KOMPAS.com - Di tengah hamparan gurun Arab Saudi, terdapat sebuah kawasan yang setiap tahun berubah menjadi “kota” raksasa dalam waktu singkat.
Tempat itu adalah Mina, lembah suci yang berada sekitar 5 kilometer di timur Masjidil Haram, Makkah.
Saat musim haji tiba, Mina dipenuhi jutaan jamaah dari berbagai penjuru dunia. Ribuan tenda putih berdiri rapat membentuk lautan atap yang membentang di antara pegunungan tandus. Pemandangan inilah yang membuat Mina dikenal luas sebagai “Kota Tenda Terbesar di Dunia”.
Julukan tersebut bukan sekadar istilah populer. Mina memang menjadi kawasan tenda permanen terbesar yang pernah dibangun untuk menampung manusia dalam jumlah sangat besar secara bersamaan.
Dilansir dari situs resmi Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi, kawasan Mina menjadi pusat penting dalam fase Armuzna, yaitu Arafah, Muzdalifah, dan Mina, yang merupakan inti pelaksanaan ibadah haji.
Di tempat inilah jamaah melaksanakan mabit atau bermalam serta ritual lempar jumrah yang menjadi simbol perlawanan terhadap godaan setan sebagaimana dicontohkan Nabi Ibrahim AS.
Ketika jamaah mulai bergerak menuju Mina pada 8 Dzulhijjah, kawasan tersebut berubah total menjadi kota musiman yang sangat padat.
Dari atas udara, Mina tampak seperti lautan putih raksasa yang menyelimuti lembah di antara bukit-bukit batu.
Mina memiliki sekitar 40.000 tenda permanen yang mampu menampung lebih dari 2,5 juta jamaah haji selama musim haji berlangsung.
Tenda-tenda itu berdiri di area seluas sekitar 20 kilometer persegi atau lebih dari 650 hektar. Hampir seluruh ruang di lembah Mina dipenuhi fasilitas penginapan, jalur pejalan kaki, terowongan, jembatan, rumah sakit, hingga pusat layanan kesehatan.
Dalam buku The Hajj: The Muslim Pilgrimage to Mecca and the Holy Places karya F.E. Peters dijelaskan bahwa Mina sejak masa awal Islam memang telah menjadi lokasi persinggahan utama jamaah haji sebelum dan sesudah wukuf di Arafah.
Namun seiring meningkatnya jumlah jamaah dari seluruh dunia, kawasan ini kemudian berkembang menjadi kota tenda modern dengan teknologi tinggi.
Baca juga: Arab Saudi Bangun RS Darurat Raksasa di Mina untuk Haji 2026
Ada beberapa alasan utama mengapa Mina mendapat julukan tersebut.
Berbeda dengan tenda biasa yang dibongkar setelah acara selesai, tenda di Mina bersifat permanen.
Pemerintah Arab Saudi membangun ribuan tenda dengan struktur tetap yang digunakan setiap musim haji.
Merujuk buku The Lost Story of Kabah karya Irfan L. Sarhindi, pengembangan kawasan Mina dilakukan besar-besaran setelah berbagai insiden kepadatan dan kebakaran pada dekade sebelumnya.
Kini seluruh tenda dibuat menggunakan material serat kaca berlapis teflon yang tahan api dan tahan terhadap suhu ekstrem gurun Arab Saudi.
Setiap tenda dilengkapi:
Teknologi tersebut membuat Mina menjadi salah satu kawasan tenda paling modern di dunia.
Mina bukan hanya luas, tetapi juga sangat padat saat musim haji berlangsung.
Jutaan jamaah dari berbagai negara tinggal bersama dalam satu kawasan selama beberapa hari. Mereka tidur, makan, beribadah, dan beraktivitas di area yang sama.
Dalam buku Ensiklopedi Haji dan Umrah karya M. Quraish Shihab dijelaskan bahwa Mina menjadi simbol persamaan manusia di hadapan Allah SWT karena seluruh jamaah mengenakan pakaian ihram tanpa membedakan status sosial maupun kebangsaan.
Di Mina, seorang pejabat, pengusaha, ulama, hingga rakyat biasa berada dalam posisi yang sama sebagai tamu Allah SWT.
Oleh karena itu, suasana Mina sering disebut sebagai miniatur persaudaraan umat Islam dunia.
Baca juga: Skema Murur untuk Lansia Saat Puncak Haji 2026: Usai Wukuf, Jemaah Langsung ke Mina
Pengembangan Mina modern tidak terjadi secara instan.
Menurut laporan arsitektur karya Bodo Rasch, seorang arsitek asal Jerman yang terlibat dalam pengembangan kawasan Mina, konsep kota tenda permanen mulai dirancang sejak akhir 1970-an.
Saat itu pemerintah Arab Saudi menghadapi tantangan besar karena jumlah jamaah haji terus meningkat setiap tahun.
Selain kepadatan, cuaca panas ekstrem dan risiko kebakaran juga menjadi persoalan serius. Karena itu, dibuatlah sistem tenda baru yang lebih aman dan tahan lama.
Desain Mina kemudian dikembangkan dengan konsep kota modular modern yang tetap mempertahankan bentuk khas tenda Arab tradisional.
Tenda-tenda putih dengan atap kerucut akhirnya menjadi identitas visual Mina hingga sekarang.
Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah Arab Saudi terus memperluas fasilitas di Mina sebagai bagian dari program Saudi Vision 2030.
Meski hanya ramai saat musim haji, Mina memiliki sistem operasional layaknya kota besar.
Dilansir dari Saudi Press Agency, selama musim haji pemerintah Arab Saudi mengoperasikan:
Seluruh fasilitas tersebut bekerja selama 24 jam untuk melayani jutaan jamaah.
Di malam hari, Mina tetap terang oleh cahaya lampu dari ribuan tenda putih yang berjejer rapat di sepanjang lembah.
Baca juga: Jemaah Haji Embarkasi Makassar Latihan Jalan Kaki ke Jamarat Jelang Puncak Haji di Mina
Selain dikenal sebagai kota tenda terbesar, Mina juga memiliki makna spiritual sangat mendalam dalam sejarah Islam.
Di tempat inilah jamaah melaksanakan lempar jumrah yang melambangkan penolakan terhadap godaan setan sebagaimana kisah Nabi Ibrahim AS.
Dalam buku Fiqih Sunnah karya Sayyid Sabiq dijelaskan bahwa ritual lempar jumrah bukan sekadar melempar batu, melainkan simbol perjuangan manusia melawan hawa nafsu dan keburukan dalam hidup.
Oleh karena itu, Mina bukan hanya kawasan penginapan jamaah, tetapi juga tempat refleksi spiritual dan penghambaan kepada Allah SWT.
Keunikan terbesar Mina adalah statusnya sebagai kota musiman.
Di luar musim haji, kawasan ini relatif sepi. Ribuan tenda putih tetap berdiri, tetapi hampir tidak berpenghuni.
Namun ketika Dzulhijjah tiba, Mina mendadak berubah menjadi salah satu kawasan paling padat di dunia.
Jutaan manusia berkumpul dalam satu lembah untuk menjalankan ibadah yang sama, mengenakan pakaian yang sama, dan mengumandangkan doa-doa yang sama.
Karena itulah Mina bukan sekadar kota tenda biasa. Ia menjadi simbol persatuan umat Islam dunia sekaligus bukti bagaimana ibadah haji mempertemukan manusia dari berbagai bangsa dalam satu tujuan spiritual yang sama.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang