Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
KH. Imam Jazuli, Lc. MA
Akademisi dan Pengasuh Ponpes Bina Insan Mulia Cirebon

Alumni Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri; Alumni Universitas Al-Azhar, Mesir, Dept. Theology and Philosophy; Alumni Universiti Kebangsaan Malaysia, Dept. Politic and Strategy; Alumni Universiti Malaya, Dept. International Strategic and Defence Studies; Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon; Wakil Ketua Pimpinan Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah (Asosiasi Pondok Pesantren se-Indonesia); Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Periode 2010-2015.

Menatap Abad Kedua NU: Catatan dari PMKNU, Pabrik Pemimpin NU

Kompas.com, 17 Mei 2026, 21:17 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

LIMA hari ini, kepala saya dipenuhi banyak hal. Sejak tanggal 13 Mei lalu, sampai hari ini, 17 Mei 2026, saya duduk di ruang pertemuan Hotel Aston Cirebon. Menjadi santri lagi. Menjadi peserta Pelatihan Pendidikan Menengah Kader Nahdlatul Ulama (PMKNU).

Gaya pelatihannya asyik. Cair. Khas gaya tim instruktur PBNU zaman now. Jauh dari kesan kaku, tapi isinya daging semua. Analisisnya tajam. Saya merenung di sela-sela sesi. Materi yang disuguhkan panitia sangat komprehensif. Mulai dari yang sifatnya langit—soal ideologi—sampai yang sangat membumi dan teknis.

Kami diajak melihat potret masalah lapangan yang riil. Dari level kepengurusan paling bawah di Ranting, sampai dinamika di tingkat PCNU, PWNU dan PBNU. Bagaimana mengatasi dinamika organisasi? Bagaimana mengurai dualisme kepemimpinan di daerah? Semua dikupas. Tidak ada yang ditutup-tutupi.

Baca juga: 3 Tokoh Muda NU Kumpul di Cirebon, Sinyal Regenerasi Kepemimpinan PBNU Menguat

Kami diajari cara menerjemahkan visi-misi besar menjadi program prioritas yang bisa dieksekusi. Jujur, bukan cuman asyik di atas kertas, tapi juga penting dan memberi wawasan baru. Ditambah lagi menu wajib zaman sekarang: digitalisasi. Ini mutlak untuk menyiapkan cetak biru abad kedua Nahdlatul Ulama.

Ada satu lompatan cara berpikir yang luar biasa. Saya jadi teringat memori tahun 2013. Waktu itu, saya mengikuti Pendidikan Kader Penggerak NU (PKPNU). Ingatan saya masih segar. Dulu, doktrinnya kuat: melihat kelompok lain di luar kita sebagai lawan. Garisnya tegas. Hitam-putih.

Di PMKNU 2026 ini, sudut pandang itu dibongkar total. Berubah drastis. Sekarang, kelompok lain tidak lagi dipandang sebagai lawan yang harus dimusuhi, tetapi mereka adalah kompetitor. Bahkan, dalam banyak ruang, mereka adalah mitra yang mengharuskan kita untuk berkolaborasi. Ini cara pandang yang matang. Dewasa.

Menatap abad kedua, NU tidak boleh lagi menguras energi untuk sekadar "berkelahi", tapi harus fokus pada akselerasi dan distribusi kader di semua lini. Dari sini saya sadar, program kaderisasi berjenjang seperti PMKNU ini bukan cuma butuh, tapi wajib bagi calon pemimpin NU, Ini cara terbaik menyiapkan cetak biru kepemimpinan masa depan jam'iyah.

Di titik inilah saya merasa PMKNU bukan sekadar forum pelatihan, melainkan ruang “membongkar diri”. Kita dipaksa jujur melihat kelemahan organisasi sendiri, sekaligus ditantang mencari jalan keluarnya. Tidak cukup lagi hanya bangga dengan sejarah besar NU.

Kebanggaan tanpa kerja strategis hanya akan menjadi romantisme. Abad kedua membutuhkan kader yang tidak hanya loyal, tetapi juga adaptif, profesional, dan mampu membaca perubahan zaman dengan kepala dingin.

Saya juga melihat satu hal yang sangat penting: NU hari ini sedang bergerak menuju kultur organisasi yang lebih terbuka terhadap pengetahuan dan teknologi. Dulu, banyak yang menganggap digitalisasi hanya urusan anak muda atau sekadar pelengkap. Sekarang tidak lagi.

Media sosial, tata kelola data, penguatan jaringan digital, sampai penguasaan narasi publik menjadi bagian dari medan juang baru jam’iyah. Kalau NU ingin tetap menjadi rumah besar umat, maka penguasaan ruang digital adalah keniscayaan, bukan pilihan.

Di sela-sela pelatihan, saya semakin yakin bahwa kekuatan terbesar NU sebenarnya bukan hanya pada jumlah jamaahnya, tetapi pada kultur persaudaraannya. Di forum ini, saya bertemu peserta dari latar belakang yang berbeda-beda: ada akademisi, aktivis, birokrat, pengusaha, kiai kampung, dan anak-anak muda yang penuh energi.

Anehnya, semuanya bisa duduk bersama tanpa sekat. Mungkin inilah salah satu rahasia NU bisa bertahan satu abad lebih: kemampuan merawat perbedaan tanpa kehilangan arah perjuangan.

Maka sepulang dari PMKNU ini, yang paling penting bukan siapa paling aktif bicara di forum, tetapi siapa yang benar-benar bergerak setelah forum selesai. Sebab tantangan NU ke depan tidak makin ringan. Persaingan gagasan semakin keras, perubahan sosial semakin cepat, dan kebutuhan umat semakin kompleks.

Baca juga: Merawat Akar Jam’iyyah: Mengapa PBNU Butuh Representasi Ulama Luar Jawa?

Di sinilah kader-kader NU diuji: apakah hanya menjadi penonton perubahan, atau menjadi penggerak yang ikut menentukan arah masa depan bangsa dan jam’iyah.

Apresiasi setinggi-tingginya untuk seluruh instruktur, panitia, dan pemateri yang luar biasa inspiratif. Anda semua telah menyalakan lilin-lilin baru di kepala kami. Terima kasih atas ilmunya. Terimakasih atas forum dan persaudarannya yang cair dan penuh kekeluargaan.

Pesan saya untuk rekan-rekan alumni PMKNU angkatan ini: tugas berat menanti di rumah masing-masing. Mari terjemahkan ilmu dari Aston ini menjadi gerakan nyata di lapangan. Saatnya berkolaborasi, bukan lagi sibuk mencari lawan. Wallahu'alam bissowab

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
Imam Masjid Al-Aqsa: Tugas Imam Tak Berhenti pada Memimpin Shalat
Imam Masjid Al-Aqsa: Tugas Imam Tak Berhenti pada Memimpin Shalat
Aktual
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
Aktual
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Aktual
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
Aktual
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
Aktual
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
Aktual
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Aktual
PUI Apresiasi 'Walk Out' Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
PUI Apresiasi "Walk Out" Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
Aktual
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Aktual
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Aktual
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Aktual
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Aktual
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Aktual
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Aktual
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar