KOMPAS.com - Cara berbicara ternyata tidak hanya menyangkut sopan santun sosial, tetapi juga berkaitan dengan adab dalam agama.
Islam mengajarkan bahwa intonasi suara, pilihan kata, hingga sikap ketika berbicara mencerminkan keadaan hati seseorang.
Hal itu tampak jelas dalam kisah para sahabat Nabi Muhammad SAW yang begitu berhati-hati menjaga adab di hadapan Rasulullah.
Bahkan, ada seorang sahabat yang menangis dan ketakutan hanya karena merasa pernah berbicara dengan suara keras di depan Nabi.
Kisah tersebut berkaitan dengan turunnya Surah Al-Hujurat ayat 2 dan 3 yang menjadi salah satu fondasi penting tentang etika berbicara dalam Islam.
Baca juga: Kisah Ummu Mihjan, Marbot Perempuan di Masjid Nabawi yang Dimuliakan Rasulullah
Dalam Surah Al-Hujurat ayat 2, Allah SWT memberikan peringatan langsung kepada orang-orang beriman agar tidak meninggikan suara di hadapan Rasulullah SAW.
Allah SWT berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebagian kamu terhadap yang lain, nanti (pahala) segala amalmu bisa terhapus sedangkan kamu tidak menyadari.”
Ayat tersebut menunjukkan bahwa memuliakan Rasulullah SAW tidak hanya dilakukan melalui ketaatan, tetapi juga melalui sikap dan cara berbicara.
Dalam Tafsir Ibnu Katsir karya Ibnu Katsir dijelaskan bahwa ayat ini turun sebagai bentuk pendidikan adab kepada para sahabat agar mereka menjaga kehormatan Nabi Muhammad SAW.
Bahkan, meninggikan suara di hadapan beliau diperingatkan dapat menghapus pahala amal jika dilakukan dengan sikap tidak hormat.
Salah satu sahabat yang paling tersentuh dengan turunnya ayat tersebut adalah Tsabit bin Qais.
Dalam riwayat yang dikutip Imam Ath-Thabari dalam kitab tafsirnya, Tsabit dikenal sebagai sahabat yang memiliki suara lantang.
Ia sering berbicara dengan intonasi keras, termasuk ketika berbicara di hadapan Rasulullah SAW.
Ketika ayat Surah Al-Hujurat turun, Tsabit langsung merasa sangat takut.
Ia khawatir dirinya termasuk orang yang dimaksud dalam ayat tersebut dan takut seluruh amal ibadahnya menjadi sia-sia.
Diceritakan, suatu hari Tsabit duduk di pinggir jalan sambil menangis tersedu-sedu. Wajahnya tampak murung dan lemah.
Tak lama kemudian, Ashim bin Uday bin Ajlan lewat dan melihat keadaan Tsabit.
“Apa yang membuatmu menangis?” tanya Ashim.
Tsabit menjawab dengan penuh kegelisahan.
“Saya takut ayat itu turun karena saya. Saya memiliki suara yang keras ketika berbicara.”
Perasaan takut itu menunjukkan betapa besar penghormatan para sahabat kepada Rasulullah SAW dan betapa mereka sangat khawatir jika melakukan sesuatu yang tidak diridhai Allah SWT.
Baca juga: Kisah Uwais Al-Qarni Masa Kini: Anak Dorong Kursi Roda Ibu untuk Jalani Ibadah Haji di Tanah Suci
Ashim kemudian menyampaikan keadaan Tsabit kepada Rasulullah SAW.
Mendengar hal itu, Nabi Muhammad SAW segera memanggil Tsabit bin Qais.
Dalam sejumlah riwayat disebutkan bahwa Rasulullah kemudian memberikan kabar gembira kepada Tsabit.
Beliau bersabda:
“Tidakkah engkau rela hidup dalam kemuliaan, meninggal dalam keadaan syahid, dan masuk surga?”
Mendengar perkataan tersebut, Tsabit merasa sangat lega.
Ia lalu berjanji untuk menjaga adab ketika berbicara dengan Rasulullah SAW dan tidak lagi meninggikan suara di hadapan beliau.
Tidak lama setelah itu, Allah SWT menurunkan Surah Al-Hujurat ayat 3:
“Sesungguhnya orang-orang yang merendahkan suaranya di sisi Rasulullah, mereka itulah orang-orang yang telah diuji hatinya oleh Allah untuk bertakwa. Mereka akan memperoleh ampunan dan pahala yang besar.”
Ayat tersebut menjadi penghibur bagi Tsabit sekaligus pujian bagi orang-orang yang menjaga adab kepada Rasulullah SAW.
Kisah Tsabit bin Qais menunjukkan bahwa Islam sangat memperhatikan etika komunikasi.
Dalam buku Al-Adab Al-Mufrad karya Imam Bukhari dijelaskan bahwa menjaga ucapan termasuk bagian penting dari akhlak seorang Muslim.
Rasulullah SAW juga bersabda:
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata baik atau diam.” (HR Bukhari dan Muslim)
Oleh karena itu, para ulama menjelaskan bahwa suara yang lembut, perkataan santun, dan sikap hormat merupakan bagian dari ketakwaan.
Dalam Tafsir Al-Misbah karya M. Quraish Shihab dijelaskan bahwa larangan meninggikan suara di hadapan Nabi juga mengandung pelajaran universal tentang pentingnya menghormati guru, orang tua, pemimpin, dan sesama manusia.
Baca juga: Siapa Safinah? Kisah Budak Persia Jadi Pelayan Setia Rasulullah
Para ulama menegaskan bahwa makna ayat ini bukan sekadar larangan berbicara keras secara fisik.
Lebih dari itu, ayat tersebut juga berkaitan dengan sikap hati.
Dalam buku Riyadhus Shalihin karya Imam Nawawi disebutkan bahwa kesombongan, merasa paling benar, dan tidak menghargai orang lain juga termasuk bentuk buruknya adab dalam berbicara.
Oleh karena itu, Islam mengajarkan keseimbangan antara ucapan dan akhlak.
Seseorang bisa saja berbicara lembut, tetapi jika penuh hinaan dan kesombongan, maka nilai adabnya tetap hilang.
Sebaliknya, ucapan sederhana yang disampaikan dengan tulus dan santun justru lebih mulia di sisi Allah SWT.
Di era media sosial dan komunikasi digital saat ini, pelajaran dari Surah Al-Hujurat menjadi semakin relevan.
Perdebatan di ruang publik sering kali dipenuhi nada kasar, hinaan, dan kemarahan.
Padahal, Islam mengajarkan agar seorang Muslim menjaga lisannya, termasuk ketika menulis komentar atau menyampaikan pendapat di media digital.
Kisah Tsabit bin Qais menunjukkan bahwa para sahabat Nabi memiliki rasa takut luar biasa jika melakukan kesalahan dalam adab kepada Rasulullah SAW.
Mereka tidak merasa paling benar, melainkan segera introspeksi dan memperbaiki diri ketika mendapat teguran dari Allah SWT.
Sikap itulah yang membuat generasi sahabat dikenal sebagai generasi terbaik dalam sejarah Islam.
Dari kisah tersebut, umat Islam dapat belajar bahwa kemuliaan seseorang tidak hanya dilihat dari ilmu dan ibadahnya, tetapi juga dari kelembutan akhlak dan cara berbicaranya kepada orang lain.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang