KOMPAS.com – Menjelang Idul Adha, masyarakat Indonesia kerap menyebutnya dengan istilah lain, yaitu Lebaran Haji.
Sebutan ini begitu populer, bahkan terasa lebih akrab di telinga sebagian orang. Namun, dari mana sebenarnya asal-usul nama tersebut?
Di balik istilah yang sederhana ini, tersimpan keterkaitan erat dengan rangkaian ibadah haji di Tanah Suci, sebuah momen spiritual yang terjadi dalam waktu yang bersamaan dengan perayaan Idul Adha.
Secara historis dan kultural, istilah “Lebaran Haji” muncul karena perayaan Idul Adha bertepatan dengan puncak pelaksanaan ibadah haji di Makkah.
Dalam tradisi Islam, sehari sebelum Idul Adha, jemaah haji melaksanakan wukuf di Padang Arafah.
Wukuf merupakan rukun haji yang paling utama. Tanpa wukuf, ibadah haji tidak sah. Dalam praktiknya, jemaah berhenti (berdiam diri) di Arafah sejak tergelincirnya matahari pada 9 Dzulhijjah hingga menjelang fajar 10 Dzulhijjah.
Dalam buku Tuntunan Manasik Haji dan Umrah terbitan Kementerian Agama Republik Indonesia dijelaskan bahwa selama wukuf, jemaah dianjurkan memperbanyak doa, zikir, dan shalawat sebagai bentuk penghambaan total kepada Allah.
Momentum inilah yang kemudian menguatkan keterkaitan antara ibadah haji dan Idul Adha, sehingga masyarakat Indonesia menyebutnya sebagai Lebaran Haji.
Baca juga: Penjualan Kambing Kurban di Kebumen Meningkat Jelang Idul Adha 2026, Harga Rp 1,5 sampai 3,5 Jutaan
Kata “lebaran” sendiri bukan berasal dari bahasa Arab, melainkan berkembang dalam budaya Nusantara.
Dalam kajian linguistik Jawa, “lebaran” sering dihubungkan dengan kata lebar yang berarti selesai atau usai, merujuk pada berakhirnya suatu ibadah besar.
Jika pada Idul Fitri disebut sebagai “Lebaran Puasa”, maka Idul Adha dikenal sebagai “Lebaran Haji” karena bertepatan dengan ibadah haji.
Dalam buku Ensiklopedi Islam Nusantara karya Azyumardi Azra dijelaskan bahwa istilah keagamaan di Indonesia sering mengalami akulturasi budaya lokal, sehingga melahirkan istilah yang khas namun tetap berakar pada ajaran Islam.
Lebaran Haji tidak dapat dilepaskan dari sejarah besar yang melatarbelakangi Idul Adha, yakni kisah Nabi Ibrahim dan putranya, Nabi Ismail.
Dalam Surah As-Saffat ayat 100–111, dikisahkan bahwa Nabi Ibrahim menerima perintah melalui mimpi untuk menyembelih putranya. Sebagai nabi, ia meyakini bahwa mimpi tersebut adalah wahyu dari Allah.
Ketika perintah itu disampaikan kepada Ismail, sang anak justru menunjukkan ketaatan luar biasa.
“Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu. Insyaallah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”
Peristiwa ini mencapai puncaknya saat Allah menggantikan Ismail dengan seekor domba. Kisah ini menjadi dasar disyariatkannya ibadah kurban pada Idul Adha.
Dalam buku Fiqh Kontemporer karya Sudirman dijelaskan bahwa peristiwa ini mengandung nilai ketundukan total manusia kepada kehendak Allah.
Baca juga: Idul Adha 2026: Cek Syarat dan Ciri Hewan Kurban Layak Disembelih
Lebaran Haji tidak hanya sekadar perayaan, tetapi juga sarat makna spiritual. Dalam perspektif keislaman, Idul Adha mengajarkan tentang pengorbanan, keikhlasan, dan ketaatan.
Menurut Badan Pengelola Keuangan Haji, nilai utama Idul Adha terletak pada kesiapan seorang hamba untuk mengorbankan sesuatu yang dicintainya demi ketaatan kepada Allah.
Makna ini tidak hanya tercermin dalam penyembelihan hewan kurban, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari, bagaimana seseorang rela berkorban waktu, tenaga, dan harta untuk kebaikan.
Menariknya, Idul Adha menjadi momen yang menyatukan umat Islam di seluruh dunia, baik yang sedang berhaji maupun yang tidak.
Saat jemaah haji melanjutkan rangkaian ibadah di Mina dengan melempar jumrah, umat Islam di berbagai negara melaksanakan salat Id dan menyembelih hewan kurban.
Keterhubungan ini menunjukkan bahwa meskipun berbeda lokasi, umat Islam tetap berada dalam satu ritme ibadah yang sama.
Baca juga: Kalender Mei 2026 Lengkap: 10 Tanggal Merah, Long Weekend, Weton Jawa hingga Idul Adha
Berdasarkan kalender Hijriah yang dirilis Kementerian Agama Republik Indonesia, Idul Adha 1447 H diperkirakan jatuh pada Rabu, 27 Mei 2026. Penetapan resminya akan ditentukan melalui sidang isbat.
Sementara itu, Muhammadiyah telah lebih dulu menetapkan tanggal yang sama melalui maklumat resmi.
Jika tidak ada perbedaan hasil rukyat, Idul Adha 2026 berpotensi dirayakan secara serentak di Indonesia.
Istilah Lebaran Haji bukan sekadar sebutan populer, melainkan cerminan dari keterkaitan erat antara Idul Adha dan ibadah haji.
Di baliknya, terdapat nilai-nilai universal tentang pengorbanan, keikhlasan, dan kedekatan kepada Allah, nilai yang diwariskan sejak zaman Nabi Ibrahim hingga kini.
Lebaran Haji pun menjadi pengingat bahwa setiap ibadah, sekecil apa pun, memiliki makna besar ketika dijalankan dengan hati yang tulus.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang