Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Mengenal Mina, Kota Tenda Putih Terbesar di Dunia saat Musim Haji

Kompas.com, 18 Mei 2026, 14:59 WIB
Norma Desvia Rahman,
Farid Assifa

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Di tengah hamparan gurun Arab Saudi, terdapat sebuah kawasan yang setiap tahun berubah menjadi “kota” raksasa dalam waktu singkat.

Tempat itu adalah Mina, lembah suci yang berada sekitar 5 kilometer di timur Masjidil Haram, Makkah.

Saat musim haji tiba, Mina dipenuhi jutaan jamaah dari berbagai penjuru dunia. Ribuan tenda putih berdiri rapat membentuk lautan atap yang membentang di antara pegunungan tandus. Pemandangan inilah yang membuat Mina dikenal luas sebagai “Kota Tenda Terbesar di Dunia”.

Julukan tersebut bukan sekadar istilah populer. Mina memang menjadi kawasan tenda permanen terbesar yang pernah dibangun untuk menampung manusia dalam jumlah sangat besar secara bersamaan.

Dilansir dari situs resmi Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi, kawasan Mina menjadi pusat penting dalam fase Armuzna, yaitu Arafah, Muzdalifah, dan Mina, yang merupakan inti pelaksanaan ibadah haji.

Di tempat inilah jamaah melaksanakan mabit atau bermalam serta ritual lempar jumrah yang menjadi simbol perlawanan terhadap godaan setan sebagaimana dicontohkan Nabi Ibrahim AS.

Lautan Tenda Putih di Tengah Gurun

Ketika jamaah mulai bergerak menuju Mina pada 8 Dzulhijjah, kawasan tersebut berubah total menjadi kota musiman yang sangat padat.

Dari atas udara, Mina tampak seperti lautan putih raksasa yang menyelimuti lembah di antara bukit-bukit batu.

Mina memiliki sekitar 40.000 tenda permanen yang mampu menampung lebih dari 2,5 juta jamaah haji selama musim haji berlangsung.

Tenda-tenda itu berdiri di area seluas sekitar 20 kilometer persegi atau lebih dari 650 hektar. Hampir seluruh ruang di lembah Mina dipenuhi fasilitas penginapan, jalur pejalan kaki, terowongan, jembatan, rumah sakit, hingga pusat layanan kesehatan.

Dalam buku The Hajj: The Muslim Pilgrimage to Mecca and the Holy Places karya F.E. Peters dijelaskan bahwa Mina sejak masa awal Islam memang telah menjadi lokasi persinggahan utama jamaah haji sebelum dan sesudah wukuf di Arafah.

Namun seiring meningkatnya jumlah jamaah dari seluruh dunia, kawasan ini kemudian berkembang menjadi kota tenda modern dengan teknologi tinggi.

Baca juga: Arab Saudi Bangun RS Darurat Raksasa di Mina untuk Haji 2026

Mengapa Mina Disebut Kota Tenda Terbesar di Dunia?

Ada beberapa alasan utama mengapa Mina mendapat julukan tersebut.

1. Memiliki Puluhan Ribu Tenda Permanen

Berbeda dengan tenda biasa yang dibongkar setelah acara selesai, tenda di Mina bersifat permanen.

Pemerintah Arab Saudi membangun ribuan tenda dengan struktur tetap yang digunakan setiap musim haji.

Merujuk buku The Lost Story of Kabah karya Irfan L. Sarhindi, pengembangan kawasan Mina dilakukan besar-besaran setelah berbagai insiden kepadatan dan kebakaran pada dekade sebelumnya.

Kini seluruh tenda dibuat menggunakan material serat kaca berlapis teflon yang tahan api dan tahan terhadap suhu ekstrem gurun Arab Saudi.

Setiap tenda dilengkapi:

  • Pendingin udara
  • Sistem ventilasi modern
  • Jalur listrik aman
  • Sistem pemadam kebakaran otomatis
  • Penyemprot air
  • Jalur evakuasi khusus

Teknologi tersebut membuat Mina menjadi salah satu kawasan tenda paling modern di dunia.

2. Menampung Jutaan Jamaah dalam Waktu Bersamaan

Mina bukan hanya luas, tetapi juga sangat padat saat musim haji berlangsung.

Jutaan jamaah dari berbagai negara tinggal bersama dalam satu kawasan selama beberapa hari. Mereka tidur, makan, beribadah, dan beraktivitas di area yang sama.

Dalam buku Ensiklopedi Haji dan Umrah karya M. Quraish Shihab dijelaskan bahwa Mina menjadi simbol persamaan manusia di hadapan Allah SWT karena seluruh jamaah mengenakan pakaian ihram tanpa membedakan status sosial maupun kebangsaan.

Di Mina, seorang pejabat, pengusaha, ulama, hingga rakyat biasa berada dalam posisi yang sama sebagai tamu Allah SWT.

Oleh karena itu, suasana Mina sering disebut sebagai miniatur persaudaraan umat Islam dunia.

Baca juga: Skema Murur untuk Lansia Saat Puncak Haji 2026: Usai Wukuf, Jemaah Langsung ke Mina

Sejarah Modernisasi Kota Tenda Mina

Pengembangan Mina modern tidak terjadi secara instan.

Menurut laporan arsitektur karya Bodo Rasch, seorang arsitek asal Jerman yang terlibat dalam pengembangan kawasan Mina, konsep kota tenda permanen mulai dirancang sejak akhir 1970-an.

Saat itu pemerintah Arab Saudi menghadapi tantangan besar karena jumlah jamaah haji terus meningkat setiap tahun.

Selain kepadatan, cuaca panas ekstrem dan risiko kebakaran juga menjadi persoalan serius. Karena itu, dibuatlah sistem tenda baru yang lebih aman dan tahan lama.

Desain Mina kemudian dikembangkan dengan konsep kota modular modern yang tetap mempertahankan bentuk khas tenda Arab tradisional.

Tenda-tenda putih dengan atap kerucut akhirnya menjadi identitas visual Mina hingga sekarang.

Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah Arab Saudi terus memperluas fasilitas di Mina sebagai bagian dari program Saudi Vision 2030.

Mina Tidak Pernah Benar-Benar Tidur

Meski hanya ramai saat musim haji, Mina memiliki sistem operasional layaknya kota besar.

Dilansir dari Saudi Press Agency, selama musim haji pemerintah Arab Saudi mengoperasikan:

  • Rumah sakit dan klinik darurat
  • Ribuan petugas kesehatan
  • Sistem pendingin udara besar
  • Jalur kereta dan bus jamaah
  • Dapur katering massal
  • Sistem pengelolaan limbah
  • Pengamanan berbasis AI dan CCTV

Seluruh fasilitas tersebut bekerja selama 24 jam untuk melayani jutaan jamaah.

Di malam hari, Mina tetap terang oleh cahaya lampu dari ribuan tenda putih yang berjejer rapat di sepanjang lembah.

Baca juga: Jemaah Haji Embarkasi Makassar Latihan Jalan Kaki ke Jamarat Jelang Puncak Haji di Mina

Makna Spiritual Mina dalam Ibadah Haji

Selain dikenal sebagai kota tenda terbesar, Mina juga memiliki makna spiritual sangat mendalam dalam sejarah Islam.

Di tempat inilah jamaah melaksanakan lempar jumrah yang melambangkan penolakan terhadap godaan setan sebagaimana kisah Nabi Ibrahim AS.

Dalam buku Fiqih Sunnah karya Sayyid Sabiq dijelaskan bahwa ritual lempar jumrah bukan sekadar melempar batu, melainkan simbol perjuangan manusia melawan hawa nafsu dan keburukan dalam hidup.

Oleh karena itu, Mina bukan hanya kawasan penginapan jamaah, tetapi juga tempat refleksi spiritual dan penghambaan kepada Allah SWT.

Kota yang Hanya Hidup Saat Musim Haji

Keunikan terbesar Mina adalah statusnya sebagai kota musiman.

Di luar musim haji, kawasan ini relatif sepi. Ribuan tenda putih tetap berdiri, tetapi hampir tidak berpenghuni.

Namun ketika Dzulhijjah tiba, Mina mendadak berubah menjadi salah satu kawasan paling padat di dunia.

Jutaan manusia berkumpul dalam satu lembah untuk menjalankan ibadah yang sama, mengenakan pakaian yang sama, dan mengumandangkan doa-doa yang sama.

Karena itulah Mina bukan sekadar kota tenda biasa. Ia menjadi simbol persatuan umat Islam dunia sekaligus bukti bagaimana ibadah haji mempertemukan manusia dari berbagai bangsa dalam satu tujuan spiritual yang sama.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Juknis dan Pedoman Masa Ta'aruf Murid Madrasah 2026/2027, Kemenag Pastikan Bebas Perundungan dan Perpeloncoan
Juknis dan Pedoman Masa Ta'aruf Murid Madrasah 2026/2027, Kemenag Pastikan Bebas Perundungan dan Perpeloncoan
Aktual
Kemenag Tegaskan Ruislag Tanah Wakaf Tak Bisa Sembarangan, Ini Syarat dan Aturannya
Kemenag Tegaskan Ruislag Tanah Wakaf Tak Bisa Sembarangan, Ini Syarat dan Aturannya
Aktual
Kemenhaj Minta PPIU Tertibkan Keberangkatan Umrah di Terminal 2F, Bagasi Harus Berlabel
Kemenhaj Minta PPIU Tertibkan Keberangkatan Umrah di Terminal 2F, Bagasi Harus Berlabel
Aktual
Wamenhaj Sambut Kepulangan Petugas Haji 2026 di Tanah Air, Sampaikan Apresiasi dan Siapkan Evaluasi
Wamenhaj Sambut Kepulangan Petugas Haji 2026 di Tanah Air, Sampaikan Apresiasi dan Siapkan Evaluasi
Aktual
Hukum Tradisi Menundukkan Kepala kepada Kiai, Ini Penjelasan MUI Jatim
Hukum Tradisi Menundukkan Kepala kepada Kiai, Ini Penjelasan MUI Jatim
Aktual
Jenis-Jenis Zina dalam Islam, Ternyata Tak Hanya Hubungan Badan
Jenis-Jenis Zina dalam Islam, Ternyata Tak Hanya Hubungan Badan
Aktual
Doa saat Terjadi Bencana Alam Lengkap Arab, Latin, dan Artinya untuk Memohon Perlindungan
Doa saat Terjadi Bencana Alam Lengkap Arab, Latin, dan Artinya untuk Memohon Perlindungan
Doa dan Niat
BWI Sebut DPR Bisa Tinggalkan Warisan Abadi lewat Wakaf Legislator
BWI Sebut DPR Bisa Tinggalkan Warisan Abadi lewat Wakaf Legislator
Aktual
Hukum Mengedarkan Kotak Amal dan QRIS Infak saat Khutbah Jumat Berlangsung, Boleh atau Tidak?
Hukum Mengedarkan Kotak Amal dan QRIS Infak saat Khutbah Jumat Berlangsung, Boleh atau Tidak?
Aktual
Khutbah Jumat Menyentuh Hati, Muhasabah demi Meraih Kebahagiaan di Akhirat
Khutbah Jumat Menyentuh Hati, Muhasabah demi Meraih Kebahagiaan di Akhirat
Aktual
PBNU Bentuk Tim Survei Lokasi Muktamar Ke-35 NU 2026, Lima Provinsi Jadi Kandidat
PBNU Bentuk Tim Survei Lokasi Muktamar Ke-35 NU 2026, Lima Provinsi Jadi Kandidat
Aktual
Gubernur Aceh Serukan Doa untuk Venezuela yang Pernah Bantu Saat Tsunami
Gubernur Aceh Serukan Doa untuk Venezuela yang Pernah Bantu Saat Tsunami
Aktual
Khutbah Jumat Muharram: Jangan Biarkan Tahun Berganti, tetapi Hati Tetap Sama
Khutbah Jumat Muharram: Jangan Biarkan Tahun Berganti, tetapi Hati Tetap Sama
Aktual
Khutbah Jumat 3 Juli 2026: Memaknai Usia 40 Tahun dan Fase Kahulah
Khutbah Jumat 3 Juli 2026: Memaknai Usia 40 Tahun dan Fase Kahulah
Aktual
Khutbah Jumat 3 Juli 2026: Jika Tak Bisa Berkata Baik, Maka Diam adalah Keselamatan
Khutbah Jumat 3 Juli 2026: Jika Tak Bisa Berkata Baik, Maka Diam adalah Keselamatan
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar