Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Tanda Dicabutnya Rasa Syukur dari Diri Seorang Muslim

Kompas.com, 21 November 2025, 14:04 WIB
Agus Susanto

Penulis

KOMPAS.com - Bersyukur menjadi tanda bagi seorang muslim bahwa ia memahami semua nikmat berasal dari Allah SWT. Dengan bersyukur, maka Allah SWT akan menambah nikmat kepadanya. Sebaliknya, tidak bersyukur akan menghadirkan azab.

Ketika seseorang bisa bersyukur, maka ia akan merasakan setiap nikmat Allah SWT sebagai anugerah yang membawa kebaikan dalam kehidupan. Sementara jika seseorang tidak bisa bersyukur, nikmat sebesar apapun tidak akan terasa.

Baca juga: Khutbah Jumat: Korelasi Syukur, Sabar, Meminta Maaf, dan Memaafkan

Perintah Bersyukur

Perintah untuk bersyukur disampaikan Allah SWT di dalam Al Quran surat Ibrahim ayat 7.

وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ

Artinya: “(Ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras.” (Q.S. Ibrahim: 07).

 يَاابْنَ اَدَمَ, اِنَّكَ مَاذَكَرْتَنِى شَكَرْتَنِى, وَاِذَامَانَسِيْتَنِى كَفَرْتَنِى 

Artinya: “Wahai anak Adam, bahwa selama engkau mengingat Aku, berarti engkau mensyukuri Aku, dan apabila engkau melupakan Aku, berarti engkau telah mendurhakai Aku!” (H.R. Ath Thabrani).

Baca juga: Kumpulan Doa Syukur Nikmat Lengkap dengan Terjemahannya

Tanda Rasa Syukur Dicabut

Ada seseorang yang terkadang tidak menyadari betapa besarnya nikmat Allah SWT. Hal ini menjadikan ia senantiasa mengeluh terhadap apa yang ada pada dirinya. Ketika seseorang tidak pernah bersyukur, maka bisa jadi rasa syukur itu akan dicabut dari dirinya.

Menurut Imam An Nawawi Al Bantani dalam kitab Marah Labib, disebutkan bahwa ada dua tanda seseorang dicabut nikmatnya.

1. Gampang mengeluh dan sulit menerima takdir

Seseorang yang senantiasa mengeluh dan tidak terima dengan apa yang ditakdirkan untuknya, berarti rasa syukur sudah dicabut dari dirinya.

Ketika seseorang dicabut rasa syukurnya, maka nikmat kecil maupun besar tidak pernah dirasakan sebagai sesuatu yang membawa kebaikan.

مَنْ لَمْ يَشْكُرِ الْقَلِيلَ، لَمْ يَشْكُرِ الْكَثِيرَ، وَمَنْ لَمْ يَشْكُرِ النَّاسَ، لَمْ يَشْكُرِ اللهَ

Artinya: “Barangsiapa yang tidak bersyukur akan yang sedikit, maka tidak akan bersyukur saat banyak dan barangsiapa yang tidak bersyukur kepada manusia, maka ia tidak bersyukur kepada Allah.” (H.R. Ahmad).

Baca juga: Panduan Sujud Syukur: Doa dan Tata Caranya

2. Tidak memanfaatkan nikmat untuk ketaatan

Syukur itu tergambar dalam tiga cara, yaitu mengakui nikmat dalam hati, melafalkan rasa syukur dengan mulut, dan menggunakan nikmat yang diberikan untuk ketaatan kepada Allah SWT.

Sementara bagi orang yang dicabut nikmatnya, ia akan menggunakan nikmat-nikmat tersebut untuk memenuhi dan memuaskan hawa nafsunya. Semakin besar nikmat yang diberikan, semakin jauh digunakan dalam ketaatan.

Demikianlah dua tanda nikmat dicabut dari diri seseorang. Semoga bisa dijadikan pelajaran. 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com