Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

100 Tahun Gontor, Pesantren Ditawarkan Jadi Model Pendidikan Holistik Dunia

Kompas.com, 17 Agustus 2026, 13:11 WIB
Reni Susanti

Editor

KOMPAS.com — Sistem pendidikan pesantren dinilai memiliki potensi untuk menjadi salah satu model pendidikan holistik yang dapat dipelajari dunia, terutama di tengah tantangan kesehatan mental remaja dan perubahan kebutuhan keterampilan masa depan.

Rektor Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor Hamid Fahmy Zarkasyi mengatakan, pendidikan masa depan tidak cukup hanya membekali peserta didik dengan kemampuan akademik dan keterampilan untuk memasuki dunia kerja.

Pendidikan juga perlu membentuk karakter, ketahanan diri, kepemimpinan, empati, hingga spiritualitas.

"Pendidikan saat ini berada di persimpangan jalan. Tantangan masa depan seperti kemampuan berpikir analitis, resiliensi, kepemimpinan, dan empati adalah kompetensi non-teknis yang berakar pada pendidikan karakter," kata Hamid dalam rilis yang diterima Kompas.com, Senin (17/8/2026).

Baca juga: Kiai Imam Jazuli, Tokoh Transformatif Pesantren

Menurut dia, pendekatan tersebut telah lama menjadi bagian dari sistem pendidikan pesantren di Indonesia.

Hamid bahkan menyebut pesantren sebagai school of life atau sekolah kehidupan karena pendidikan santri tidak berhenti ketika proses belajar di kelas selesai.

Pesantren sebagai "Sekolah Kehidupan"

Hamid mengatakan, kehidupan santri selama 24 jam menjadi bagian dari proses pendidikan.

Mereka tidak hanya mempelajari ilmu pengetahuan dan agama, tetapi juga menjalani kehidupan bersama yang membentuk disiplin, kemandirian, kemampuan berorganisasi, kepemimpinan, hingga pengabdian kepada masyarakat.

"Di pesantren, santri dididik melalui disiplin 24 jam, organisasi, kepemimpinan, hingga pengabdian masyarakat," ujarnya.

Menurut Hamid, model tersebut membuat pendidikan pesantren tidak hanya berorientasi pada kemampuan intelektual.

"Di saat dunia Barat baru sibuk mendiskusikan konsep well-being dan pembentukan karakter untuk mengatasi krisis mental remaja, pesantren di Indonesia sudah mempraktikkannya selama berabad-abad melalui integrasi ilmu, adab, dan spiritualitas," kata dia.

Baca juga: Jelang 100 Tahun Gontor, UNIDA Siapkan Buku “Hadiah Gontor untuk Indonesia”

Pendekatan tersebut, menurut Hamid, menjadi semakin relevan ketika dunia menghadapi berbagai tantangan pendidikan.

Ia menyinggung data WHO dan UNICEF pada 2024 mengenai persoalan kesehatan mental remaja serta proyeksi World Economic Forum terkait perubahan keterampilan inti yang dibutuhkan dalam dunia kerja menuju 2030.

Kondisi tersebut menunjukkan pendidikan perlu mempersiapkan generasi muda bukan hanya untuk menghadapi perubahan pekerjaan, tetapi juga agar memiliki ketahanan dan karakter dalam menjalani kehidupan.

Pendidikan Harus Menyentuh Kepala, Hati, dan Tangan

Menurut Hamid, pendidikan holistik perlu menyeimbangkan kemampuan intelektual, spiritual, dan moral.

Ia menggambarkan pendidikan tersebut sebagai sistem yang mampu menyentuh "kepala, hati, dan tangan" secara bersamaan.

"Kita membutuhkan sistem pendidikan yang menyentuh 'kepala, hati, dan tangan' secara bersamaan," ujar Hamid.

"Pendidikan tidak boleh hanya mencetak tenaga kerja, tapi harus membentuk manusia seutuhnya," lanjutnya.

Gagasan tersebut akan menjadi salah satu pembahasan dalam Global Islamic Holistic Education Summit (GIHES) 2026 yang digelar menjelang peringatan 100 tahun Pondok Modern Darussalam Gontor (1926-2026).

Simposium internasional tersebut akan berlangsung pada 5-6 September 2026 di Jakarta dengan tema "Exploring and Revealing the Pesantren Education System".

Forum itu dirancang untuk mempertemukan perspektif pendidikan dari berbagai negara sekaligus mengkaji sistem pendidikan pesantren secara ilmiah.

Sistem Pesantren Dibahas Pakar dari Berbagai Negara

Sejumlah akademisi dari berbagai negara dijadwalkan mengikuti forum tersebut.

Mereka antara lain Nuri Tinaz dari Marmara University, Turki; Mahamood Shihab K.M. dari Anshar Training College for Women, India; Norazah Mohd. Nordin dari Universiti Kebangsaan Malaysia; serta Ryoko Tsuneyoshi dari Bunkyo Gakuin University, Jepang.

Ryoko antara lain akan membahas perbandingan konsep Tokkatsu dalam pendidikan Jepang dengan sistem pendidikan asrama Islam.

Sejumlah tokoh dan akademisi Indonesia juga dijadwalkan hadir, antara lain Ketua MPR RI Ahmad Muzani, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti, Menteri Agama Nasaruddin Umar, serta akademisi UIN Sunan Kalijaga Amin Abdullah.

Hamid berharap pertemuan tersebut dapat membawa pengalaman panjang pesantren di Indonesia menjadi pengetahuan yang terdokumentasi dan dapat dikaji secara ilmiah oleh masyarakat internasional.

Dengan demikian, praktik pendidikan yang selama ini hidup di lingkungan pesantren tidak hanya menjadi pengalaman lokal, tetapi dapat menjadi salah satu referensi dalam pembicaraan mengenai masa depan pendidikan.

Forum tersebut juga diharapkan menghasilkan "Deklarasi GIHES" sebagai komitmen bersama untuk mengembangkan pendidikan Islam pada masa mendatang.

Bagi Hamid, tantangan pendidikan hari ini pada akhirnya bukan hanya bagaimana membuat peserta didik menguasai ilmu dan mampu bekerja.

Pendidikan juga perlu menyiapkan manusia yang memiliki karakter, adab, spiritualitas, kemampuan memimpin, dan ketahanan menghadapi perubahan.

Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT



Terkini Lainnya
Waketum MUI: Kemerdekaan RI Harus Diisi dengan Karya Nyata dan Menjaga Ukhuwah Wathaniyah
Waketum MUI: Kemerdekaan RI Harus Diisi dengan Karya Nyata dan Menjaga Ukhuwah Wathaniyah
Aktual
Haedar Nashir: Indonesia Milik Bersama, Kemerdekaan Harus Bermuara pada Kemakmuran Rakyat
Haedar Nashir: Indonesia Milik Bersama, Kemerdekaan Harus Bermuara pada Kemakmuran Rakyat
Aktual
100 Tahun Gontor, Pesantren Ditawarkan Jadi Model Pendidikan Holistik Dunia
100 Tahun Gontor, Pesantren Ditawarkan Jadi Model Pendidikan Holistik Dunia
Aktual
Mendaki Gunung Bukan Sekadar Mengejar Puncak, Bisa Jadi Ruang Muhasabah
Mendaki Gunung Bukan Sekadar Mengejar Puncak, Bisa Jadi Ruang Muhasabah
Aktual
Unsur Islam di Balik Pemilihan Tanggal Proklamasi 17 Agustus 1945
Unsur Islam di Balik Pemilihan Tanggal Proklamasi 17 Agustus 1945
Aktual
HUT ke-81 RI, MUI Ajak Masyarakat Perkuat Moral dan Ketahanan Keluarga
HUT ke-81 RI, MUI Ajak Masyarakat Perkuat Moral dan Ketahanan Keluarga
Aktual
HUT RI, Menag Ajak Umat Bantu Korban Gempa: Agama Tak Hanya Bicara Langit
HUT RI, Menag Ajak Umat Bantu Korban Gempa: Agama Tak Hanya Bicara Langit
Aktual
Menko Polkam Sebut Bendera Merah Putih Wajib Dihormati, Bagaimana Pandangan Islam?
Menko Polkam Sebut Bendera Merah Putih Wajib Dihormati, Bagaimana Pandangan Islam?
Aktual
Kisah Umar bin Khattab, Menolak Kenikmatan yang Tak Dirasakan Rakyat
Kisah Umar bin Khattab, Menolak Kenikmatan yang Tak Dirasakan Rakyat
Aktual
Gempa M 7,7 NTT, Cerita Mahasiswa KKN UMY yang Putar Haluan Jadi Relawan
Gempa M 7,7 NTT, Cerita Mahasiswa KKN UMY yang Putar Haluan Jadi Relawan
Aktual
Suntiang dan Songket Minangkabau Hiasi Perlengkapan Ibadah pada HUT RI
Suntiang dan Songket Minangkabau Hiasi Perlengkapan Ibadah pada HUT RI
Aktual
Kisah Adzra, Siswi Madrasah yang Lari 3 Km Setiap Hari demi Jadi Paskibraka Nasional
Kisah Adzra, Siswi Madrasah yang Lari 3 Km Setiap Hari demi Jadi Paskibraka Nasional
Aktual
HUT ke-81 RI, Ini Dalil Cinta Tanah Air dalam Al-Quran dan Hadis
HUT ke-81 RI, Ini Dalil Cinta Tanah Air dalam Al-Quran dan Hadis
Aktual
Bukan Cocoklogi, Kenali Integrasi Islam dan Sains Ala Muhammadiyah
Bukan Cocoklogi, Kenali Integrasi Islam dan Sains Ala Muhammadiyah
Aktual
Ketua Komisi Fatwa MUI KH Junaidi Wafat, MUI Sampaikan Duka Mendalam
Ketua Komisi Fatwa MUI KH Junaidi Wafat, MUI Sampaikan Duka Mendalam
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar