Editor
KOMPAS.com - Shalat Jumat merupakan kewajiban bagi laki-laki Muslim yang memenuhi syarat, sementara Islam juga memberikan rukhsah atau keringanan bagi orang yang sedang bepergian.
Karena itu, muncul pertanyaan apakah shalat Jumat dapat dijamak dengan shalat Ashar ketika seseorang hendak atau sedang melakukan safar.
Dilansir dari laman Muhammadiyah, berikut penjelasan hukum beserta dalil yang menjadi landasannya.
Baca juga: Niat Shalat Jumat untuk Imam dan Makmum, Lengkap Arab, Latin, dan Artinya
Pertanyaan mengenai boleh atau tidaknya menjamak shalat Jumat dengan shalat Ashar kerap muncul, terutama di kalangan Muslim yang harus melakukan perjalanan jauh pada hari Jumat.
Memang tidak terdapat dalil yang secara tegas menyebutkan praktik menjamak shalat Jumat dengan shalat Ashar.
Baca juga: Bacaan Bilal Shalat Jumat: Arab, Latin, dan Artinya, serta Tata Cara Melaksanaannya
Meski demikian, para ulama di Majelis Tarjih membolehkan praktik tersebut dengan berlandaskan dalil-dalil umum mengenai rukhsah safar, yakni keringanan menjamak shalat bagi orang yang sedang atau akan melakukan perjalanan.
Dalam syariat Islam, musafir diperbolehkan menjamak shalat Zuhur dengan Ashar serta Magrib dengan Isya, baik dengan jamak taqdim maupun jamak takhir.
Adapun shalat Subuh tidak termasuk shalat yang dapat dijamak. Ketentuan ini memiliki landasan kuat dari sunnah Rasulullah SAW.
Salah satu dalil mengenai jamak shalat saat safar terdapat dalam hadis riwayat Muslim dari Anas bin Malik.
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا ارْتَحَلَ قَبْلَ أَنْ تَزِيغَ الشَّمْسُ أَخَّرَ الظُّهْرَ إِلَى وَقْتِ الْعَصْرِ ثُمَّ نَزَلَ فَجَمَعَ بَيْنَهُمَا فَإِنْ زَاغَتْ الشَّمْسُ قَبْلَ أَنْ يَرْتَحِلَ صَلَّى الظُّهْرَ ثُمَّ رَكِبَ
[رواه مسلم]
Artinya: “Bahwasanya Rasulullah saw apabila akan bepergian sebelum matahari tergelincir, beliau mengakhirkan shalat Zuhur hingga waktu Ashar, kemudian beliau berhenti dan menjamak keduanya. Apabila matahari telah tergelincir sebelum beliau berangkat, maka beliau shalat Zuhur terlebih dahulu, kemudian naik kendaraan.” (HR. Muslim).
Dalil lain diriwayatkan Imam Ahmad melalui Kuraib dari Ibnu Abbas yang menjelaskan tata cara Rasulullah SAW menjamak shalat ketika bepergian.
أَلَا أُحَدِّثُكُمْ عَنْ صَلَاةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي السَّفَرِ قَالَ قُلْنَا بَلَى قَالَ كَانَ إِذَا زَاغَتْ الشَّمْسُ فِي مَنْزِلِهِ جَمَعَ بَيْنَ الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ قَبْلَ أَنْ يَرْكَبَ وَإِذَا لَمْ تَزِغْ لَهُ فِي مَنْزِلِهِ سَارَ حَتَّى إِذَا حَانَتْ الْعَصْرُ نَزَلَ فَجَمَعَ بَيْنَ الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ وَإِذَا حَانَتْ الْمَغْرِبُ فِي مَنْزِلِهِ جَمَعَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ الْعِشَاءِ وَإِذَا لَمْ تَحِنْ فِي مَنْزِلِهِ رَكِبَ حَتَّى إِذَا حَانَتْ الْعِشَاءُ نَزَلَ فَجَمَعَ بَيْنَهُمَا
[رواه أحمد]
Artinya: “Maukah aku ceritakan kepada kalian tentang shalat Rasulullah saw ketika bepergian? Kami menjawab, ya. Ibnu Abbas berkata: Jika matahari telah tergelincir sementara beliau masih di tempat tinggalnya, beliau menjamak shalat Zuhur dan Ashar sebelum berangkat. Jika belum tergelincir, beliau berjalan hingga masuk waktu Ashar, lalu berhenti dan menjamak shalat Zuhur dan Ashar. Jika waktu Magrib telah tiba sementara beliau masih di rumah, beliau menjamak Magrib dan Isya. Jika belum tiba, beliau terus berjalan hingga masuk waktu Isya, lalu berhenti dan menjamak keduanya.” (HR. Ahmad).
Berdasarkan keumuman hadis-hadis tersebut, ketentuan jamak juga berlaku bagi perjalanan yang dilakukan pada hari Jumat. Dengan demikian, shalat Jumat diposisikan sebagai pengganti shalat Zuhur, sehingga dapat dijamak dengan shalat Ashar bagi orang yang akan atau sedang melakukan safar.
Pelaksanaan jamak dilakukan setelah shalat Jumat selesai dikerjakan.
Apabila jamak dilakukan ketika seseorang masih berada di kampung halamannya dan belum keluar dari wilayah tempat tinggalnya, maka shalat Ashar tetap dilaksanakan secara sempurna sebanyak empat rakaat.
Dalam kondisi tersebut, shalat belum boleh diqasar karena seseorang belum benar-benar memulai perjalanan.
Ketentuan ini didasarkan pada firman Allah SWT dalam QS An-Nisa ayat 101.
وَاِذَا ضَرَبْتُمْ فِى الْاَرْضِ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ اَنْ تَقْصُرُوْا مِنَ الصَّلٰوةِ ۖ اِنْ خِفْتُمْ اَنْ يَّفْتِنَكُمُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْاۗ اِنَّ الْكٰفِرِيْنَ كَانُوْا لَكُمْ عَدُوًّا مُّبِيْنًا
Artinya: “Apabila kamu bepergian di bumi, maka tidak ada dosa bagimu untuk mengqashar shalat. Sesungguhnya orang-orang kafir itu adalah musuh yang nyata bagimu.”
Ayat tersebut menegaskan bahwa qasar berkaitan langsung dengan kondisi safar. Hal ini juga diperkuat oleh praktik Rasulullah SAW sebagaimana diriwayatkan Anas bin Malik.
صَلَّيْتُ الظُّهْرَ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْمَدِينَةِ أَرْبَعًا وَالْعَصْرِ بِذِي الْحُلَيْفَةِ رَكْعَتَيْنِ
[رواه الجماعة]
Artinya: “Aku shalat Zuhur bersama Nabi saw di Madinah empat rakaat, dan shalat Ashar di Zul Hulaifah dua rakaat.”
Hadis tersebut menunjukkan bahwa Rasulullah SAW baru mengqasar shalat setelah benar-benar keluar dari Kota Madinah dan memulai perjalanan.
Shalat Jumat boleh dijamak dengan shalat Ashar bagi orang yang akan atau sedang melakukan safar berdasarkan keumuman dalil tentang jamak shalat dalam perjalanan.
Jamak dilakukan setelah pelaksanaan shalat Jumat. Namun, apabila masih berada di wilayah tempat tinggal dan belum memulai perjalanan, shalat Ashar tetap dikerjakan empat rakaat dan tidak boleh diqasar.
Keringanan qasar baru berlaku setelah seseorang benar-benar berada dalam kondisi safar.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang