Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Menegur Tanpa Merendahkan, Ini Adab Menasihati dalam Islam

Kompas.com, 16 Oktober 2026, 13:54 WIB
Puji Sri Rahayu,
Farid Assifa

Tim Redaksi

Sumber NU Online

KOMPAS.com - Menegur seseorang yang melakukan kesalahan bukan perkara mudah. Teguran yang disampaikan dengan cara keliru dapat melukai perasaan, memicu pertengkaran, bahkan membuat orang yang dinasihati semakin sulit menerima masukan. Karena itu, Islam mengajarkan adab menasihati agar pesan kebaikan dapat disampaikan tanpa merendahkan martabat orang lain.

Nasihat idealnya bertujuan membantu seseorang menyadari kesalahan dan memperbaiki perilakunya, bukan mempermalukan atau menunjukkan bahwa pemberi nasihat merasa lebih baik. Oleh karena itu, umat Islam perlu memperhatikan pilihan kata, waktu, tempat, dan cara menyampaikan teguran agar tetap menjaga kehormatan orang yang dinasihati.

Al-Qur'an Mengajarkan Nasihat dengan Bijaksana

Allah SWT memerintahkan umat Islam untuk menyampaikan ajakan menuju kebaikan dengan cara yang bijaksana. Hal ini tercantum dalam Surah An-Nahl ayat 125:

Baca juga: Pelatihan AI Gratis untuk Guru Pesantren, Pendaftaran hingga 2 November 2026

اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۗ

Ud'u ilā sabīli rabbika bil-ḥikmati wal-mau'iẓatil-ḥasanati wa jādilhum billatī hiya aḥsan.

Artinya, “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik.” (QS. An-Nahl: 125).

Ayat tersebut menekankan pentingnya hikmah, pengajaran yang baik, dan cara berdialog yang santun. Dalam konteks menasihati, seseorang perlu mempertimbangkan keadaan orang yang diingatkan, termasuk bagaimana menyampaikan koreksi tanpa memancing permusuhan.

Bijaksana bukan berarti membiarkan kesalahan. Teguran tetap dapat disampaikan dengan jelas, tetapi tidak perlu disertai hinaan, ejekan, atau kata-kata yang menyerang harga diri seseorang.

Baca juga: Sering Lupa Saat Belajar, Amalkan Doa Ini

Menasihati dengan Lemah Lembut

Rasulullah SAW juga mengajarkan pentingnya kelembutan dalam perkataan dan tindakan. Dalam hadis yang diriwayatkan Aisyah, beliau bersabda:

إِنَّ الرِّفْقَ لَا يَكُونُ فِي شَيْءٍ إِلَّا زَانَهُ وَلَا يُنْزَعُ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا شَانَهُ

Innar-rifqa lā yakūnu fī syai'in illā zānahu wa lā yunza'u min syai'in illā syānahu.

Artinya, “Sesungguhnya kelembutan tidaklah ada pada sesuatu melainkan ia akan menghiasinya, dan tidaklah dicabut dari sesuatu melainkan akan membuatnya buruk.” (HR. Muslim 2594a).

Hadis ini menunjukkan bahwa kelembutan merupakan bagian penting dari akhlak seorang Muslim. Ketika menegur, seseorang dapat menjelaskan kesalahan secara tegas tanpa membentak atau menggunakan kata-kata yang merendahkan.

Baca juga: Abu Dujanah, Sahabat Nabi yang Dikenal Berani di Medan Perang

Kelembutan juga bukan berarti teguran harus selalu terdengar lunak atau menghindari persoalan. Hal yang perlu dijaga adalah cara penyampaiannya tetap menghormati orang lain, sementara substansi kesalahan dijelaskan secara jujur dan proporsional.

Mengapa Nasihat Sebaiknya Disampaikan Secara Pribadi?

Melansir dari laman NU Online dalam artikel menjelaskan pandangan ulama mengenai pentingnya menjaga kehormatan orang yang dinasihati. Nasihat secara tertutup dapat membantu seseorang menerima koreksi tanpa merasa dipermalukan di hadapan orang lain.

Dalam kehidupan sehari-hari, menegur teman di depan banyak orang berisiko membuatnya merasa diserang. Perhatian dapat beralih dari isi nasihat menjadi rasa malu atau keinginan membela diri. Akibatnya, pesan yang sebenarnya baik justru sulit diterima.

Baca juga: Khutbah Jumat Bahasa Jawa: Ngathahi Istighfar lan Tetulung Nalika Mangsa Ketiga

Meski demikian, situasi perlu dipertimbangkan. Jika kesalahan harus segera dihentikan untuk mencegah bahaya, teguran langsung mungkin diperlukan. Prinsipnya, pilih cara yang paling tepat untuk memperbaiki keadaan tanpa mempermalukan seseorang secara tidak perlu.

Pilih Waktu dan Kata-Kata yang Tepat

Sebelum menyampaikan nasihat, perhatikan kondisi orang yang akan ditegur. Mengajak bicara ketika seseorang sedang sangat marah, terburu-buru, atau berada dalam situasi penuh tekanan dapat membuat komunikasi tidak berjalan baik. Menunggu suasana lebih tenang bisa menjadi pilihan yang bijaksana.

Gunakan kalimat yang berfokus pada tindakan, bukan menyerang kepribadian. Daripada menyebut seseorang tidak bertanggung jawab, jelaskan perilaku yang perlu diperbaiki dan dampaknya. Cara ini membantu pembicaraan tetap terarah pada persoalan, bukan berubah menjadi pertengkaran pribadi.

Pastikan Nasihat Bertujuan Memperbaiki

Orang yang menasihati juga perlu memeriksa niatnya sendiri. Apakah teguran disampaikan karena ingin membantu, atau justru untuk melampiaskan kekesalan dan memperlihatkan kekurangan orang lain? Pertanyaan ini penting agar nasihat tidak berubah menjadi sarana merendahkan.

Baca juga: Dari Kepatuhan Menuju Kemaslahatan

Selain itu, pastikan informasi yang menjadi dasar teguran benar. Jangan langsung menyalahkan seseorang hanya berdasarkan kabar yang belum terverifikasi. Jika persoalannya belum jelas, tanyakan terlebih dahulu dengan tenang agar tidak terjadi kesalahpahaman.

Hormati Hak Orang Lain untuk Menanggapi

Nasihat yang baik tidak selalu langsung diterima. Orang yang dinasihati mungkin membutuhkan waktu untuk memahami masukan atau memiliki penjelasan yang belum diketahui. Karena itu, berikan kesempatan kepadanya untuk berbicara dan hindari memaksakan kehendak melalui tekanan atau penghinaan.

Menegur tanpa merendahkan berarti menjaga keseimbangan antara keberanian mengingatkan dan penghormatan terhadap sesama. Sampaikan kesalahan secara jelas, pilih cara yang santun, dan arahkan pembicaraan pada perbaikan. Dengan demikian, nasihat tidak sekadar menjadi teguran, tetapi juga ikhtiar membangun hubungan yang lebih baik.

Baca juga: Khutbah Jumat Terbaru: Jangan Abai terhadap Penderitaan Korban Karhutla

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar