Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Mengenal Nama-nama Hari dalam Bahasa Arab dan Nama-nama Bulan Kalender Hijriyah

Kompas.com, 22 September 2025, 12:56 WIB
Agus Susanto

Penulis

KOMPAS.com - Nama-nama hari dan bulan serta penetapan tahun sangat penting untuk menandai sebuah peristwa kapan terjadinya.

Di dunia ini, ada beberapa sistem kalender yang berlaku. Paling populer adalah tahun masehi yang digunakan secara internasional untuk menetapkan hari, tanggal, dan tahun.

Sementara sistem kalender lain digunakan sesuai dengan kebutuhan, misalnya kalender China maupun kalender hijriyah.

Sebagai umat Islam, tentunya pemahaman tentang kalender hijriyah cukup penting, karena hal ini terkait dengan berbagai macam ibadah.

Untuk lebih memahami kalender hijriyah, berikut uraian selengkapnya.

Baca juga: Sejarah Nama-nama Bulan dalam Kalender Hijriyah

Sejarah Kalender Hijriyah

Kalender hijriyah mulai ditetapkan pada masa Khalifah Umar bin Khattab. Imam Thabari dalam Tarikh Ar Rasul Wal Muluk menceritakan bahwa kalender hijriyah berawal dari peristiwa Umar bin Khattab saat menerima surat.

Dalam surat tersebut, tertulis bulan Sya’ban, namun tidak diketahui apakah surat tersebut ditulis tahun sekarang atau tahun sebelumnya.

Dengan adanya kerancuan mengenai kapan surat tersebut ditulis, Umar bin Khattab kemudian mengadakan rapat untuk membuat kalender bagi umat Islam.

Beberapa usulan disampaikan untuk menandai awal dari kalender Islam. Ada yang mengusulkan turunnya wahyu pertama sebagai titik awal pembentukan kalender Islam, ada yang mengusulkan wafatnya Nabi Muhammad SAW sebagai awal kalender.

Setelah melalui diskusi yang Panjang, akhirnya disepakati bahwa peristiwa hijrah sebagai titik awal penanggalan Islam dan bulan Muharram ditetapkan sebagai bulan pertama, sebagaimana hijrah pertama ke Madinah dilaksanakan pada bulan Muharram.

Pada tahun ini, umat Islam memasuki tahun 1447 Hijriyah.

Baca juga: 3 Peristiwa Penting di Bulan Rabiul Awal

Nama-nama Hari dalam Bahasa Arab

Sebelum datangnya Islam, orang Arab sudah mempunyai nama-nama hari, yaitu Awwal (Ahad), Ahwan (Senin), Jubar (Selasa), Dubar (Rabu), Mu’nis (Kamis), ‘Arubah (Jumat), dan Syiyar (Sabtu).

Setelah dibuatnya kalender hijriyah, nama hari-hari kemudian diubah sesuai dengan urutan angka dalam Bahasa Arab, kecuali hari Jumat.

Berikut nama-nama hari dalam Bahasa Arab:

الأَحَدُ (Al Ahad): Hari Ahad

الإثْنَيْنِ (Al Itsnain): Hari Senin

الثُّلَاثَاءُ (Ats Tsulatsa): Hari Selasa

الأَرْبِعَاءُ (Al Arbi’aa’): Hari Rabu

الخَمِيْسُ (Al Khomiis): Hari Kamis

الجُمُعَةُ (Al Jumu’ah): Hari Jumat

السَّبْتُ (As Sabt): Hari Sabtu

Ahad artinya satu, sebagai penanda awal hari dalam Islam. Itsnain artinya dua, dan seterusnya.

Nama-nama ini kemudian diadopsi ke dalam Bahasa Indonesia menjadi Ahad, Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, dan Sabtu.

Hari Ahad dalam kalender nasional disebut dengan hari Minggu yang berasal dari Bahasa Protugis Domingo yang artinya Hari Tuhan.

Baca juga: Bulan Rabiul Awal: Sejarah, Keutamaan, dan Amalan yang Dianjurkan

Penamaan Hari Jumat

Hari Jumat berbeda dengan nama-nama hari lainnya karena nama Jumat (Al Jumu’ah) sudah ditetapkan Allah dalam Al Quran sebagai nama surat dan juga ditetapkan sebagai hari untuk melakukan ibadah.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِذَا نُودِىَ لِلصَّلَوٰةِ مِن يَوْمِ ٱلْجُمُعَةِ فَٱسْعَوْا۟ إِلَىٰ ذِكْرِ ٱللَّهِ وَذَرُوا۟ ٱلْبَيْعَ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ

Artinya: “Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum'at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (Q.S. Al jumu’ah: 9).

Arti dari Jumu’ah adalah berkumpul. Syeikh Muhammad Ali Ash Shabuni dalam Tafsir Ayat Ahkam Ash Shabuni menyatakan bahwa umat Islam mengubah hari 'Arubah menjadi hari Al Jumu’ah karena hari tersebut dimanfaatkan untuk berkumpul dan beribadah kepada Allah SWT.

Nama-nama Bulan dalam Kalender Hijriyah

Sementara untuk nama-nama bulan, kalender hijriyah tetap menggunakan nama-nama bulan yang digunakan sebelum datangnya Islam.

Berikut nama-nama bulan dalam kalender hijriyah:

1. Muharram

Bulan Muharram berasal dari kata haram yang artinya terlarang bisa juga berarti yang dihormati.

Bulan pertama pertama dinamakan Muharram karena bulan ini sangat dihormati oleh orang -orang Arab. Bentuk penghormatan tersebut adalah dengan melarang melakukan peperangan di bulan ini.

2. Shafar

Shafar artinya kosong. Bulan kedua dinamakan shafar karena pada bulan ini, orang-orang Arab biasa melakukan perang atau bepergian pada bulan ini sehingga rumah-rumahnya menjadi kosong.

Ada pula yang mengaitkan penamaan bulan shafar dengan penyakit kuning yang menimpa. Dalam Bahasa Arab, penyakit kuning dinamakan ‘ashfar’. Ini juga yang menyebabkan Masyarakat Arab jahiliyah mempercayai bahwa bulan Shafar adalah bulan sial.

3. Rabi'ul Awal

Rabiul Awal berasal dari kata rabi’ dan awal. Rabi’ sering diartikan dengan hujan di musim semi, warna hijau pada tumbuh-tumbuhan, dan juga rerumputan yang tumbuh di musim semi. Sementara awal artinya permulaan.

Bulan ini dinamakan rabiul awal karena menandai datangnya musim semi.

4. Rabi'ul Akhir

Kalau Rabi'ul awal menandai datangnya musim semi, maka rabi'ul akhir berarti akhir dari musim semi yang berlangsung selama dua bulan, yaitu dari bulan Rabiul awal dan Rabiul akhir.

5. Jumadil Awal

Jumadil Awal berasal dari kata Jumadi dan awal. Jumadi berarti musim dingin karena pada bulan ini air membeku (jumud). Sedang awal berarti permulaan.

Jumadil awal menandai permulaan datangnya musim dingin yang membuat air membeku.
Jumadil Akhir

Jumadil akhir merupakan kelanjutan dari Jumadil awal, dimana saat itu masih dalam suasana musim dingin.

Baca juga: Sholat Sunnah Rabu Wekasan dalam Pandangan K.H. Hasyim Asy’ari

6. Rajab

Rajab berasal dari kata urjubu yang berarti berhenti dari perang dan pengepungan. Rajab juga bermakna melepaskan tombak dari besi tajamnya untuk menahan diri dari peperangan.

Rajab merupakan salah satu bulan haram dimana orang-orang Arab menghormatinya. Penghormatan ini dilakukan dengan cara menghentikan atau dilarang perang.

7. Sya’ban

Sya’ban berasal dari kata sya’b yang artinya suku, bangsa, atau sekelompok orang. Bulan ini dinamakan Sya’ban karena pada bulan ini orang-orang Arab pergi berkelompok untuk mencari air.

8. Ramadhan

Ramadhan berasal dari kata ramad yang artinya panas terik. Pada bulan ini sedang berlangsung musim panas. Kata panas juga dikaitkan dengan diampuninya dosa-dosa seperti api yang sangat panas dan membakar habis sesuatu yang dilumatnya.

9. Syawal

Bulan syawal dikaitkan pada gerakan ekor unta yang bergerak karena memasuki musim kawin unta atau unta betina yang kekurangan air susu. Ada juga yang mengartikan syawal berasal dari kata syala yang artinya meningkat.

10. Dzulqa’dah

Bulan Dzulqa’dah berasal dari kata dzul dan qa'dah. Dzul artinya pemilik, sementara qa’dah artinya duduk. Penamaan bulan ini karena bangsa Arab pada masa lampau menjadikan bulan ini sebagai waktu untuk beristirahat, tidak melakukan peperangan, dan menetap di daerahnya, serta mempersiapkan ibadah haji.

12. Dzulhijjah

Bulan dzulhijjah berasal dari kata dzul yang artinya pemilik dan hijjah yang berarti haji. Bulan ini dinamakan demikian karena merujuk pada datangnya bulan haji.

Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT



Terkini Lainnya
1.344 Calon Petugas Haji Ikuti Tes CAT Serentak di 35 Titik BKN
1.344 Calon Petugas Haji Ikuti Tes CAT Serentak di 35 Titik BKN
Aktual
Haedar Nashir Ungkap Alasan Muhammadiyah Tidak Memiliki Dewan Syuro
Haedar Nashir Ungkap Alasan Muhammadiyah Tidak Memiliki Dewan Syuro
Aktual
Doa Menghadapi Bencana: Gempa, Banjir, hingga Gunung Meletus
Doa Menghadapi Bencana: Gempa, Banjir, hingga Gunung Meletus
Doa Harian
Aktivis Muda NU Hendriyanto Attan Raih Gelar Kehormatan dari Keraton Surakarta
Aktivis Muda NU Hendriyanto Attan Raih Gelar Kehormatan dari Keraton Surakarta
Aktual
Dua Patung Bunda Maria Bernuansa Nusantara yang Memikat Putri Mahkota Swedia
Dua Patung Bunda Maria Bernuansa Nusantara yang Memikat Putri Mahkota Swedia
Aktual
Muhammadiyah Tangani 3.702 Korban Gempa NTT, ISPA Jadi Keluhan Terbanyak
Muhammadiyah Tangani 3.702 Korban Gempa NTT, ISPA Jadi Keluhan Terbanyak
Aktual
Pendidikan 24 Jam ala Pesantren Dinilai Relevan dengan Kebutuhan Zaman, Mengapa?
Pendidikan 24 Jam ala Pesantren Dinilai Relevan dengan Kebutuhan Zaman, Mengapa?
Aktual
Apa Itu Fikih Sosial KH Ali Yafie? Memahami Agama dari Persoalan Masyarakat
Apa Itu Fikih Sosial KH Ali Yafie? Memahami Agama dari Persoalan Masyarakat
Aktual
Menjaga Bumi Bisa Dimulai dari Bangunan, Ini Pentingnya Konsep Bangunan Hijau
Menjaga Bumi Bisa Dimulai dari Bangunan, Ini Pentingnya Konsep Bangunan Hijau
Aktual
Mengenang 100 Tahun KH Ali Yafie dan Warisan Islam Moderat untuk Indonesia
Mengenang 100 Tahun KH Ali Yafie dan Warisan Islam Moderat untuk Indonesia
Aktual
5 Rukun Islam: Pengertian, Urutan, Makna, dan Penerapannya
5 Rukun Islam: Pengertian, Urutan, Makna, dan Penerapannya
Doa dan Niat
Doa Nabi Yunus: Arab, Latin, Arti, Keutamaan, dan Cara Mengamalkannya
Doa Nabi Yunus: Arab, Latin, Arti, Keutamaan, dan Cara Mengamalkannya
Doa dan Niat
Tak Hanya Bantuan Pangan, ZISWAF Didorong Lindungi Kelompok Rentan
Tak Hanya Bantuan Pangan, ZISWAF Didorong Lindungi Kelompok Rentan
Aktual
Menag Ajak Siswa Seminari Doakan Korban Gempa Flores
Menag Ajak Siswa Seminari Doakan Korban Gempa Flores
Aktual
Solidaritas untuk Korban Gempa Flores, 20 Ton Beras hingga Ribuan Selimut Disalurkan
Solidaritas untuk Korban Gempa Flores, 20 Ton Beras hingga Ribuan Selimut Disalurkan
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar