Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ayam Bukan Hewan Kurban, Lalu Mengapa Bilal Pernah Menyembelihnya saat Idul Adha?

Kompas.com, 8 Mei 2026, 19:00 WIB
Norma Desvia Rahman,
Khairina

Tim Redaksi

KOMPAS.com – Hari Raya Idul Adha identik dengan penyembelihan hewan kurban seperti kambing, sapi, hingga unta.

Di berbagai daerah, momen ini bahkan sering menjadi simbol kemampuan ekonomi seseorang melalui besar kecilnya hewan yang dikurbankan.

Namun di balik tradisi tersebut, ada kisah menarik dari dua sahabat Rasulullah SAW yang kerap dibahas para ulama dan pendakwah. Keduanya adalah Bilal bin Rabah dan Abdullah bin Abbas.

Dalam sejumlah riwayat yang dikutip dari ceramah Gus Baha yang diunggah kanal YouTube Santri Online serta ceramah Ustadz Adi Hidayat di kanal YouTube Adi Hidayat Official, diceritakan bahwa keduanya pernah memilih menyembelih ayam dan membagikannya kepada fakir miskin pada momentum Idul Adha.

Kisah ini sering memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat, apakah ayam bisa dijadikan hewan kurban?

Jawabannya, tidak. Dalam syariat Islam, ayam bukan hewan sah untuk ibadah kurban. Namun di balik kisah tersebut, tersimpan pesan besar tentang makna berbagi, kemampuan, dan ketakwaan yang justru sangat relevan hingga hari ini.

Idul Adha dan Makna Kurban dalam Islam

Hari Raya Idul Adha merupakan salah satu syiar terbesar dalam Islam yang berkaitan erat dengan kisah pengorbanan Nabi Ibrahim dan putranya, Nabi Ismail.

Peristiwa itu menjadi simbol ketaatan total seorang hamba kepada Allah SWT. Dalam Al Quran Surah Al-Hajj ayat 37, Allah SWT berfirman:

“Daging dan darah hewan kurban itu tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian.”

Ayat tersebut menegaskan bahwa inti ibadah kurban bukan sekadar ukuran hewan atau banyaknya daging yang dibagikan, melainkan keikhlasan dan ketakwaan orang yang berkurban.

Dalam Tafsir Al-Misbah, Quraish Shihab menjelaskan bahwa kurban sejatinya adalah latihan spiritual untuk menundukkan ego dan menumbuhkan kepedulian sosial.

Karena itu, semangat Idul Adha tidak boleh berhenti pada simbol kemewahan semata.

Baca juga: Hukum Kurban Ayam saat Idul Adha, Sah atau Tidak? Ini Penjelasan Ulama

Kisah Bilal bin Rabah yang Memilih Menyembelih Ayam

Nama Bilal bin Rabah sangat dikenal dalam sejarah Islam sebagai muazin pertama Rasulullah SAW.

Sahabat Nabi yang berasal dari kalangan budak itu dikenal sederhana, zuhud, dan memiliki kepedulian sosial yang tinggi.

Dalam ceramah Gus Baha yang diunggah kanal YouTube Santri Online, disebutkan bahwa Bilal bin Rabah pernah memilih menyembelih ayam pada momentum Idul Adha lalu membagikannya kepada anak yatim dan orang miskin.

Bilal disebut pernah berkata:

“Aku tidak peduli dengan apa yang orang-orang sajikan. Aku bisa menyembelih ayam lalu bersedekah dengannya kepada anak-anak yatim dan orang-orang miskin.”

Ucapan tersebut bukan berarti Bilal menolak syariat kurban.

Para ulama menjelaskan bahwa Bilal sedang menunjukkan pesan bahwa berbagi tidak harus menunggu kaya atau mampu membeli hewan besar.

Ketika tidak mampu menyembelih kambing atau sapi, seseorang tetap bisa memuliakan hari raya dengan memberi makan orang lain sesuai kemampuan yang dimiliki.

Dalam Ihya Ulumuddin, Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa sedekah yang paling bernilai adalah yang dilakukan dengan ikhlas dan sesuai kemampuan, bukan demi gengsi atau pujian manusia.

Abdullah bin Abbas dan Semangat Berbagi saat Hari Raya

Kisah serupa juga dinisbatkan kepada Abdullah bin Abbas RA, sepupu Rasulullah SAW yang dikenal sebagai ahli tafsir Al Quran.

Dalam sejumlah penjelasan ulama, Ibnu Abbas disebut memiliki kebiasaan membeli daging lalu membagikannya kepada masyarakat pada Hari Raya Idul Adha.

Bahkan dalam beberapa riwayat, beliau juga pernah menyembelih ayam untuk dibagikan kepada orang lain.

Ibnu Abbas dikenal sebagai sosok yang sangat dermawan sejak muda.

Dalam Siyar A'lam an-Nubala dijelaskan bahwa Abdullah bin Abbas memiliki perhatian besar terhadap fakir miskin dan sangat mencintai ilmu serta sedekah.

Oleh karena itu, momentum hari raya tidak ia biarkan berlalu tanpa menghadirkan kebahagiaan bagi masyarakat sekitar.

Baca juga: Jelang Idul Adha 2026, Ini Daftar Harga Hewan Kurban Terbaru & Tips Memilihnya

Ayam Tetap Tidak Sah untuk Kurban

Meski kisah Bilal dan Ibnu Abbas sering dibahas, para ulama menegaskan bahwa ayam tidak sah dijadikan hewan kurban dalam syariat Islam.

Hewan kurban yang diperbolehkan hanyalah hewan ternak tertentu seperti kambing, domba, sapi, dan unta.

Hal tersebut berdasarkan banyak hadis Rasulullah SAW dan kesepakatan para ulama fikih.
Dalam Fiqih Sunnah dijelaskan bahwa syariat kurban memiliki ketentuan khusus terkait jenis hewan, usia, dan kondisi fisik hewan.

Karena itu, kisah Bilal dan Ibnu Abbas tidak boleh dipahami sebagai perubahan aturan kurban.
Yang ingin ditunjukkan keduanya adalah semangat berbagi dan memuliakan hari raya meski dalam keterbatasan.

Idul Adha Bukan Ajang Pamer Hewan Kurban

Di era media sosial saat ini, Idul Adha kadang berubah menjadi ajang memperlihatkan ukuran sapi terbesar atau jumlah hewan kurban terbanyak.

Padahal para ulama mengingatkan bahwa nilai utama kurban terletak pada ketakwaan dan keikhlasan.

Dalam hadis riwayat Muslim, Rasulullah SAW bersabda:

“Hari-hari tasyrik adalah hari makan, minum, dan berzikir kepada Allah.”

Hadis tersebut menunjukkan bahwa Idul Adha juga merupakan momentum mempererat solidaritas sosial dan menghadirkan kebahagiaan bersama.

Oleh karena itu, memberi makan orang lain, bersedekah, atau menyuguhkan hidangan terbaik kepada keluarga juga termasuk bagian dari memuliakan hari raya.

Baca juga: Kurban Kambing untuk Satu Keluarga, Ini Ketentuan dan Hukumnya dalam Islam

Jangan Tinggalkan Kebaikan Meski Belum Sempurna

Kisah Bilal dan Ibnu Abbas juga sering dikaitkan dengan kaidah fikih:

“Maa laa yudraku kulluhu, laa yutraku kulluhu.”

Artinya: “Sesuatu yang tidak dapat dilakukan secara sempurna, jangan ditinggalkan seluruhnya.”

Pesan ini mengajarkan bahwa seseorang yang belum mampu berkurban tetap dapat mengambil bagian dalam semangat Idul Adha melalui sedekah, berbagi makanan, atau membantu sesama.

Dalam Islam, kemampuan ekonomi memang menjadi salah satu syarat penting dalam ibadah kurban.

Karena itu, orang yang belum mampu tidak dibebani kewajiban menyembelih hewan kurban.
Namun semangat berbagi dan kepedulian sosial tetap bisa dilakukan dalam bentuk lain yang sesuai kemampuan.

Pelajaran Besar dari Dua Sahabat Nabi

Kisah Bilal bin Rabah dan Abdullah bin Abbas memperlihatkan bahwa Idul Adha bukan sekadar tentang besar kecilnya hewan yang disembelih.

Lebih dari itu, hari raya kurban adalah momentum menumbuhkan ketakwaan, kepedulian sosial, dan rasa syukur kepada Allah SWT.

Ketika sebagian orang mampu berkurban dengan sapi atau unta, orang lain tetap dapat menghadirkan kebahagiaan melalui makanan sederhana yang dibagikan dengan tulus.

Sebab pada akhirnya, yang paling bernilai di sisi Allah bukanlah kemewahan hewan kurban, melainkan hati yang ikhlas dan kepedulian yang lahir dari dalam diri manusia.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
PUI Apresiasi 'Walk Out' Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
PUI Apresiasi "Walk Out" Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
Aktual
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Aktual
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Aktual
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Aktual
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Aktual
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Aktual
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Aktual
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Aktual
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Aktual
Buku Karya Abdul Mu’ti Tentang Pluralisme dan Pendidikan Muhammadiyah Resmi Jadi Koleksi Perpustakaan OCIS Oxford
Buku Karya Abdul Mu’ti Tentang Pluralisme dan Pendidikan Muhammadiyah Resmi Jadi Koleksi Perpustakaan OCIS Oxford
Aktual
Di Hadapan Para Imam Besar di Istiqlal, Imam Masjid Al Aqsa Sampaikan Pesan Persatuan
Di Hadapan Para Imam Besar di Istiqlal, Imam Masjid Al Aqsa Sampaikan Pesan Persatuan
Aktual
MUI Akan Luncurkan Wajib Halal Oktober di Bengkulu pada 1 Oktober 2026
MUI Akan Luncurkan Wajib Halal Oktober di Bengkulu pada 1 Oktober 2026
Aktual
Imam Besar Dunia Shalat Jumat di Masjid Istiqlal, Doakan Persatuan Umat dan Kembalinya Masjid Al Aqsa
Imam Besar Dunia Shalat Jumat di Masjid Istiqlal, Doakan Persatuan Umat dan Kembalinya Masjid Al Aqsa
Aktual
Menag Ajak Imam Gunakan Bahasa Agama untuk Bangun Kesadaran Menjaga Lingkungan
Menag Ajak Imam Gunakan Bahasa Agama untuk Bangun Kesadaran Menjaga Lingkungan
Aktual
Menag: Imam Harus Jadi Jembatan Perdamaian dan Diplomat Komunitas
Menag: Imam Harus Jadi Jembatan Perdamaian dan Diplomat Komunitas
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar