BANYUWANGI, KOMPAS.com - Setiap helai napas, tegukan air dingin di tengah teriknya siang, hingga rasa aman saat memejamkan mata di malam hari adalah karunia yang kerap kita anggap angin lalu.
Kita sering meyakini bahwa ujian hidup hanyalah berupa kesempitan, penyakit, atau kegagalan.
Padahal, kenikmatan yang melimpah justru menyimpan potensi ujian yang jauh lebih berat.
Fenomena perlombaan menumpuk harta dan kemewahan, atau yang kini akrab disebut budaya flexing sebenarnya telah diingatkan Al-Qur'an sejak belasan abad lalu.
Baca juga: Mbah Riyan, Tukang Bangunan asal Kudus yang Karya Tahqiq Kitabnya Jadi Rujukan Dunia
Di penutup Surah At-Takatsur, Allah SWT memberikan peringatan tajam yang menghentak kesadaran setiap hamba:
ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ
"Kemudian kamu pasti akan ditanya pada hari itu tentang segala nikmat (yang kamu megah-megahkan di dunia)." (QS At-Takātsur: 8)
Ayat ini bukan sekadar kalimat penutup, melainkan sebuah maklumat serius tentang hari perhitungan (yaumul hisab). Kata an-na'im di sana mencakup seluruh spektrum kenikmatan, di antaranya rezeki, kesehatan, waktu luang, status sosial, hingga hal-hal sesederhana seteguk air jernih yang membasahi kerongkongan.
Para ulama menafsirkan bahwa penyebutan nikmat-nikmat sederhana oleh para sahabat Rasulullah SAW seperti makanan harian atau naungan pohon, bukanlah untuk membatasi makna ayat.
Justru menjadi cermin teguran bahwa jika nikmat sesederhana air dingin saja akan dimintai pertanggungjawaban, bagaimana dengan nikmat besar yang saban hari kita nikmati dan pamerkan?
Ujian atas nikmat tidak berhenti pada bagaimana cara kita mendapatkannya, tetapi juga pada bagaimana nikmat itu dikelola.
Da'i Lajnah Dakwah PC Al Irsyad Al Islamiyyah Banyuwangi menyampaikan:
"Setiap nikmat yang melekat pada diri kita pada hakikatnya adalah titipan yang mengikat. Di akhirat kelak, tidak ada satu pun nikmat yang lolos dari tiga audit utama: dari mana ia diperoleh, digunakan untuk apa, dan apakah ada hak Allah serta hak sesama, seperti fakir miskin yang telah kita tunaikan di dalamnya. Nikmat yang tidak mendekatkan kita kepada Allah hanya akan menjadi beban pembuktian di hadapan-Nya."
Mengingat beratnya pertanggungjawaban tersebut, seorang mukmin dituntut untuk mengubah cara pandangnya terhadap karunia duniawi.
Nikmat tak lagi dipandang sebagai ajang gaya hidup, melainkan sebagai sarana mengumpulkan bekal akhirat.
Baca juga: Sambut Kemerdekaan RI, Kemenag Gelar Zikir dan Doa Kebangsaan di Monas
Langkah awalnya dimulai dari memastikan kehalalan sumber rezeki, mempergunakannya dalam batas ketaatan, dan senantiasa melisankan syukur.
Rasa syukur yang sejati bukan hanya terucap lewat alhamdulillah, melainkan diwujudkan dengan berbagi manfaat kepada sesama.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang