Editor
KOMPAS.com — Persatuan Ummat Islam (PUI) mengapresiasi sikap delegasi Indonesia yang melakukan walk out dari ruang Sidang ke-81 Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York ketika Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bersiap menyampaikan pidato, Kamis (24/9/2026) waktu setempat.
Aksi tersebut dilakukan delegasi Indonesia bersama sejumlah negara lainnya. Rekaman yang disampaikan Perutusan Tetap Republik Indonesia (PTRI) di New York memperlihatkan para diplomat Indonesia meninggalkan tempat duduk mereka saat Netanyahu hendak naik ke podium.
Ketua Umum PUI Raizal Arifin mengatakan, sikap tersebut menunjukkan konsistensi Indonesia dalam menyuarakan persoalan Palestina di forum internasional.
Baca juga: Kapolri Dorong Pramuka PUI Bentuk Karakter Kebangsaan Generasi Muda
Menurut dia, sikap Indonesia tidak hanya penting sebagai bentuk solidaritas terhadap rakyat Palestina, tetapi juga menjadi pesan bahwa penderitaan masyarakat sipil akibat konflik tidak boleh dianggap sebagai persoalan biasa.
“PUI mengapresiasi sikap delegasi Indonesia. Ini menunjukkan bahwa Indonesia tidak diam ketika persoalan Palestina terus menjadi perhatian kemanusiaan dunia,” ujar Raizal dalam keterangan yang diterima, Jumat (25/9/2026).
“ Sikap tegas seperti ini penting untuk menjaga konsistensi politik luar negeri Indonesia dalam membela kemanusiaan dan perdamaian,” lanjutnya.
Meski demikian, Raizal menilai sikap diplomatik tersebut perlu dilanjutkan dengan langkah yang lebih konkret.
Menurut dia, solidaritas Indonesia terhadap Palestina tidak cukup hanya disampaikan melalui forum diplomatik. Dukungan tersebut perlu menyentuh kehidupan masyarakat secara langsung, khususnya anak-anak, keluarga, korban konflik, serta keberlanjutan pendidikan dan layanan kemanusiaan.
“Yang kita perjuangkan bukan hanya sebuah posisi diplomatik, tetapi manusia. Ada anak-anak yang kehilangan sekolah, keluarga yang kehilangan tempat tinggal, dan masyarakat yang membutuhkan akses pangan, kesehatan serta kehidupan yang bermartabat,” katanya.
Karena itu, Raizal berharap sikap diplomatik Indonesia dapat berjalan beriringan dengan upaya kemanusiaan untuk membantu masyarakat Palestina.
“Perjuangan diplomasi harus berujung pada upaya nyata menyelamatkan kehidupan,” ujar dia.
PUI juga menilai momentum Sidang Umum PBB perlu dimanfaatkan Indonesia untuk terus mendorong upaya perdamaian dan penyelesaian yang memberikan masa depan yang adil bagi rakyat Palestina.
Indonesia sebelumnya telah menempatkan isu Palestina sebagai salah satu perhatian dalam rangkaian agenda Sidang Umum PBB.
Raizal berharap Indonesia semakin aktif mendorong perlindungan masyarakat sipil, bantuan kemanusiaan, pemulihan kehidupan masyarakat Gaza, serta keberlanjutan pendidikan bagi anak-anak Palestina.
“Walk out adalah sebuah pesan. Tetapi setelah pesan itu disampaikan, diplomasi harus terus bekerja,” katanya.
Baca juga: Keffiyeh: Sejarah, Jenis, Pola, Cara Pakai, dan Simbol Solidaritas Palestina
“Kita berharap Indonesia semakin aktif mendorong perlindungan masyarakat sipil, bantuan kemanusiaan, pemulihan kehidupan masyarakat Gaza, dan masa depan pendidikan anak-anak Palestina,” ujar Raizal.
Sikap tersebut sejalan dengan posisi Indonesia yang selama ini menjadikan isu Palestina sebagai salah satu perhatian utama dalam politik luar negeri dan forum multilateral.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.