Editor
KOMPAS.com — Gunung bukan sekadar bentang alam yang menawarkan keindahan.
Keberadaannya memiliki fungsi penting bagi kehidupan, mulai dari menjadi kawasan tangkapan air, membantu mengurangi erosi, hingga menyediakan habitat bagi berbagai jenis tumbuhan dan hewan.
Dalam Al-Qur’an, salah satu ayat yang membicarakan fungsi gunung terdapat dalam Surat An-Nahl ayat 15.
Dosen Ma’had Aly Al-Iman Bulus sekaligus Pengurus Lembaga Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama (LBM NU) Purworejo, Ustaz Muhamad Hanif Rahman, menjelaskan bahwa ayat tersebut menunjukkan gunung sebagai salah satu nikmat Allah bagi manusia.
Baca juga: Abu Vulkanik Gunung Berapi, Madrasah dan Pesantren Diizinkan PJJ
Allah SWT berfirman:
وَاَلْقٰى فِى الْاَرْضِ رَوَاسِيَ اَنْ تَمِيْدَ بِكُمْ وَاَنْهٰرًا وَّسُبُلًا لَّعَلَّكُمْ تَهْتَدُوْنَۙ
Artinya, “Dia memancangkan gunung-gunung di bumi agar bumi tidak berguncang bersamamu serta (menciptakan) sungai-sungai dan jalan-jalan agar kamu mendapat petunjuk.” (QS An-Nahl: 15).
Hanif mengatakan, Imam Ibnu Jarir At-Thabari menjelaskan kata rawasi dalam ayat tersebut sebagai bentuk jamak dari rasiyah, yakni sesuatu yang kokoh dan tetap di bumi.
“Di antara nikmat-Nya kepada kalian juga adalah bahwa Dia menancapkan di bumi gunung-gunung yang kokoh,” demikian penjelasan At-Thabari dalam Jami’ul Bayan, juz 17, halaman 183, dikutip dari laman NU Online, Senin (14/9/2026).
Menurut At-Thabari, frasa an tamida bikum menunjukkan bahwa gunung-gunung ditancapkan agar bumi tidak berguncang bersama makhluk yang berada di atasnya.
Penafsiran itu salah satunya didasarkan pada riwayat Qais bin Ubad yang menggambarkan bumi bergerak setelah diciptakan. Kemudian, Allah menjadikan gunung-gunung yang kokoh di atasnya.
“Dari penafsiran Ibnu Jarir dapat dipahami bahwa salah satu fungsi diciptakannya gunung adalah agar bumi tidak mengalami guncangan sehingga makhluk yang berada di atasnya juga tidak ikut terguncang,” kata Hanif.
Baca juga: Doa Saat Gunung Meletus Menurut Imam An-Nawawi: Arab, Latin dan Artinya
Penjelasan mengenai fungsi gunung juga disampaikan Imam Fakhruddin Ar-Razi dalam Mafatihul Ghaib.
Ar-Razi mengutip pendapat yang masyhur di kalangan mufasir bahwa bumi diibaratkan seperti kapal di atas air.
Sebagaimana kapal dapat bergerak dan menjadi lebih stabil setelah diberi muatan berat, gunung-gunung juga digambarkan sebagai beban yang membuat bumi tetap stabil.
Namun, menurut Hanif, Ar-Razi tidak menerima begitu saja penjelasan tersebut. Mufasir yang wafat pada 606 Hijriah itu mengajukan sejumlah kritik terhadap analogi bumi dan kapal.
Pertama, kondisi bumi dinilai tidak dapat langsung disamakan dengan kapal. Kapal dapat mengapung karena memiliki rongga berisi udara, sedangkan asumsi serupa tidak serta-merta berlaku bagi bumi.
Kedua, apabila gerak dan diamnya benda berada dalam kehendak Allah, berat gunung tidak dapat dipandang sebagai satu-satunya penyebab alamiah yang membuat bumi tetap diam.
Ar-Razi juga mempertanyakan alasan air yang menjadi tempat bumi digambarkan berada dapat tetap tenang. Jika air diam karena kehendak Allah, penjelasan serupa juga dapat diterapkan pada bumi.
Selain itu, ia mempertanyakan anggapan bahwa gerakan seluruh bumi pasti dirasakan manusia. Ar-Razi menganalogikannya dengan seseorang di dalam kapal yang tidak selalu merasakan gerakan kapal secara keseluruhan.
Setelah mengkritik pandangan tersebut, Ar-Razi menawarkan penjelasannya sendiri.
Ia menyatakan bahwa bumi berbentuk bulat, sedangkan gunung-gunung merupakan tonjolan atau bagian kasar pada permukaannya.
“Telah terbukti dengan dalil-dalil yang meyakinkan bahwa bumi berbentuk bulat. Telah terbukti pula bahwa gunung-gunung yang berada di permukaan bumi yang bulat ini berfungsi seperti tonjolan-tonjolan atau permukaan kasar pada bola tersebut,” tulis Ar-Razi.
Menurut Ar-Razi, apabila bumi berbentuk bola sempurna tanpa gunung dan tonjolan, bumi akan lebih mudah mengalami gerakan hanya karena sebab yang kecil.
Gunung kemudian digambarkan seperti pasak yang tertancap pada permukaan bola.
Dalam kerangka penafsiran Ar-Razi, keberadaannya mencegah mayd, mayl, dan idhtirab atau guncangan, kemiringan, dan ketidakstabilan.
Hanif menekankan, penafsiran At-Thabari dan Ar-Razi memperlihatkan ikhtiar para ulama dalam memahami fungsi dan hikmah penciptaan gunung sesuai kerangka keilmuan pada masa masing-masing.
At-Thabari menekankan gunung sebagai rawasi atau sesuatu yang kokoh, sedangkan Ar-Razi menyampaikan pandangan kritis sebelum menggambarkan gunung sebagai tonjolan yang menyerupai pasak pada permukaan bumi.
“Dengan demikian, ayat ini tidak sekadar berbicara tentang gunung sebagai bentang alam, tetapi juga mengarahkan perhatian manusia kepada fungsi dan hikmah keberadaannya dalam sistem bumi,” ujar Hanif.
Karena itu, keberadaan gunung sebagai bagian dari nikmat Allah perlu dijaga, dirawat, dan dilestarikan agar manfaatnya bagi kehidupan tetap terpelihara.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.