Editor
KOMPAS.com - Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Fatwa Prof KH Asrorun Ni’am Sholeh mengingatkan pentingnya keseimbangan antara kecerdasan intelektual dan kebersihan rohani bagi penuntut ilmu.
Menurutnya, ilmu tidak cukup hanya memenuhi pikiran dengan pengetahuan, tetapi harus disertai kejernihan hati agar memberikan keberkahan dan kemaslahatan.
Baca juga: Apakah Sound Horeg Haram? Ini Fatwa MUI, Dalil, dan Batas Penggunaannya
Pesan tersebut disampaikan Prof Ni’am saat mengisi pengajian rutin mingguan yang digelar Pondok Pesantren An-Nahdlah pada Sabtu (26/9/2026) pagi.
Pengajian yang membedah Kitab Nashaihul Ibad itu berlangsung secara hibrida dan diikuti santri secara langsung serta jamaah dari berbagai daerah di Indonesia melalui platform Zoom.
Baca juga: MUI Ajak Tobat Ekologi untuk Menghentikan Kerusakan Lingkungan
Dilnsair dari laman MUI, dalam tausiyahnya, Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu mengutip bait hikmah dari ulama besar Tabi'in, Imam Al-Hasan Al-Bashri: “Man la adaba lahu, la 'ilma lahu” (barang siapa yang tidak memiliki adab, maka tidak ada ilmu baginya yang diakui).
"Ada atau tidak adanya ilmu seseorang bukan hanya diukur oleh penuhnya otak, melainkan harus disertai dengan jernihnya hati. Kalau otaknya penuh tapi hatinya gelap, maka yang terjadi adalah ilmunya digunakan untuk kepentingan maksiat," ujar Prof Ni’am.
Prof Ni’am menyoroti kondisi di era digital ketika sebagian orang mengejar penguasaan ilmu pengetahuan dan keterampilan teknis untuk kepentingan duniawi dan materi.
Menurutnya, pencapaian tersebut dapat kehilangan arah apabila tidak dibarengi adab dan landasan moral.
Ia memberikan contoh seseorang yang memiliki keahlian tinggi di bidang teknologi informasi (IT).
Tanpa adab dan kebersihan hati, keahlian tersebut dapat disalahgunakan untuk merugikan publik, seperti memfasilitasi platform judi online hingga melakukan peretasan (hacking) terhadap sistem keuangan.
"Kecanggihan ilmu pengetahuan minus adab, la 'ilma lahu, dianggap tidak ada ilmunya. Sekalipun dibayar tinggi, sudah dijamin orang tersebut tidak akan merasa tenang dalam hidupnya karena akan selalu membayangi ketakutan dan penyesalan," ujar pengasuh Ponpes An-Nahdlah ini.
Lebih lanjut, Prof Ni’am menjelaskan proses kejiwaan manusia ketika terjerumus dalam kesalahan.
Pada tahap awal, hati nurani manusia melalui nafsu lawwamah masih menghadirkan bisikan penyesalan dan rasa bersalah.
Namun, apabila kemaksiatan dan penipuan dilakukan berulang kali tanpa pertobatan, kepekaan moral tersebut perlahan dapat hilang.
"Kemaksiatan akan menyebabkan noda yang menutupi hati nurani,” kata dia.
Menurutnya, semakin tebal noda hitam tersebut, qalbu dapat tertutup hingga menjadi hati yang mati (qalbun mayyit). Kondisi itu dapat membuat seseorang berani melakukan kejahatan secara terang-terangan, bahkan memamerkannya di media sosial tanpa rasa malu.
Sebagai solusi, Prof Ni’am mengingatkan kembali tradisi pengajaran para kiai di pesantren dan ajaran Rasulullah SAW mengenai konsep al-adabu qablal 'ilmi, yakni adab terlebih dahulu sebelum ilmu.
Ia memaparkan bahwa dalam ajaran Islam, orang tua memiliki kewajiban dasar untuk memperbaiki nama dan membina adab anak-anak sebelum mengajarkan Alquran dan ilmu pengetahuan lainnya.
Pembiasaan adab sederhana, seperti berdoa sebelum beraktivitas, menghormati orang tua dan guru, serta menjaga tutur kata tetap santun, menurutnya perlu ditanamkan sejak dini.
Prof Ni’am mengatakan, adab juga tercermin dari ucapan sehari-hari dan kemampuan menjaga lisan, termasuk ketika menggunakan media sosial. Di era digital, kata dia, ghibah dan ujaran kebencian dapat dengan mudah terjadi.
“Orang yang beriman hendaknya memilih untuk berkata yang baik atau diam," kata Prof Ni’am.
Prof Ni’am berpesan kepada generasi muda agar terus menginternalisasi al-akhlaq al-karimah atau akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari.
Ia juga mengimbau kaum dewasa dan para profesional untuk senantiasa meneladankan adab dalam hubungan sosial maupun di lingkungan pekerjaan.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.