
SAYA mengikuti pembukaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama dengan perasaan yang agak sulit dijelaskan.
Acaranya besar dan dihadiri puluhan ribu orang.
Para kiai, pengasuh pesantren, pengurus NU dari berbagai daerah, pejabat negara, semuanya berkumpul.
Presiden hadir.
Muktamirin antusias.
Tapi setelah mengikuti pembukaannya, saya kok merasa ada sesuatu yang kurang.
Bukan acaranya, bukan pula orang-orangnya.
Tapi gagasan besarnya.
Pembukaan Muktamar kemarin, bagi saya, masih terasa terlalu seremonial.
Baca juga: Dua Opsi Pemilihan Ketum PBNU Belum Temui Titik Temu, Muktamar Ke-35 NU Bawa ke Pleno
Bahkan ketika ditayangkan video perjalanan sejarah NU, pikiran saya justru melayang: kenapa bukan capaian lima tahun terakhir yang ditampilkan?
Apa terobosan PBNU selama lima tahun ini?
Apa yang sudah berubah?
Apa yang berhasil?
Apa yang belum selesai?
Dan yang lebih penting lagi: lima tahun ke depan NU mau ke mana?
Tentu Muktamar ini membahas banyak hal penting.
Ada enam komisi.
Bahtsul Masail membicarakan isu dari Neuralink, jual-beli data DNA, cryptocurrency, pendidikan, ketenagakerjaan hingga berbagai persoalan hukum dan kebijakan publik.
Ada pula pembahasan organisasi, kaderisasi, tata kelola, program dan rekomendasi.
Jadi bukan berarti Muktamar ini tidak substantif.
Justru substansinya banyak.
Tetapi saya tidak melihat apa benang merahnya.
Setelah semua komisi selesai bersidang, keputusan diketok, Ketua Umum terpilih, lalu semua pulang ke daerah masing-masing, apa satu gagasan yang mereka bawa pulang?
Sederhananya: NU mau dibawa ke mana?
Pertanyaan ini penting karena zaman sedang berubah sangat cepat.
Indonesia sedang menikmati bonus demografi.
Sebagian besar penduduk kita adalah generasi muda.
Pada saat bersamaan, artificial intelligence (AI) mengubah cara manusia bekerja, belajar, mencari informasi, bahkan memahami agama.
Dulu seorang anak belajar agama dari orang tua, guru ngaji atau kiai di kampungnya.
Hari ini pintu pertamanya bisa jadi TikTok, YouTube, Google atau ChatGPT.
Karena itu saya sedikit tergelitik ketika Bahtsul Masail membahas Neuralink, teknologi implan di otak manusia.
Menarik dan tentu penting secara fikih.
Tetapi AI yang hari ini sudah ada di genggaman jutaan santri, mahasiswa, guru dan kiai, justru belum terasa menjadi percakapan besar Muktamar.
Ada banyak pertanyaan menggelitik benak saya.
Bagaimana NU memimpin umat di tengah revolusi teknologi?
Bagaimana bonus demografi Indonesia menjadi bonus SDM NU?
Bagaimana puluhan ribu pesantren tetap menjaga tradisi keilmuannya, tetapi sekaligus melahirkan generasi yang menguasai STEM (Science, Technology, Engineering, Mathematics), AI, entrepreneurship, pertanian modern dan industri kreatif?
Dan banyak pertanyaan mendasar lainnya.
NU ke depan, selayaknya diterjemahkan menjadi kekuatan ekonomi yang membuat jemaah dan jam’iyah semakin mandiri.
Dengan pengelolaan organisasi sebesar NU yang profesional, transparan dan efektif;
tanpa kehilangan ruh keulamaan dan khidmahnya;
saya yakin abad kedua Nahdlatul Ulama ini akan siap disongsong dengan optimistis dan membanggakan.
Karena NU tidak kekurangan modal.
NU punya jutaan jemaah, puluhan ribu pesantren, jaringan ulama, lembaga pendidikan, tradisi keilmuan dan akar sosial yang luar biasa luas.
Potongan puzzle-nya sebenarnya sudah banyak.
Baca juga: Muktamar Ke-35 NU Sepakati Ketua Umum dan Rais Aam Dilarang Rangkap Jabatan Politik
Yang belum terasa adalah gambar besarnya.
Sayang sekali kalau Muktamar sebesar ini akhirnya lebih banyak dikenang karena siapa yang menang dan siapa yang kalah.
Bayangkan, para muktamirin kembali ke rumahnya masing-masing dengan sebuah optimisme kental, karena di dadanya terpatri gagasan besar Nahdlatul Ulama.
Gagasan kekhidmatan untuk membangun dan menjaga jemaah.
Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT