Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Mendaki Gunung Bukan Sekadar Mengejar Puncak, Bisa Jadi Ruang Muhasabah

Kompas.com, 17 Agustus 2026, 12:07 WIB
Reni Susanti

Penulis

KOMPAS.com — Mendaki gunung tak melulu tentang menaklukkan puncak, menguji kekuatan fisik, atau mengejar pemandangan dari ketinggian.

Perjalanan menuju gunung juga dapat menjadi ruang untuk beristirahat, melakukan refleksi, hingga mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.

Mountaineering Advisor dan Eiger Adventure Service Team (EAST) Manager Galih Donikara mengatakan, cara pandang tersebut dapat mengubah bagaimana seseorang memperlakukan gunung ketika melakukan pendakian.

Ia menceritakan pandangan sejumlah pemandu gunung di Nepal yang memaknai perjalanan menuju gunung sebagai sebuah ziarah.

"Menurut teman-teman guide di Nepal, naik gunung itu ziarah. Jadi mendaki gunung itu niatkan ziarah," ujar Galih kepada Kompas.com, belum lama ini.

Baca juga: 50 Ucapan Tahun Baru Islam 1448 H Penuh Doa, Harapan, dan Muhasabah

Menurut dia, apabila perjalanan dimaknai sebagai ziarah, seseorang akan mempersiapkan dirinya dengan cara berbeda.

"Kalau ziarah mah harus bersuci. Suci hati, suci pikiran, bening pikiran. Semuanya dilakukan dengan baik, persiapan dengan baik karena kan mau ziarah," tuturnya.

Mendaki sebagai Ruang Muhasabah

Mountaineering Advisor dan EAST Manager Galih Donikara.KOMPAS.com/RENI SUSANTI Mountaineering Advisor dan EAST Manager Galih Donikara.

Galih mengatakan, perjalanan ke gunung juga dapat diniatkan sebagai ruang pendidikan dan muhasabah atau introspeksi diri.

Pendaki tidak harus selalu memandang perjalanan berdasarkan seberapa cepat mencapai puncak atau berapa banyak pos yang berhasil dilewati.

Menurut dia, gunung sejak dahulu juga menjadi tempat manusia mencari ketenangan.

Jika dikaitkan dengan psikologi pendakian, Galih menyebut salah satu tujuan perjalanan ke alam adalah rest atau beristirahat.

"Istirahat pikiran, istirahat mental, istirahat fisik. Jadi datang ke gunung. Orang dulu kan ke gunung itu untuk mencari ketenangan," katanya.

Baca juga: Khutbah Jumat Dzulqadah: Keutamaan Bulan Haram dan Momentum Muhasabah Diri

Karena itu, perjalanan mendaki seharusnya dijalani dengan kesadaran terhadap proses yang dilewati.

Bagi seorang Muslim, Galih mengibaratkannya dengan konsep tartil, yakni menjalani perjalanan secara perlahan, teratur, dan penuh perhatian.

"Sehingga dengan demikian kita mendaki itu dengan penuh, kalau orang Muslim mah, tartil ya. Tartil," ucap Galih.

Dengan cara pandang tersebut, pendakian tidak lagi sekadar perjalanan menuju puncak, tetapi juga kesempatan untuk mengenali diri sendiri dan kembali dengan membawa perubahan.

Galih bahkan menggunakan istilah "mabrur" untuk menggambarkan perjalanan yang memberikan dampak baik setelah seseorang pulang dari gunung.

"Sehingga kalau naik gunung, kegiatan itu jadi pulangnya teh mabrur," katanya.
Menghormati Alam Bagian dari Pendakian

Pemaknaan spiritual tersebut, menurut Galih, juga berkaitan dengan bagaimana pendaki memperlakukan alam.

Ia mengingatkan bahwa gunung merupakan ruang alam yang tidak dapat sepenuhnya diprediksi. Kemampuan fisik dan pengalaman mendaki tidak otomatis membuat seseorang kebal terhadap risiko.

"Gunung mah unpredictable," katanya.

Karena itu, pendaki perlu memperhatikan cuaca, musim, kondisi jalur, serta berbagai tanda alam sebelum dan selama perjalanan.

Pengalaman pendakian yang panjang sekalipun tidak boleh membuat seseorang kehilangan kewaspadaan.

Galih mencontohkan bagaimana pendaki dengan kemampuan dan pengalaman luar biasa tetap dapat menghadapi risiko ketika berada di lingkungan pegunungan dengan kondisi yang sulit diprediksi.

"Karena tetap saja bahwa respect pada alam mah penting. Memperhatikan cuaca, memperhatikan musim," ujarnya.

Jangan Abaikan Pengetahuan Warga Lokal

Selain mengandalkan informasi formal, Galih mengingatkan pentingnya mendengarkan masyarakat yang tinggal di sekitar gunung.

Menurut dia, masyarakat setempat memiliki pengalaman panjang dalam memahami karakter alam di wilayahnya.

Pendaki dapat bertanya mengenai karakter gunung, jalur, cuaca, hingga kebiasaan masyarakat ketika menghadapi perubahan kondisi alam.

"Karena yang paling tahu alam di sana kan mereka," katanya.

Menurut Galih, hal tersebut terkadang terlupakan ketika pendakian hanya berorientasi mengejar pos demi pos hingga mencapai puncak.

Ia juga menyinggung konsep "pamali" yang hidup dalam berbagai masyarakat tradisional.

"Saat ini mah kelihatannya mereka sudah tidak tahu apa itu pamali. Sudah tidak tahu mereka apa itu pamali," ujarnya.

Terlepas dari bentuk kepercayaannya, berbagai larangan lokal dapat menjadi bagian dari pengetahuan masyarakat yang terbentuk dari pengalaman panjang hidup berdampingan dengan alam.

Karena itu, pendaki perlu menghargai aturan maupun pengetahuan masyarakat setempat selama tidak bertentangan dengan ketentuan yang berlaku.

Keselamatan Lebih Penting daripada Puncak

Galih menegaskan, pendakian harus dipersiapkan secara matang dengan memperhatikan keselamatan, kesehatan, dan kelestarian alam.

"Persiapan dengan matang, penuhi semua kaidahnya. Lakukan dengan baik dan benar. Jaga keselamatan, kesehatan, sama jaga alamnya," katanya.

Pengelola kawasan juga memiliki peran penting. Menurut Galih, pendaki harus mematuhi keputusan pengelola ketika jalur dinyatakan tidak aman atau ditutup akibat kondisi cuaca.

Sebaliknya, pengelola perlu berani menghentikan aktivitas pendakian apabila kondisi membahayakan.

"Kalau misalnya membahayakan ya mohon maaf, umumkan jauh-jauh hari tanggal sekian dan sekian ditutup sementara karena cuaca lagi enggak bagus," ujarnya.

Keselamatan, kata dia, tidak boleh dikalahkan oleh kepentingan mengejar pemasukan dari tiket pendakian.

Pada akhirnya, memandang gunung sebagai ruang ziarah dan muhasabah juga membawa konsekuensi terhadap perilaku pendaki selama berada di alam.

Seseorang yang datang dengan niat untuk menjernihkan hati dan pikiran semestinya tidak meninggalkan kerusakan ketika pulang.

Salah satu bentuk paling sederhana adalah menjaga kebersihan.

"Terus beberesih, beberesih diri, beberesih lingkungan. Teu nyampah, tidak akan buang sampah ke sana," kata Galih.

Dengan demikian, perjalanan menuju gunung tidak berhenti pada keberhasilan mencapai puncak.

Pendakian dapat menjadi kesempatan untuk beristirahat dari hiruk-pikuk kehidupan, melakukan muhasabah, menghormati alam, dan pulang dengan sikap yang lebih baik.

Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT



Terkini Lainnya
Mendaki Gunung Bukan Sekadar Mengejar Puncak, Bisa Jadi Ruang Muhasabah
Mendaki Gunung Bukan Sekadar Mengejar Puncak, Bisa Jadi Ruang Muhasabah
Aktual
Unsur Islam di Balik Pemilihan Tanggal Proklamasi 17 Agustus 1945
Unsur Islam di Balik Pemilihan Tanggal Proklamasi 17 Agustus 1945
Aktual
HUT ke-81 RI, MUI Ajak Masyarakat Perkuat Moral dan Ketahanan Keluarga
HUT ke-81 RI, MUI Ajak Masyarakat Perkuat Moral dan Ketahanan Keluarga
Aktual
HUT RI, Menag Ajak Umat Bantu Korban Gempa: Agama Tak Hanya Bicara Langit
HUT RI, Menag Ajak Umat Bantu Korban Gempa: Agama Tak Hanya Bicara Langit
Aktual
Menko Polkam Sebut Bendera Merah Putih Wajib Dihormati, Bagaimana Pandangan Islam?
Menko Polkam Sebut Bendera Merah Putih Wajib Dihormati, Bagaimana Pandangan Islam?
Aktual
Kisah Umar bin Khattab, Menolak Kenikmatan yang Tak Dirasakan Rakyat
Kisah Umar bin Khattab, Menolak Kenikmatan yang Tak Dirasakan Rakyat
Aktual
Gempa M 7,7 NTT, Cerita Mahasiswa KKN UMY yang Putar Haluan Jadi Relawan
Gempa M 7,7 NTT, Cerita Mahasiswa KKN UMY yang Putar Haluan Jadi Relawan
Aktual
Suntiang dan Songket Minangkabau Hiasi Perlengkapan Ibadah pada HUT RI
Suntiang dan Songket Minangkabau Hiasi Perlengkapan Ibadah pada HUT RI
Aktual
Kisah Adzra, Siswi Madrasah yang Lari 3 Km Setiap Hari demi Jadi Paskibraka Nasional
Kisah Adzra, Siswi Madrasah yang Lari 3 Km Setiap Hari demi Jadi Paskibraka Nasional
Aktual
HUT ke-81 RI, Ini Dalil Cinta Tanah Air dalam Al-Quran dan Hadis
HUT ke-81 RI, Ini Dalil Cinta Tanah Air dalam Al-Quran dan Hadis
Aktual
Bukan Cocoklogi, Kenali Integrasi Islam dan Sains Ala Muhammadiyah
Bukan Cocoklogi, Kenali Integrasi Islam dan Sains Ala Muhammadiyah
Aktual
Ketua Komisi Fatwa MUI KH Junaidi Wafat, MUI Sampaikan Duka Mendalam
Ketua Komisi Fatwa MUI KH Junaidi Wafat, MUI Sampaikan Duka Mendalam
Aktual
Apakah Istri Wajib Taat pada Suami yang Bergaji di Bawah UMR? Ini Penjelasan Muhammadiyah
Apakah Istri Wajib Taat pada Suami yang Bergaji di Bawah UMR? Ini Penjelasan Muhammadiyah
Aktual
Malam Tirakatan HUT Ke-81 RI 17 Agustus 2026: Pengertian, Makna, Susunan Acara, dan Doa
Malam Tirakatan HUT Ke-81 RI 17 Agustus 2026: Pengertian, Makna, Susunan Acara, dan Doa
Aktual
Muhammadiyah Sampaikan Duka atas Gempa NTT, MDMC dan Lazismu Diturunkan untuk Bantu Korban
Muhammadiyah Sampaikan Duka atas Gempa NTT, MDMC dan Lazismu Diturunkan untuk Bantu Korban
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar