Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Gotong Royong Warga dan Rumah Amal Salman, Air Bersih Kini Mengalir di Desa Jamat

Kompas.com, 9 Agustus 2026, 08:03 WIB
Reni Susanti

Editor

ACEH TENGAH, KOMPAS.com - Setahun setelah banjir besar melanda Desa Jamat, Kecamatan Linge, Kabupaten Aceh Tengah, persoalan air bersih masih membayangi kehidupan warga.

Air yang tersedia kerap keruh dan tidak layak dikonsumsi. Warga pun harus menghadapi keterbatasan air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Kini, kondisi tersebut mulai berubah. Sistem penyediaan air bersih hasil kolaborasi Ikatan Istri Dokter Indonesia (IIDI), Institut Teknologi Bandung (ITB), dan Rumah Amal Salman mulai dapat dimanfaatkan masyarakat.

Wakil Bupati Aceh Tengah Muchsin Hasan mengatakan, fasilitas tersebut mampu mengolah air yang sebelumnya keruh menjadi lebih jernih dan dapat digunakan masyarakat.

"Sebelumnya masyarakat memang mengalami kesulitan mendapatkan air bersih. Kami menyaksikan sendiri bagaimana air yang semula keruh kini dapat diolah menjadi jernih dan layak digunakan untuk kebutuhan memasak maupun konsumsi," kata Muchsin dalam rilisnya, Minggu (9/8/2026).

Baca juga: Masjid Yokohama Jepang Resmi Berdiri, Jusuf Kalla: Simbol Persatuan dan Gotong Royong Umat Dunia

Fasilitas air bersih tersebut diserahkan kepada Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah pada Selasa (4/8/2026).

Penyerahan turut dihadiri pemerintah kecamatan, pemerintah desa, dan sejumlah perangkat daerah.

Perwakilan Pengurus IIDI mengatakan, pemenuhan kebutuhan air bersih menjadi salah satu bagian penting dalam pemulihan kehidupan masyarakat setelah bencana.

"Air adalah kebutuhan yang sangat vital. Kami berharap fasilitas yang hari ini diserahkan benar-benar memberi manfaat bagi masyarakat dan dapat digunakan dalam jangka panjang," ujarnya.

Dibangun Gotong Royong Sejak Februari

Fasilitas tersebut dibangun secara bertahap sejak Februari 2026.

Tim relawan kebencanaan Rumah Amal Salman bersama warga Desa Jamat mengerjakan sejumlah infrastruktur dengan pola gotong royong.

Mewakili ITB, Ketua Pengurus Rumah Amal Salman Mipi Ananta Kusuma mengatakan, tahap pertama dilakukan dengan membangun kolam pengendapan berdiameter sekitar empat meter dengan kapasitas 12.500 liter.

Kolam berfungsi menampung air sungai sekaligus mengendapkan lumpur dan material sebelum air memasuki proses pengolahan.

“Kebutuhan warga akan air cukup besar, sehingga sejak Februari secara bergotong royong kita tarik dari puncak gunung dengan pipa 2 inci. Begitu saja berprogres agar kebutuhan air bisa terpenuhi. Meski air yang disalurkan kepada warga kurang jernih namun setidaknya masih layak digunakan untuk kebutuhan sehari-hari seperti mandi dan mencuci baju,” tutur Mipi.

Baca juga: Muhammadiyah Maknai Jihad Masa Kini dengan Membangun Bangsa, Bukan Kekerasan

Pembangunan kemudian dilanjutkan dengan penguatan fondasi, pembuatan kolam pengendapan kedua, penataan jalur perpipaan, hingga pemasangan Instalasi Pengolahan Air (IPA).

Sekitar 10 warga setiap hari ikut terlibat dalam pengerjaan fasilitas tersebut. Keterlibatan warga diperlukan agar fasilitas tidak berhenti berfungsi setelah program selesai.

“Program peningkatan akses air bersih harapannya bisa dimanfaatkan dan berkelanjutan, sehingga ketika ITB menyerahkan kepada masyarakat, mohon ini bisa dirawat bersama,” kata Mipi.

Bagi warga Desa Jamat, tersedianya fasilitas tersebut menjadi harapan baru setelah akses air bersih terganggu akibat banjir.

"Kami mengucapkan terima kasih kepada IIDI, ITB, Rumah Amal Salman, dan pemerintah atas bantuan yang telah diberikan. Saat ini, kami masyarakat dapat menikmati air bersih yang selama ini sangat dibutuhkan," kata perwakilan warga.

Bangun Irigasi untuk Sawah

Selain penyediaan air bersih, relawan dan warga juga membangun kembali jaringan irigasi untuk mengairi lahan pertanian yang terdampak banjir.

Infrastruktur irigasi sebelumnya rusak dan hanyut diterjang banjir sehingga mengganggu pasokan air menuju persawahan.

Untuk memulihkan jaringan tersebut, dibangun jembatan pipa sepanjang sekitar 100 meter menggunakan dua pipa berdiameter empat inci. Pipa disangga dengan sistem sling menyerupai jembatan gantung.

Sebanyak 16 batang pipa dipasang untuk membentuk jaringan distribusi menuju kawasan persawahan. Pengerjaan tersebut diselesaikan dalam waktu dua hari.

“Pasca bencana warga memang kehilangan lahan infrastuktur untuk mengalirkan air ke sawah, karena pipa irigasi sebelumnya sudah hanyut terbawa banjir. Meski memang masih ada satu tahapan lagi agar air bisa masuk ke sawah secara optimal, yakni dengan membuka saluran irigasi di darat agar bisa dekat dengan sumber air,” katanya.

Program pemulihan Desa Jamat juga direncanakan berlanjut pada penataan kawasan pertanian dan permukiman melalui konsolidasi tanah pascabencana.

“Program usulan ini mungkin baru bisa akan dilaksanakan 1-2 tahun ke depan di Desa Jamat, karena melalui konsolidasi tanah ini kita bisa mensinergikan antara stakeholder agar lokasi bencana bisa segera pulih,” katanya.

Bagian dari ITB Peduli Sumatera

Manager Program Rumah Amal Salman Abdul Azis mengatakan, pembangunan fasilitas di Desa Jamat merupakan bagian dari program ITB Peduli Sumatera.

Program tersebut menyasar wilayah yang masih mengalami persoalan infrastruktur setelah bencana, khususnya terkait akses air bersih.

Selain membangun fasilitas, tim melakukan pemantauan, evaluasi, penguatan sistem, serta pembangunan infrastruktur tambahan jika dibutuhkan.

Program melibatkan ITB, Ikatan Alumni ITB, pemerintah daerah, mitra lokal, Rumah Amal Salman, dan YPM Salman.

Pada 2026, program tersebut menargetkan lima lokasi pascabencana di Sumatera, yakni Tukka, Babo, Pengidam, Air Tenang, dan Jamat.

Selain penyediaan air bersih, program diarahkan untuk membantu pemulihan infrastruktur yang mendukung kehidupan masyarakat setelah bencana.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Tahajud, PBB, hingga Api Unggun: Cara MAN 2 Bandung Bentuk Karakter Murid Baru
Tahajud, PBB, hingga Api Unggun: Cara MAN 2 Bandung Bentuk Karakter Murid Baru
Aktual
Astaghfirullah Artinya Apa? Ketahui Makna, Keutamaan, dan Tulisan Arabnya
Astaghfirullah Artinya Apa? Ketahui Makna, Keutamaan, dan Tulisan Arabnya
Doa dan Niat
Vegetarian Makin Populer di Arab Saudi, Pola Makan Warga Mulai Bergeser
Vegetarian Makin Populer di Arab Saudi, Pola Makan Warga Mulai Bergeser
Aktual
Jadwal Pengajuan BOS Madrasah dan BOP RA Tahap II 2026, Total Rp 4,1 Triliun
Jadwal Pengajuan BOS Madrasah dan BOP RA Tahap II 2026, Total Rp 4,1 Triliun
Aktual
Al-Qanun Al-Asasi Kembali Disosialisasikan, Gus Kikin: Ini Ruh NU
Al-Qanun Al-Asasi Kembali Disosialisasikan, Gus Kikin: Ini Ruh NU
Aktual
Lulusan Fakultas Syariah dan Hukum 111 PTKI Disiapkan Jadi Advokat
Lulusan Fakultas Syariah dan Hukum 111 PTKI Disiapkan Jadi Advokat
Aktual
Madrasah Bisa Ajukan BOS via Digital, Kemenag Siapkan Rp 4,1 Triliun
Madrasah Bisa Ajukan BOS via Digital, Kemenag Siapkan Rp 4,1 Triliun
Aktual
Muhaimin Iskandar: Kawasan Ekonomi Pesantren Bisa Jadi Motor Pengentasan Kemiskinan
Muhaimin Iskandar: Kawasan Ekonomi Pesantren Bisa Jadi Motor Pengentasan Kemiskinan
Aktual
Anies Kenang Habib Saggaf Aljufri: Ilmu Tinggi, Hati Rendah, Permata Umat
Anies Kenang Habib Saggaf Aljufri: Ilmu Tinggi, Hati Rendah, Permata Umat
Aktual
Gotong Royong Warga dan Rumah Amal Salman, Air Bersih Kini Mengalir di Desa Jamat
Gotong Royong Warga dan Rumah Amal Salman, Air Bersih Kini Mengalir di Desa Jamat
Aktual
Kemenag Siapkan BOS Madrasah dan BOP RA Tahap II Rp4,1 Triliun, Ini Jadwal Pengajuannya
Kemenag Siapkan BOS Madrasah dan BOP RA Tahap II Rp4,1 Triliun, Ini Jadwal Pengajuannya
Aktual
Wamenag Minta Perketat Perlindungan Anak di Madrasah, bangun Budaya Berani Melapor
Wamenag Minta Perketat Perlindungan Anak di Madrasah, bangun Budaya Berani Melapor
Aktual
Muhammadiyah Maknai Jihad Masa Kini dengan Membangun Bangsa, Bukan Kekerasan
Muhammadiyah Maknai Jihad Masa Kini dengan Membangun Bangsa, Bukan Kekerasan
Aktual
Ma'ruf Amin Dorong NU Perkuat Umat dan Kemandirian Ekonomi
Ma'ruf Amin Dorong NU Perkuat Umat dan Kemandirian Ekonomi
Aktual
Buka Muktamar Tapak Suci XIV, Ahmad Luthfi Soroti Peran Pencak Silat dalam Membangun Karakter dan Persatuan
Buka Muktamar Tapak Suci XIV, Ahmad Luthfi Soroti Peran Pencak Silat dalam Membangun Karakter dan Persatuan
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar