaya yang lebih kokoh dan berkelanjutan.

Dari Diplomasi Religi ke Diplomasi Budaya

Indonesia dan Arab Saudi memiliki ikatan historis yang kuat, terutama karena posisi Arab Saudi sebagai pusat dunia Islam dan Indonesia sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia.

Namun, seperti dijelaskan dalam buku Soft Power: The Means to Success in World Politics karya Joseph S. Nye Jr., kekuatan suatu negara tidak hanya terletak pada militer atau ekonomi, tetapi juga pada kemampuan membangun pengaruh melalui budaya.

Dalam konteks ini, kerja sama budaya antara Indonesia dan Arab Saudi menjadi bagian dari strategi diplomasi lunak (soft power) yang semakin relevan di era globalisasi.

Pangeran Badr dalam pertemuan tersebut menegaskan kebanggaannya atas hubungan yang telah terjalin, sekaligus membuka peluang baru untuk memperluas kolaborasi lintas budaya.

Baca juga: Jelang Haji 2026, Arab Saudi Terapkan Izin Masuk Makkah Secara Online, Begini Caranya

Pertukaran Seni dan Warisan Peradaban

Salah satu bentuk konkret kerja sama yang disorot adalah kolaborasi antara Yayasan Diriyah Biennale dan sejumlah museum di Indonesia.

Kerja sama ini mencakup peminjaman karya seni yang ditampilkan dalam Biennale Seni Islam 2025.

Langkah ini menunjukkan bagaimana karya seni tidak hanya menjadi objek estetika, tetapi juga medium dialog antarperadaban.

Dalam buku The Arts of Islam karya Titus Burckhardt, seni Islam dipahami sebagai ekspresi spiritual yang melampaui batas geografis.

Karena itu, pertukaran karya seni antara dua negara Muslim besar ini memiliki makna yang lebih dalam dari sekadar pameran.

Selain itu, partisipasi Indonesia dalam Pekan Kerajinan Internasional Saudi (Banan) pada November 2025 juga menjadi bukti keterlibatan aktif dalam memperkenalkan identitas budaya Nusantara ke panggung global.

Museum sebagai Ruang Dialog Peradaban

Dalam kunjungannya, Pangeran Badr menyambangi Museum Nasional Indonesia, museum terbesar dan tertua di Indonesia yang berdiri sejak 1868.

Dengan koleksi lebih dari 160.000 artefak, museum ini tidak hanya menyimpan sejarah Indonesia, tetapi juga merekam perjalanan berbagai peradaban, termasuk pengaruh Islam yang telah mengakar selama berabad-abad.

Menurut Eilean Hooper-Greenhill dalam Museums and the Interpretation of Visual Culture, museum modern bukan sekadar tempat penyimpanan benda, melainkan ruang dialog yang memungkinkan masyarakat memahami identitas dan sejarahnya.

Kunjungan ini memperlihatkan ketertarikan Arab Saudi terhadap kekayaan budaya Indonesia sekaligus membuka peluang kolaborasi dalam pengelolaan museum dan pertukaran koleksi.

Baca juga: Saudi Tawarkan Hak Penamaan 5 Stasiun Metro, Pemenang Dapat Kontrak Panjang

Galeri Nasional dan Masa Depan Kolaborasi

Selain Museum Nasional, delegasi Arab Saudi juga mengunjungi Galeri Nasional Indonesia. Di sana, Pangeran Badr bertemu dengan Direktur Eksekutif Badan Warisan Budaya Indonesia, Indira Estiyanti Nurjadin.

Diskusi yang berlangsung tidak hanya membahas kerja sama yang telah berjalan, tetapi juga rencana jangka panjang, termasuk pertukaran keahlian dan program peminjaman karya seni secara berkelanjutan dengan Museum Kebudayaan Dunia di Arab Saudi.

Didirikan pada 1999, Galeri Nasional Indonesia menyimpan lebih dari 1.700 karya seni, mulai dari lukisan hingga patung.

Koleksinya mencerminkan perkembangan seni rupa Indonesia sejak abad ke-19 hingga era kontemporer.

Dalam perspektif kebudayaan, kerja sama ini membuka ruang bagi seniman Indonesia untuk dikenal lebih luas di Timur Tengah, sekaligus memperkaya wawasan masyarakat Indonesia terhadap seni global.

Bahasa sebagai Jembatan Peradaban

Tidak hanya seni dan museum, kerja sama juga menyentuh bidang pendidikan, khususnya pengajaran bahasa Arab.

Kolaborasi antara Akademi Bahasa Arab Global Raja Salman dan sejumlah universitas di Indonesia menjadi langkah strategis dalam memperkuat hubungan intelektual kedua negara.

Bahasa, dalam konteks ini, bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga sarana memahami budaya dan nilai-nilai suatu peradaban.

Dalam buku Language and Culture karya Claire Kramsch, bahasa disebut sebagai “cermin budaya” yang mencerminkan cara berpikir suatu masyarakat.

Dengan meningkatnya kerja sama di bidang bahasa, hubungan Indonesia dan Arab Saudi tidak hanya bersifat formal, tetapi juga menyentuh aspek pemahaman yang lebih mendalam.

Baca juga: Kemenhaj Arab Saudi Tegaskan Visa Haji Satu-satunya Izin Resmi untuk Ibadah Haji

Menuju Kolaborasi yang Lebih Luas

Kerja sama budaya antara Indonesia dan Arab Saudi menunjukkan bahwa hubungan antarnegara tidak harus selalu berpusat pada ekonomi atau politik. Budaya justru dapat menjadi fondasi yang lebih kuat dan berkelanjutan.

Dalam konteks dunia Islam, kolaborasi ini juga memiliki dimensi religius. Seni, bahasa, dan warisan budaya menjadi sarana untuk memperkuat identitas bersama sekaligus memperkaya keberagaman.

Seperti yang diungkapkan dalam berbagai kajian peradaban, kemajuan suatu bangsa tidak hanya ditentukan oleh kekuatan material, tetapi juga oleh kemampuannya merawat dan mengembangkan budayanya.

Jembatan yang Terus Dibangun

Pertemuan di Jakarta itu mungkin hanya berlangsung beberapa jam. Namun, dampaknya berpotensi jauh lebih panjang.

Dari museum hingga bahasa, dari karya seni hingga pendidikan, kerja sama Indonesia dan Arab Saudi kini bergerak menuju arah yang lebih luas dan mendalam.

Di tengah dunia yang semakin terhubung, kolaborasi budaya seperti ini bukan hanya mempererat hubungan dua negara, tetapi juga menjadi jembatan yang menghubungkan peradaban, mengingatkan bahwa di balik perbedaan, selalu ada ruang untuk saling memahami.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
Aktual
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Aktual
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
Aktual
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
Aktual
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
Aktual
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Aktual
PUI Apresiasi 'Walk Out' Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
PUI Apresiasi "Walk Out" Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
Aktual
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Aktual
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Aktual
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Aktual
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Aktual
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Aktual
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Aktual
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Aktual
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar