Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Rahasia Mbah Painah Kuat Jalani Haji: Jalan Kaki Lintasi 5 Desa Jualan Daun Pisang

Kompas.com, 8 Juni 2026, 10:42 WIB
Pythag Kurniati,
Khairina

Tim Redaksi

MAKKAH, KOMPAS.com - Di tengah jutaan manusia yang memadati Makkah, seorang perempuan sepuh menunaikan rukun hajinya dengan tangguh. Dia adalah Mbah Painah (65), jemaah asal Wonosobo, Jawa Tengah.

Tawaf, sa'i, hingga lempar jumrah dilaluinya tanpa bantuan kursi roda. Bagi orang lain, fisik rentanya mungkin terlihat mengkhawatirkan, namun dia mengaku tak merasakan capek.

"Tidak (capek)," jawab Mbah Painah dengan enteng, saat diwawancarai petugas Media Center Haji, Minggu (7/6/2026).

Baca juga: Selamat Jalan Jemaah Haji Indonesia, Rinduku Membersamai Mabrurmu..

Di balik fisik 'baja' Mbah Painah, rupanya ada kebiasaan yang mungkin tidak banyak dilakukan orang lain. Dia menjalankan rutinitas harian dengan rute yang lebih jauh selama 35 tahun.

Mbah Painah adalah seorang penjual daun pisang yang saban hari harus melintasi lima desa. Dia harus mendistribusikan daun-daun pisang kepada para pelanggan, mulai dari penjual makanan hingga warga yang tengah menggelar hajatan.

Sejak pukul setengah dua dini hari, saat hawa dingin Wonosobo masih menusuk tulang, ia sudah terjaga untuk bersiap pergi ke pasar pagi.

"Jalan kaki saya," ucapnya ringkas.

Cara Mbah Painah Menabung

Kepergian Mbah Painah ke Baitullah adalah kisah tentang ketekunan. Selama 18 tahun, asa untuk menginjakkan kaki di Tanah Suci itu dipupuk sedikit demi sedikit melalui uang recehan sisa berjualan.

Tanpa strategi investasi yang rumit, ia menitipkan uangnya melalui tabungan ibu-ibu PKK atau arisan kampung.

"Kalau ada sisa ya saya kumpulkan," ungkap Mbah Painah.

Saat ditanya lebih jauh mengenai nilai tabungannya, perempuan sederhana ini mengaku hanya menyisihkan sedikit dari penghasilannya.

"Tidak banyak, paling dua ratus ribu (rupiah)."

Baca juga: Jemaah Haji Gelombang Kedua ke Madinah, Kemenhaj Siapkan Layanan Kepulangan

Dia juga bercerita bahwa suaminyalah yang awalnya berniat berhaji. Mbah Painah awalnya lebih memilih tinggal di rumah bersama anak-anak.

Rupanya sang suami bersikeras agar mereka berdua mendaftar dan berangkat bersama. Sayangnya, takdir menggariskan cerita yang berbeda. Suaminya gagal memenuhi syarat kesehatan akibat gangguan jantung.

Porsi haji tersebut akhirnya dilimpahkan kepada anak mereka yang kini setia mendampingi ibundanya di Tanah Suci.

"Yang ngajak dulu malah tidak berangkat," cerita anaknya pelan.

Baca juga: Kebakaran Hotel Al Hidayah di Makkah, Bagaimana Nasib Jemaah Haji Indonesia?

Doa dari Tanah Suci

Di tempat-tempat paling mustajab, termasuk saat wukuf di padang Arafah, ia mengaku banyak berdoa untuk keluarga, terutama anak keturunannya.

"Saya memohon anak-anak dan cucu-cucu sehat walafiat," tuturnya.

Mbah Painah juga ditanya soal harapannya setelah menunaikan rukun Islam kelima ini. Sembari bergurau, ia sempat memberikan jawaban yang membuat orang di sekelilingnya tertawa.

"Sugih (kaya)," jawabnya dalam bahasa Jawa.

Namun, bukan sekadar kaya secara materi. Kekayaan yang dimaksud lebih luas, termasuk selalu diberi kesehatan.

"Yang penting sugih waras (kekayaan berupa kesehatan)," ungkapnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Menengok Semangat Teman Tuli Banyuwangi Mengeja Ayat Suci Lewat Gerak Tangan
Menengok Semangat Teman Tuli Banyuwangi Mengeja Ayat Suci Lewat Gerak Tangan
Aktual
Rahasia Mbah Painah Kuat Jalani Haji: Jalan Kaki Lintasi 5 Desa Jualan Daun Pisang
Rahasia Mbah Painah Kuat Jalani Haji: Jalan Kaki Lintasi 5 Desa Jualan Daun Pisang
Aktual
'Selamat Jalan Jemaah Haji Indonesia, Rinduku Membersamai Mabrurmu..'
"Selamat Jalan Jemaah Haji Indonesia, Rinduku Membersamai Mabrurmu.."
Aktual
Gerhana Matahari Total 12 Agustus 2026, Ini Tata Cara Shalat Gerhana dan Doa yang Dianjurkan
Gerhana Matahari Total 12 Agustus 2026, Ini Tata Cara Shalat Gerhana dan Doa yang Dianjurkan
Doa dan Niat
Jemaah Haji Gelombang Kedua ke Madinah, Kemenhaj Siapkan Layanan Kepulangan
Jemaah Haji Gelombang Kedua ke Madinah, Kemenhaj Siapkan Layanan Kepulangan
Aktual
180.000 Karpet Masjid Nabawi Dicuci Setiap Tahun, Begini Prosesnya
180.000 Karpet Masjid Nabawi Dicuci Setiap Tahun, Begini Prosesnya
Aktual
Arab Saudi Bangun Kota Kopi Pertama untuk Ekonomi di Luar Minyak
Arab Saudi Bangun Kota Kopi Pertama untuk Ekonomi di Luar Minyak
Aktual
Museum Haramain di Makkah, Wisata Sejarah Islam Dekat Masjidil Haram yang Bisa Diakses Gratis
Museum Haramain di Makkah, Wisata Sejarah Islam Dekat Masjidil Haram yang Bisa Diakses Gratis
Aktual
Jemaah Haji Lansia dan Disabilitas Diprioritaskan Tempati Hotel Terdekat Masjid Nabawi
Jemaah Haji Lansia dan Disabilitas Diprioritaskan Tempati Hotel Terdekat Masjid Nabawi
Aktual
Bagasi Jemaah Haji Indonesia Tertinggal di Arab Saudi, Kemenhaj Pastikan Tetap Dikirim
Bagasi Jemaah Haji Indonesia Tertinggal di Arab Saudi, Kemenhaj Pastikan Tetap Dikirim
Aktual
Nama-Nama Bulan Hijriah dan Artinya, Urut dari Muharram hingga Dzulhijjah
Nama-Nama Bulan Hijriah dan Artinya, Urut dari Muharram hingga Dzulhijjah
Aktual
Perbedaan Kalender Hijriah dan Masehi: Dasar Perhitungan, Jumlah Hari, dan Awal Bulan
Perbedaan Kalender Hijriah dan Masehi: Dasar Perhitungan, Jumlah Hari, dan Awal Bulan
Aktual
Gus Yahya Apresiasi Pelatihan 5.000 Pengasuh Pesantren Hadapi Era Disrupsi
Gus Yahya Apresiasi Pelatihan 5.000 Pengasuh Pesantren Hadapi Era Disrupsi
Aktual
Tersembunyi di Masjid Nabawi, Museum Ini Simpan Al-Quran Berusia Lebih dari 800 Tahun
Tersembunyi di Masjid Nabawi, Museum Ini Simpan Al-Quran Berusia Lebih dari 800 Tahun
Aktual
Perbedaan Kalender Hijriah dan Masehi, dari Sistem Perhitungan hingga Penentuan Awal Bulan
Perbedaan Kalender Hijriah dan Masehi, dari Sistem Perhitungan hingga Penentuan Awal Bulan
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com