Editor
KOMPAS.com - Berikut adalah teks Khutbah Jumat tentang budaya berbagi untuk mengatasi kesenjangan ekonomi yang disusun Subdit Kepustakaan Islam dikutip dari laman Simbi Kemenag.
Baca juga: Khutbah Jumat 30 Oktober: Cinta kepada Sesama Manusia Karena Allah
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَسْتَهْدِيهِ، وَنَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنِ اهْتَدَى بِهُدَاهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.
وَقَالَ تَعَالَى:
مَا أَفَاءَ اللَّهُ عَلَى رَسُولِهِ مِنْ أَهْلِ الْقُرَى فَلِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ وَلِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِ كَيْ لَا يَكُونَ دُولَةً بَيْنَ الْأَغْنِيَاءِ مِنْكُمْ وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ.
Marilah kita meningkatkan ketakwaan kepada Allah Swt. dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Ketahuilah bahwa salah satu ujian besar dalam kehidupan adalah kesenjangan ekonomi, ketika sebagian orang hidup dalam kelapangan, sementara sebagian lainnya kesulitan memenuhi kebutuhan dasar.
Jemaah salat Jumat yang dirahmati Allah,
Hari ini, marilah kita merenungkan persoalan yang sangat dekat dengan kehidupan kita, yaitu kesenjangan ekonomi. Di satu sisi, ada orang yang bingung bagaimana menghabiskan kelebihan rezekinya. Di sisi lain, ada saudara kita yang kebingungan membeli beras untuk memenuhi kebutuhan makan keluarganya.
Ada rumah yang memiliki lebih dari satu kendaraan, tetapi ada pula anak yang harus berjalan jauh untuk bersekolah.
Kesenjangan ekonomi bukan sekadar persoalan angka. Di balik angka-angka itu, ada wajah manusia. Ada ayah yang bekerja dari pagi hingga malam, ibu yang mengurangi kebutuhan dirinya demi anak-anaknya, lansia yang hidup sendirian, serta anak yatim yang membutuhkan biaya pendidikan.
Jika dibiarkan, kesenjangan ini bukan hanya menciptakan ketimpangan material, tetapi juga dapat memicu gesekan sosial, kecemburuan, dan terkikisnya keharmonisan umat.
Islam hadir membawa solusi mendasar untuk mengikis jurang pemisah tersebut melalui budaya berbagi, yakni ekosistem kebaikan yang diwujudkan melalui zakat, infak, sedekah, dan wakaf.
Allah Swt. berfirman dalam Q.S. Al-Hasyr [59] ayat 7:
مَا أَفَاءَ اللَّهُ عَلَى رَسُولِهِ مِنْ أَهْلِ الْقُرَى فَلِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ وَلِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِ كَيْ لَا يَكُونَ دُولَةً بَيْنَ الْأَغْنِيَاءِ مِنْكُمْ وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ.
Artinya: "Apa saja (harta yang diperoleh tanpa peperangan) yang dianugerahkan Allah kepada Rasul-Nya dari penduduk beberapa negeri adalah untuk Allah, Rasul, kerabat (Rasul), anak yatim, orang miskin, dan orang yang dalam perjalanan. (Demikian) agar harta itu tidak hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu terimalah. Apa yang dilarangnya bagimu tinggalkanlah. Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya."
Ayat ini menegaskan bahwa Islam tidak menghendaki kekayaan hanya berputar di kalangan tertentu. Islam mendorong distribusi kekayaan melalui zakat, infak, dan sedekah sebagai jalan menuju keadilan sosial.
Tafsir Ibnu Katsir menjelaskan bahwa harta tersebut diarahkan kepada berbagai kelompok yang membutuhkan, di antaranya kerabat, anak yatim, orang miskin, dan ibnu sabil, sehingga manfaatnya tidak hanya dinikmati oleh orang-orang kaya.
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,
Mengapa budaya berbagi menjadi instrumen penting untuk mengurangi kesenjangan ekonomi?
Pertama, menurut para ulama, Ibnu Taimiyah dan Imam al-Ghazali menekankan bahwa zakat dan sedekah bukan sekadar bantuan karitatif sementara, melainkan hak fakir miskin yang terkandung dalam harta orang kaya. Dengan berbagi, Allah tidak hanya membersihkan harta dari kotoran kerakusan, tetapi juga menghidupkan perekonomian masyarakat kelas bawah melalui perputaran konsumsi dan modal usaha kecil.
Kedua, hasil penelitian menjelaskan bahwa setiap rupiah yang disedekahkan kepada warga kurang mampu akan langsung dibelanjakan untuk kebutuhan pokok. Pada akhirnya, hal ini dapat menggerakkan UMKM dan mempercepat pemulihan ekonomi lokal.
Berbagai hasil riset menunjukkan bahwa potensi zakat dan wakaf produktif yang dikelola secara profesional terbukti mampu mengentaskan kemiskinan secara bertahap dan mengubah status penerima zakat (mustahik) menjadi pemberi zakat (muzaki).
Hadirin yang dirahmati Allah,
Berbagi tidak akan pernah mengurangi kekayaan kita. Rasulullah saw. bersabda:
مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ
Artinya: "Sedekah tidaklah mengurangi harta." (H.R. Muslim no. 2588).
Islam tidak mengajarkan kita untuk mengabaikan kebutuhan diri sendiri dan keluarga. Namun, jangan sampai kebutuhan berubah menjadi keserakahan dan kehati-hatian berubah menjadi kekikiran.
Allah Swt. berfirman:
وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
Artinya: "Siapa dijaga dirinya dari kekikiran, mereka itulah orang-orang yang beruntung." (Q.S. At-Tagabun [64]: 16).
Kekikiran adalah penyakit hati. Ada orang yang hartanya banyak, tetapi hatinya selalu merasa miskin. Ada pula orang yang hartanya sederhana, tetapi tangannya ringan membantu sesama.
Sebab, kekayaan yang sesungguhnya bukan hanya tentang berapa banyak harta yang kita simpan, melainkan juga tentang berapa banyak manfaat yang dapat kita berikan kepada orang lain. Maka, jangan sampai kita menjadi orang yang kikir.
Jemaah Jumat rahimakumullah,
Kita tidak harus menjadi miliarder untuk menjadi dermawan. Kita juga tidak harus memiliki perusahaan untuk membuka jalan rezeki bagi sesama. Terkadang, yang dibutuhkan hanyalah sedikit kepedulian.
Jangan pernah meremehkan kebaikan kecil. Sebab, kita tidak pernah tahu kebaikan mana yang kelak menjadi sebab turunnya rahmat Allah kepada kita.
Marilah kita melawan budaya konsumtif dengan budaya berbagi, budaya pamer dengan budaya peduli, kesenjangan dengan kepedulian, keserakahan dengan sedekah, serta individualisme dengan ukhuwah.
Masyarakat yang kuat bukanlah masyarakat yang hanya memiliki banyak orang kaya. Masyarakat yang kuat adalah masyarakat yang ketika ada anggotanya terjatuh, banyak tangan terulur untuk mengangkatnya.
Jemaah yang berbahagia,
Berbagi adalah investasi abadi yang melapangkan jalan rezeki di dunia dan memperberat timbangan kebaikan di akhirat. Oleh karena itu, marilah kita menjadikan budaya berbagi sebagai gaya hidup, dimulai dari lingkungan terdekat, seperti tetangga, kerabat, atau rekan kerja yang sedang mengalami kesulitan.
Ketika keberkahan harta kita mengalir untuk mengangkat derajat sesama, di situlah kesenjangan dapat terkikis dan kedamaian dapat terwujud.
Semoga Allah menjadikan kita bukan hanya orang yang pandai mencari rezeki, tetapi juga pandai mensyukuri dan membagikan rezeki. Semoga Allah menjadikan harta yang kita miliki sebagai jalan menuju surga, bukan menjadi sebab kita jauh dari-Nya. Amin.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَمَا أَمَرَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ كَانَ لَهُمْ مِنَ التَّابِعِينَ، صَلَاةً دَائِمَةً بِدَوَامِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرَضِينَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُونَ، اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَذَرُوا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَحَافِظُوا عَلَى الطَّاعَةِ وَحُضُورِ الْجُمُعَةِ وَالْجَمَاعَةِ وَالصَّوْمِ وَجَمِيعِ الْمَأْمُورَاتِ وَالْوَاجِبَاتِ.
فَقَالَ تَعَالَى:
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا.
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ فِي الْعَالَمِينَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.
فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.