Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kisah Hijrah Pertama Kaum Muslimin ke Habasyah

Kompas.com, 7 September 2025, 07:28 WIB
Agus Susanto

Penulis

KOMPAS.com - Hijrah ke Habasyah menjadi upaya Rasulullah Muhammad SAW dan kaum muslimin saat itu untuk menyelamatkan diri dari penindasan yang dilakukan kaum musyrikin Mekkah.

Habasyah adalah nama sebuah kerajaan di Afrika yang hari ini masuk ke negara Ethiopia. Raja negeri Habasyah yang bernama Raja Najasyi saat itu dikenal sebagai raja yang adil dan bijaksana.

Berikut kisah lengkapnya.

Baca juga: Mengenal Istri-istri Nabi Muhammad SAW

Perintah Hijrah ke Habasyah

Perintah hijrah disampaikan Allah SWT dalam Al Quran surat Az Zumar ayat 10.

قُلْ يَٰعِبَادِ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ رَبَّكُمْ ۚ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا۟ فِى هَٰذِهِ ٱلدُّنْيَا حَسَنَةٌ ۗ وَأَرْضُ ٱللَّهِ وَٰسِعَةٌ ۗ إِنَّمَا يُوَفَّى ٱلصَّٰبِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ

Artinya: "Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang beriman. bertakwalah kepada Tuhanmu". Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas."

Rasulullah Muhammad SAW memerintahkan kaum muslimin untuk berhijrah ke Habasyah dalam riwayat berikut:

لَوْ خَرَجْتُمْ إِلَى أَرْضِ الْحَبَشَةِ، فَإِنَّ بِهَا مَلِكًا لَا يُظْلَمُ أَحَدٌ عِنْدَهُ، وَهِيَ أَرْضُ صِدْقٍ، حَتَّى يَجْعَلَ اللَّهُ لَكُمْ فَرَجًا مِمَّا أَنْتُمْ فِيهِ

Artinya: “Seandainya kalian pergi ke negeri Habasyah sesungguhnya di sana ada seorang raja yang tidak siapapun akan didzalimi di sisi raja tersebut. Negeri yang dipimpin dengan kejujuran. (Sementara kalian tinggal di sana), hingga saatnya nanti Allah SWT memberikan jalan keluar bagi kalian dari kondisi yang menghimpit kalian.”

Baca juga: Berbagai Intimidasi Dakwah Nabi Muhammad SAW di Mekkah

Gelombang Pertama Hijrah ke Habasyah

Hijrah pertama terjadi pada bulan Rajab tahun kelima Nubuwah. Sebanyak 16 kaum Muslim yang terdiri dari 12 orang lelaki dan 4 perempuan berangkat ke Habasyah.

Hijrah tersebut dipimpin oleh Utsman bin Affan. Turut serta dalam hijrah tersebut putri Rasulullah Muhammad SAW yaitu Ruqayyah yang merupakan istri dari Utsman bin Affan.

Mereka pergi secara mengendap-endap di tengah malam menuju pinggir pantai Pelabuhan Syaiban. Saat tiba di pinggir pantai, ada dua kapal yang hendak bertolak ke Habasyah.

Setibanya di Habasyah, kaum muslimin yang berhijrah mendapat sambutan dengan baik. Mereka diperlakukan dengan layak. Namun selang dua bulan kemudian, mereka mendengar kabar kalau masyarakat Mekkah sudah masuk Islam karena mereka turut bersujud saat Rasulullah Muhammad SAW membacakan surat An Najm.

Peristiwa tersebut disebut dengan peristiwa gharaniq. Kisah ini terjadi pada bulan Ramadhan.

Baca juga: Kisah Dakwah Rasulullah Muhammad SAW di Awal Penyebaran Agama Islam

Kisah Gharaniq

Gharaniq secara harfiah berarti sejenis burung bangau putih. Sedangkan makna dari Gharaniq adalah sesembahan kaum musyrikin Mekkah yang berupa berhala Latta, Uzza, dan Manat.

Peristiwa gharaniq terjadi saat Rasulullah pergi ke Masjidil Haram dan membacakan surat An Najm. Kebetulan saat itu beberapa pembesar Quraisy sedang berkumpul disana.

Pembacaan ayat tersebut membuat semua yang hadir terkesima dengan keindahannya dan menyimak apa yang dibacakan oleh Rasulullah.

Saat sampai pada ayat ke-20, ada tambahan ayat yang terdengar: “Itulah Gharaniq yang luhur, yang syafaatnya benar-benar diharapkan.”

Menurut sebagian ulama, tambahan ayat tersebut berasal dari setan yang menyerupai suara Rasulullah sehingga kaum musyrikin mengira pujian tersebut berasal dari Rasulullah. Itulah sebabnya kaum musyrikin turut sujud bersama Rasulullah.

Namun ada pula yang menyebut ayat tersebut merupakan tambahan dari kaum musyrikin untuk menutupi rasa malu mereka saat tanpa sadar mereka turut bersujud bersama Rasulullah karena terkesima dengan ayat-ayat yang dibacakan Rasulullah.

Kabar turut sujudnya kaum musyrikin bersama Rasulullah ini memunculkan desas desus bahwa kaum musyrikin Mekkah sudah masuk Islam.

Hal ini membuat mereka yang hijrah ke Habasyah memutuskan Kembali ke Mekkah. Padahal kenyataannya tidak demikian. Sesampainya di Mekkah, mereka mengetahui apa yang sesungguhnya terjadi. Sebagian tetap kembali ke Mekkah dan sebagian lagi kembali ke Habasyah.

Baca juga: Mengenal Putra dan Putri Rasulullah Muhammad SAW

Gelombang Kedua Hijrah ke Habasyah

Gelombang hijrah ke Habasyah yang kedua terjadi. Sebanyak 101 orang menuju ke Habasyah, terdiri dari 83 lelaki dan 18 perempuan. Hijrah gelombang kedua ini dipimpin oleh Ja'far bin Abi Thalib.

Kaum musyrikin tak tinggal diam, mereka mengutus Amr bin Ash dan Abdullah bin Rabi’ah (keduanya belum masuk Islam kala itu) untuk membujuk Raja Najasyi agar kaum muslimin yang hijrah ke Habasyah diusir.

Namun berkat diplomasi Ja’far bin Abi Thalib, usaha tersebut gagal. Raja Najasyi dan para pembesarnya bahkan tersentuh oleh bacaan Al Quran yang disampaikan Ja’far hingga menangis tersedu-sedu.

Sang Raja memutuskan masuk Islam dan berjanji akan melindungi kaum muslimin yang masuk ke negerinya.

kaum muslimin tinggal di Habasyah dalam lindungan Raja Najasyi. Mereka akhirnya kembali ke Mekkah setelah terjadi perjanjian damai antara Kaum Muslimin dan Kaum Musyrikin Mekkah, yaitu perjanjian Hudaibiyah.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
Aktual
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
Aktual
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Aktual
PUI Apresiasi 'Walk Out' Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
PUI Apresiasi "Walk Out" Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
Aktual
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Aktual
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Aktual
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Aktual
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Aktual
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Aktual
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Aktual
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Aktual
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Aktual
Buku Karya Abdul Mu’ti Tentang Pluralisme dan Pendidikan Muhammadiyah Resmi Jadi Koleksi Perpustakaan OCIS Oxford
Buku Karya Abdul Mu’ti Tentang Pluralisme dan Pendidikan Muhammadiyah Resmi Jadi Koleksi Perpustakaan OCIS Oxford
Aktual
Di Hadapan Para Imam Besar di Istiqlal, Imam Masjid Al Aqsa Sampaikan Pesan Persatuan
Di Hadapan Para Imam Besar di Istiqlal, Imam Masjid Al Aqsa Sampaikan Pesan Persatuan
Aktual
MUI Akan Luncurkan Wajib Halal Oktober di Bengkulu pada 1 Oktober 2026
MUI Akan Luncurkan Wajib Halal Oktober di Bengkulu pada 1 Oktober 2026
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar