Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Gus Ipang Wahid
Pimpinan Pesantren

Wakil Pengasuh Pesantren Trensains Jombang dan Komisaris Telkomsel. 

Setelah Muktamar NU, Apa Gagasan Besar yang Dibawa Pulang?

Kompas.com, 29 Agustus 2026, 18:38 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

SAYA mengikuti pembukaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama dengan perasaan yang agak sulit dijelaskan.

Acaranya besar dan dihadiri puluhan ribu orang.

Para kiai, pengasuh pesantren, pengurus NU dari berbagai daerah, pejabat negara, semuanya berkumpul.

Presiden hadir.

Muktamirin antusias.

Tapi setelah mengikuti pembukaannya, saya kok merasa ada sesuatu yang kurang.

Bukan acaranya, bukan pula orang-orangnya.

Tapi gagasan besarnya.

Pembukaan Muktamar kemarin, bagi saya, masih terasa terlalu seremonial.

Baca juga: Dua Opsi Pemilihan Ketum PBNU Belum Temui Titik Temu, Muktamar Ke-35 NU Bawa ke Pleno

Bahkan ketika ditayangkan video perjalanan sejarah NU, pikiran saya justru melayang: kenapa bukan capaian lima tahun terakhir yang ditampilkan?

Apa terobosan PBNU selama lima tahun ini?

Apa yang sudah berubah?

Apa yang berhasil?

Apa yang belum selesai?

Dan yang lebih penting lagi: lima tahun ke depan NU mau ke mana?

Tentu Muktamar ini membahas banyak hal penting.

Ada enam komisi.

Bahtsul Masail membicarakan isu dari Neuralink, jual-beli data DNA, cryptocurrency, pendidikan, ketenagakerjaan hingga berbagai persoalan hukum dan kebijakan publik.

Ada pula pembahasan organisasi, kaderisasi, tata kelola, program dan rekomendasi.

Jadi bukan berarti Muktamar ini tidak substantif.

Justru substansinya banyak.

Tetapi saya tidak melihat apa benang merahnya.

Setelah semua komisi selesai bersidang, keputusan diketok, Ketua Umum terpilih, lalu semua pulang ke daerah masing-masing, apa satu gagasan yang mereka bawa pulang?

Sederhananya: NU mau dibawa ke mana?

Pertanyaan ini penting karena zaman sedang berubah sangat cepat.

Indonesia sedang menikmati bonus demografi.

Sebagian besar penduduk kita adalah generasi muda.

Pada saat bersamaan, artificial intelligence (AI) mengubah cara manusia bekerja, belajar, mencari informasi, bahkan memahami agama.

Dulu seorang anak belajar agama dari orang tua, guru ngaji atau kiai di kampungnya.

Hari ini pintu pertamanya bisa jadi TikTok, YouTube, Google atau ChatGPT.

Karena itu saya sedikit tergelitik ketika Bahtsul Masail membahas Neuralink, teknologi implan di otak manusia.

Menarik dan tentu penting secara fikih.

Tetapi AI yang hari ini sudah ada di genggaman jutaan santri, mahasiswa, guru dan kiai, justru belum terasa menjadi percakapan besar Muktamar.

Ada banyak pertanyaan menggelitik benak saya.

Bagaimana NU memimpin umat di tengah revolusi teknologi?

Bagaimana bonus demografi Indonesia menjadi bonus SDM NU?

Bagaimana puluhan ribu pesantren tetap menjaga tradisi keilmuannya, tetapi sekaligus melahirkan generasi yang menguasai STEM (Science, Technology, Engineering, Mathematics), AI, entrepreneurship, pertanian modern dan industri kreatif?

Dan banyak pertanyaan mendasar lainnya.

NU ke depan, selayaknya diterjemahkan menjadi kekuatan ekonomi yang membuat jemaah dan jam’iyah semakin mandiri.

Dengan pengelolaan organisasi sebesar NU yang profesional, transparan dan efektif;

tanpa kehilangan ruh keulamaan dan khidmahnya;

saya yakin abad kedua Nahdlatul Ulama ini akan siap disongsong dengan optimistis dan membanggakan.

Karena NU tidak kekurangan modal.

NU punya jutaan jemaah, puluhan ribu pesantren, jaringan ulama, lembaga pendidikan, tradisi keilmuan dan akar sosial yang luar biasa luas.

Potongan puzzle-nya sebenarnya sudah banyak.

Baca juga: Muktamar Ke-35 NU Sepakati Ketua Umum dan Rais Aam Dilarang Rangkap Jabatan Politik

Yang belum terasa adalah gambar besarnya.

Sayang sekali kalau Muktamar sebesar ini akhirnya lebih banyak dikenang karena siapa yang menang dan siapa yang kalah.

Bayangkan, para muktamirin kembali ke rumahnya masing-masing dengan sebuah optimisme kental, karena di dadanya terpatri gagasan besar Nahdlatul Ulama.

Gagasan kekhidmatan untuk membangun dan menjaga jemaah.

Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT



Terkini Lainnya
Berapa Kali Takbir Shalat Istisqa? Ini Pendapat Ulama dan Tata Caranya
Berapa Kali Takbir Shalat Istisqa? Ini Pendapat Ulama dan Tata Caranya
Doa dan Niat
Panduan Shalat Istisqa Lengkap: Niat, Tata Cara, Doa, Khutbah, Waktu Pelaksanaan, dan Dalilnya
Panduan Shalat Istisqa Lengkap: Niat, Tata Cara, Doa, Khutbah, Waktu Pelaksanaan, dan Dalilnya
Doa dan Niat
Setelah Muktamar NU, Apa Gagasan Besar yang Dibawa Pulang?
Setelah Muktamar NU, Apa Gagasan Besar yang Dibawa Pulang?
Aktual
Mengenal Salat Istisqa, Lengkap dengan Niat, Tata Cara, dan Doanya
Mengenal Salat Istisqa, Lengkap dengan Niat, Tata Cara, dan Doanya
Doa dan Niat
Shalat Istisqa di Kaltim Hari Ini Digalar di 3 Lokasi: Samarinda, Balikpapan dan Kukar
Shalat Istisqa di Kaltim Hari Ini Digalar di 3 Lokasi: Samarinda, Balikpapan dan Kukar
Aktual
Shalat Istisqa Pontianak, KH Ahmad Zamroni Ajak Warga Introspeksi dan Hentikan Pembakaran Lahan
Shalat Istisqa Pontianak, KH Ahmad Zamroni Ajak Warga Introspeksi dan Hentikan Pembakaran Lahan
Aktual
Pemkot Palembang Gelar Sholat Istisqa di Tengah Kabut Asap dan Ancaman Karhutla
Pemkot Palembang Gelar Sholat Istisqa di Tengah Kabut Asap dan Ancaman Karhutla
Aktual
BAZNAS Distribusikan 15.000 Ayam Goreng di Muktamar NU ke-35
BAZNAS Distribusikan 15.000 Ayam Goreng di Muktamar NU ke-35
Aktual
Bacaan Tahlil NU Lengkap, Susunan, Arab, Latin, dan Terjemahannya
Bacaan Tahlil NU Lengkap, Susunan, Arab, Latin, dan Terjemahannya
Doa dan Niat
Dua Opsi Pemilihan Ketum PBNU Belum Temui Titik Temu, Muktamar Ke-35 NU Bawa ke Pleno
Dua Opsi Pemilihan Ketum PBNU Belum Temui Titik Temu, Muktamar Ke-35 NU Bawa ke Pleno
Aktual
Cerita Toleransi di Tengah Muktamar Ke-35 NU, Gereja Ikut Sediakan Penginapan Gratis untuk Peserta
Cerita Toleransi di Tengah Muktamar Ke-35 NU, Gereja Ikut Sediakan Penginapan Gratis untuk Peserta
Aktual
Shalat Istisqa Digelar di Korem 091 Samarinda, TNI-Polri dan Warga Berdoa Memohon Hujan untuk Atasi Karhutla
Shalat Istisqa Digelar di Korem 091 Samarinda, TNI-Polri dan Warga Berdoa Memohon Hujan untuk Atasi Karhutla
Aktual
Muktamar Ke-35 NU Sepakati Ketua Umum dan Rais Aam Dilarang Rangkap Jabatan Politik
Muktamar Ke-35 NU Sepakati Ketua Umum dan Rais Aam Dilarang Rangkap Jabatan Politik
Aktual
Ribuan Warga Pontianak Ikuti Shalat Istisqa di Tengah Kabut Asap, Berdoa Agar Hujan Turun
Ribuan Warga Pontianak Ikuti Shalat Istisqa di Tengah Kabut Asap, Berdoa Agar Hujan Turun
Aktual
Muktamar ke-35 NU Bahas I’anatun Nadzar untuk Kaji Ulang Keputusan PBNU
Muktamar ke-35 NU Bahas I’anatun Nadzar untuk Kaji Ulang Keputusan PBNU
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar