Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Apa Fungsi Gunung Menurut Al-Quran? Ini Penjelasan Surat An-Nahl Ayat 15

Kompas.com, 14 September 2026, 08:08 WIB
Reni Susanti

Editor

Sumber NU Online


KOMPAS.com — Gunung bukan sekadar bentang alam yang menawarkan keindahan.

Keberadaannya memiliki fungsi penting bagi kehidupan, mulai dari menjadi kawasan tangkapan air, membantu mengurangi erosi, hingga menyediakan habitat bagi berbagai jenis tumbuhan dan hewan.

Dalam Al-Qur’an, salah satu ayat yang membicarakan fungsi gunung terdapat dalam Surat An-Nahl ayat 15.

Dosen Ma’had Aly Al-Iman Bulus sekaligus Pengurus Lembaga Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama (LBM NU) Purworejo, Ustaz Muhamad Hanif Rahman, menjelaskan bahwa ayat tersebut menunjukkan gunung sebagai salah satu nikmat Allah bagi manusia.

Baca juga: Abu Vulkanik Gunung Berapi, Madrasah dan Pesantren Diizinkan PJJ

Allah SWT berfirman:

وَاَلْقٰى فِى الْاَرْضِ رَوَاسِيَ اَنْ تَمِيْدَ بِكُمْ وَاَنْهٰرًا وَّسُبُلًا لَّعَلَّكُمْ تَهْتَدُوْنَۙ

Artinya, “Dia memancangkan gunung-gunung di bumi agar bumi tidak berguncang bersamamu serta (menciptakan) sungai-sungai dan jalan-jalan agar kamu mendapat petunjuk.” (QS An-Nahl: 15).

Gunung sebagai sesuatu yang kokoh

Hanif mengatakan, Imam Ibnu Jarir At-Thabari menjelaskan kata rawasi dalam ayat tersebut sebagai bentuk jamak dari rasiyah, yakni sesuatu yang kokoh dan tetap di bumi.

“Di antara nikmat-Nya kepada kalian juga adalah bahwa Dia menancapkan di bumi gunung-gunung yang kokoh,” demikian penjelasan At-Thabari dalam Jami’ul Bayan, juz 17, halaman 183, dikutip dari laman NU Online, Senin (14/9/2026).

Menurut At-Thabari, frasa an tamida bikum menunjukkan bahwa gunung-gunung ditancapkan agar bumi tidak berguncang bersama makhluk yang berada di atasnya.

Penafsiran itu salah satunya didasarkan pada riwayat Qais bin Ubad yang menggambarkan bumi bergerak setelah diciptakan. Kemudian, Allah menjadikan gunung-gunung yang kokoh di atasnya.

“Dari penafsiran Ibnu Jarir dapat dipahami bahwa salah satu fungsi diciptakannya gunung adalah agar bumi tidak mengalami guncangan sehingga makhluk yang berada di atasnya juga tidak ikut terguncang,” kata Hanif.

Baca juga: Doa Saat Gunung Meletus Menurut Imam An-Nawawi: Arab, Latin dan Artinya

Kritik Imam Ar-Razi terhadap analogi kapal

Penjelasan mengenai fungsi gunung juga disampaikan Imam Fakhruddin Ar-Razi dalam Mafatihul Ghaib.

Ar-Razi mengutip pendapat yang masyhur di kalangan mufasir bahwa bumi diibaratkan seperti kapal di atas air.

Sebagaimana kapal dapat bergerak dan menjadi lebih stabil setelah diberi muatan berat, gunung-gunung juga digambarkan sebagai beban yang membuat bumi tetap stabil.

Namun, menurut Hanif, Ar-Razi tidak menerima begitu saja penjelasan tersebut. Mufasir yang wafat pada 606 Hijriah itu mengajukan sejumlah kritik terhadap analogi bumi dan kapal.

Pertama, kondisi bumi dinilai tidak dapat langsung disamakan dengan kapal. Kapal dapat mengapung karena memiliki rongga berisi udara, sedangkan asumsi serupa tidak serta-merta berlaku bagi bumi.

Kedua, apabila gerak dan diamnya benda berada dalam kehendak Allah, berat gunung tidak dapat dipandang sebagai satu-satunya penyebab alamiah yang membuat bumi tetap diam.

Ar-Razi juga mempertanyakan alasan air yang menjadi tempat bumi digambarkan berada dapat tetap tenang. Jika air diam karena kehendak Allah, penjelasan serupa juga dapat diterapkan pada bumi.

Selain itu, ia mempertanyakan anggapan bahwa gerakan seluruh bumi pasti dirasakan manusia. Ar-Razi menganalogikannya dengan seseorang di dalam kapal yang tidak selalu merasakan gerakan kapal secara keseluruhan.

Gunung diibaratkan sebagai pasak

Setelah mengkritik pandangan tersebut, Ar-Razi menawarkan penjelasannya sendiri.

Ia menyatakan bahwa bumi berbentuk bulat, sedangkan gunung-gunung merupakan tonjolan atau bagian kasar pada permukaannya.

“Telah terbukti dengan dalil-dalil yang meyakinkan bahwa bumi berbentuk bulat. Telah terbukti pula bahwa gunung-gunung yang berada di permukaan bumi yang bulat ini berfungsi seperti tonjolan-tonjolan atau permukaan kasar pada bola tersebut,” tulis Ar-Razi.

Menurut Ar-Razi, apabila bumi berbentuk bola sempurna tanpa gunung dan tonjolan, bumi akan lebih mudah mengalami gerakan hanya karena sebab yang kecil.

Gunung kemudian digambarkan seperti pasak yang tertancap pada permukaan bola.

Dalam kerangka penafsiran Ar-Razi, keberadaannya mencegah mayd, mayl, dan idhtirab atau guncangan, kemiringan, dan ketidakstabilan.

Hanif menekankan, penafsiran At-Thabari dan Ar-Razi memperlihatkan ikhtiar para ulama dalam memahami fungsi dan hikmah penciptaan gunung sesuai kerangka keilmuan pada masa masing-masing.

At-Thabari menekankan gunung sebagai rawasi atau sesuatu yang kokoh, sedangkan Ar-Razi menyampaikan pandangan kritis sebelum menggambarkan gunung sebagai tonjolan yang menyerupai pasak pada permukaan bumi.

“Dengan demikian, ayat ini tidak sekadar berbicara tentang gunung sebagai bentang alam, tetapi juga mengarahkan perhatian manusia kepada fungsi dan hikmah keberadaannya dalam sistem bumi,” ujar Hanif.

Karena itu, keberadaan gunung sebagai bagian dari nikmat Allah perlu dijaga, dirawat, dan dilestarikan agar manfaatnya bagi kehidupan tetap terpelihara.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar