MAKKAH, KOMPAS.com- Suasana haru menyeruak saat Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi 2026 melepas kepergian jemaah haji gelombang dua dari Makkah menuju ke Madinah, Minggu (7/7/2026).
Pelepasan dilakukan di Manazel Al Hoor Hotel 2, kawasan Misfalah, Sektor 7 Makkah.
Kelompok terbang (kloter) 18 JKG atau Jakarta Pondok Gede menjadi yang pertama didorong menuju ke Madinah sebelum pulang ke Tanah Air.
Baca juga: Jemaah Haji Gelombang Kedua ke Madinah, Kemenhaj Siapkan Layanan Kepulangan
Sejumlah petugas PPIH berseragam coklat pun turut mengantar kepergian jemaah haji dari Tanah Suci.
Mereka menyiapkan "pesan cinta" dengan spanduk dan juga kertas bertulis spidol. Beberapa di antaranya bertulis, 'Selamat Jalan Jemaah Haji Indonesia', 'We Will Miss You', 'Salam Cinta dari PPIH 2026', dan 'Rinduku Membersamai Mabrurmu'.
Salah satu jemaah haji, Rodiah lebih banyak diam saat bus yang ditumpanginya akan meninggalkan Makkah.
Dengan suara bergetar, Rodiah mengungkapkan perasaannya saat harus pergi dari Tanah Suci.
"Sedih," kata dia.
Jemaah lainnya, Desi merasakan hal yang sama. Hatinya seolah sudah tertambat di Makkah selama proses ibadah haji berlangsung.
Baca juga: Jemaah Haji Gelombang Kedua Mulai Diberangkatkan dari Makkah ke Madinah
Di satu sisi, Desi menyiapkan doa yang akan dibacanya ketika berada di kompleks makam Rasulullah di Madinah.
"Mendoakan keberkahan untuk anak cucu, keberkahan di dunia dan juga akhirat," katanya sembari mengusap air mata dengan tisu.
Kepala Daker Makkah Ihsan Faisal mengungkapkan, ada 14 kloter yang diberangkatkan pada hari pertama pelepasan jemaah gelombang kedua dari Makkah menuju ke Madinah.
PPIH memberlakukan batas waktu pemberangkatan jemaah setiap harinya, yakni mulai pagi hari hingga 18.00 waktu Arab Saudi.
Jemaah yang perdana diberangkatkan dari Makkah ke Madinah adalalah kloter 18 JKG dengan menggunakan 11 bus.
"Seluruh jemaah berjumlah 439," katanya.
Baca juga: Kebakaran di Hotel Jamaah Haji Indonesia di Makkah, PPIH Pastikan Semua Jamaah Selamat
PPIH pun menerapkan aturan bagi jemaah prioritas saat naik ke bus ketika pemberangkatan.
"Kita dahulukan lansia, disabilitas, perempuan, baru setelah itu laki-laki yang sehat dan terakhir ketua regu, rombongan, dan kloter," kata dia.
Jemaah yang diberangkatkan ke Madinah adalah jemaah yang sehat dan layak melakukan perjalanan. Mengingat jarak antara Makkah dan Madinah cukup jauh. Sedangkan jemaah sakit akan diberangkatan menyusul setelah kesehatan membaik.
"Kalau ada jemaah yang sakit dan sakitnya menurut dokter atau ahli kesehatan tidak boleh untuk diberangkatkan, akan dirawat di Makkah di rumah sakit Arab Saudi," ujarnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang