Editor
KOMPAS.com — Sistem pendidikan pesantren dinilai memiliki potensi untuk menjadi salah satu model pendidikan holistik yang dapat dipelajari dunia, terutama di tengah tantangan kesehatan mental remaja dan perubahan kebutuhan keterampilan masa depan.
Rektor Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor Hamid Fahmy Zarkasyi mengatakan, pendidikan masa depan tidak cukup hanya membekali peserta didik dengan kemampuan akademik dan keterampilan untuk memasuki dunia kerja.
Pendidikan juga perlu membentuk karakter, ketahanan diri, kepemimpinan, empati, hingga spiritualitas.
"Pendidikan saat ini berada di persimpangan jalan. Tantangan masa depan seperti kemampuan berpikir analitis, resiliensi, kepemimpinan, dan empati adalah kompetensi non-teknis yang berakar pada pendidikan karakter," kata Hamid dalam rilis yang diterima Kompas.com, Senin (17/8/2026).
Baca juga: Kiai Imam Jazuli, Tokoh Transformatif Pesantren
Menurut dia, pendekatan tersebut telah lama menjadi bagian dari sistem pendidikan pesantren di Indonesia.
Hamid bahkan menyebut pesantren sebagai school of life atau sekolah kehidupan karena pendidikan santri tidak berhenti ketika proses belajar di kelas selesai.
Hamid mengatakan, kehidupan santri selama 24 jam menjadi bagian dari proses pendidikan.
Mereka tidak hanya mempelajari ilmu pengetahuan dan agama, tetapi juga menjalani kehidupan bersama yang membentuk disiplin, kemandirian, kemampuan berorganisasi, kepemimpinan, hingga pengabdian kepada masyarakat.
"Di pesantren, santri dididik melalui disiplin 24 jam, organisasi, kepemimpinan, hingga pengabdian masyarakat," ujarnya.
Menurut Hamid, model tersebut membuat pendidikan pesantren tidak hanya berorientasi pada kemampuan intelektual.
"Di saat dunia Barat baru sibuk mendiskusikan konsep well-being dan pembentukan karakter untuk mengatasi krisis mental remaja, pesantren di Indonesia sudah mempraktikkannya selama berabad-abad melalui integrasi ilmu, adab, dan spiritualitas," kata dia.
Baca juga: Jelang 100 Tahun Gontor, UNIDA Siapkan Buku “Hadiah Gontor untuk Indonesia”
Pendekatan tersebut, menurut Hamid, menjadi semakin relevan ketika dunia menghadapi berbagai tantangan pendidikan.
Ia menyinggung data WHO dan UNICEF pada 2024 mengenai persoalan kesehatan mental remaja serta proyeksi World Economic Forum terkait perubahan keterampilan inti yang dibutuhkan dalam dunia kerja menuju 2030.
Kondisi tersebut menunjukkan pendidikan perlu mempersiapkan generasi muda bukan hanya untuk menghadapi perubahan pekerjaan, tetapi juga agar memiliki ketahanan dan karakter dalam menjalani kehidupan.
Menurut Hamid, pendidikan holistik perlu menyeimbangkan kemampuan intelektual, spiritual, dan moral.
Ia menggambarkan pendidikan tersebut sebagai sistem yang mampu menyentuh "kepala, hati, dan tangan" secara bersamaan.
"Kita membutuhkan sistem pendidikan yang menyentuh 'kepala, hati, dan tangan' secara bersamaan," ujar Hamid.
"Pendidikan tidak boleh hanya mencetak tenaga kerja, tapi harus membentuk manusia seutuhnya," lanjutnya.
Gagasan tersebut akan menjadi salah satu pembahasan dalam Global Islamic Holistic Education Summit (GIHES) 2026 yang digelar menjelang peringatan 100 tahun Pondok Modern Darussalam Gontor (1926-2026).
Simposium internasional tersebut akan berlangsung pada 5-6 September 2026 di Jakarta dengan tema "Exploring and Revealing the Pesantren Education System".
Forum itu dirancang untuk mempertemukan perspektif pendidikan dari berbagai negara sekaligus mengkaji sistem pendidikan pesantren secara ilmiah.
Sejumlah akademisi dari berbagai negara dijadwalkan mengikuti forum tersebut.
Mereka antara lain Nuri Tinaz dari Marmara University, Turki; Mahamood Shihab K.M. dari Anshar Training College for Women, India; Norazah Mohd. Nordin dari Universiti Kebangsaan Malaysia; serta Ryoko Tsuneyoshi dari Bunkyo Gakuin University, Jepang.
Ryoko antara lain akan membahas perbandingan konsep Tokkatsu dalam pendidikan Jepang dengan sistem pendidikan asrama Islam.
Sejumlah tokoh dan akademisi Indonesia juga dijadwalkan hadir, antara lain Ketua MPR RI Ahmad Muzani, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti, Menteri Agama Nasaruddin Umar, serta akademisi UIN Sunan Kalijaga Amin Abdullah.
Hamid berharap pertemuan tersebut dapat membawa pengalaman panjang pesantren di Indonesia menjadi pengetahuan yang terdokumentasi dan dapat dikaji secara ilmiah oleh masyarakat internasional.
Dengan demikian, praktik pendidikan yang selama ini hidup di lingkungan pesantren tidak hanya menjadi pengalaman lokal, tetapi dapat menjadi salah satu referensi dalam pembicaraan mengenai masa depan pendidikan.
Forum tersebut juga diharapkan menghasilkan "Deklarasi GIHES" sebagai komitmen bersama untuk mengembangkan pendidikan Islam pada masa mendatang.
Bagi Hamid, tantangan pendidikan hari ini pada akhirnya bukan hanya bagaimana membuat peserta didik menguasai ilmu dan mampu bekerja.
Pendidikan juga perlu menyiapkan manusia yang memiliki karakter, adab, spiritualitas, kemampuan memimpin, dan ketahanan menghadapi perubahan.
Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT