Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kisah Salman Al Farisi: Perjalanan Mencari Kebenaran

Kompas.com, 26 November 2025, 23:56 WIB
Agus Susanto

Penulis

KOMPAS.com - Salman Al Farisi termasuk sahabat Nabi yang utama. Perjalanan hidupnya sangat luar biasa. Ia bukan berasal dari suku Arab, melainkan dari Persia. Ia melakukan perjalanan dari negerinya untuk mencari kebenaran hingga akhirnya menemukan Islam.

Kisah Salman Al Farisi ini dapat menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi siapa saja yang sedang mencari kebenaran. Kisah Salman juga menggambarkan bahwa orang yang serius berusaha pasti akan memperoleh keberhasilan.

Kisah Salman Al Farisi ini dikutip dari buku Kisah Heroik 65 Orang Shahabat Rasulullah SAW karya Dr. Abdurrahman Ra’fat Al Basya.

Baca juga: Kisah Uwais Al Qarni: Memperoleh Derajat Tinggi karena Berbakti pada Ibu

Latar Belakang Salman Al Farisi

Salman Al Farisi berasal dari sebuah daerah bernama Jayyan, Isfahan, Persia. Ia anak seorang kepala kampung di daerahnya. Ayahnya seorang yang sangat kaya raya dan sangat dihormati oleh masyarakat.

Sejak lahir, Salman menjadi anak kesayangan orang tuanya. Saking sayangnya, sampai-sampai Salman Al Farisi dikurung di dalam rumah. Ia dilarang bepergian agar tidak celaka. Ia dipingit layaknya seorang gadis.

Sejak kecil Salman menganut agama Majusi seperti umumnya penduduk di desanya. Salman dipersiapkan menduduki kedudukan terhormat sebagai penjaga api Majusi.

Baca juga: Kisah Mush’ab bin Umair: Pemuda yang Rela Meninggalkan Kemewahan Dunia

Awal Mula Pencarian Kebenaran

Ayah Salman Al Farisi mempunyai lahan pertanian yang sangat luas. Suatu hari, Salman diutus ayahnya untuk mengawasi lahan pertanian keluarganya. Saat itu sang ayah sedang sibuk dengan urusan lain.

Perintah untuknmengawasi lahan pertanian itu menjadi titik balik kehidupan Salman Al Farisi. Ketika berjalan menuju lahan, ia melewati sebuah gereja. Saat itu sedang berlangsung ibadah di gereja tersebut.

Salman langsung tertarik dengan ibadah tersebut. Ia mendatangi gereja dan bertanya tentang agama apa yang mereka anut. Setelah berdialog, Salman menganggap bahwa agama Nasrani lebih baik dari agama yang dianut sebelumnya.

Salman terus bertanya tentang agama Nasrani hingga malam menjelang. Ia tidak jadi menjalankan tugas ayahnya untuk mengawasi ladang. Salman kemudian menanyakan darimana agama tersebut berasal. Orang Nasrani menyebut bahwa agama itu berasal dari Syam.

Ketika Salman menceritakan apa yang dialaminya, sontak Salman mendapat hukuman. Ia tidak diperbolehkan keluar rumah lagi. Kakinya diikat oleh sang ayah. Namun karena tekadnya yang sudah kuat untuk mencari kebenaran, ia berhasil kabur dan pergi ke Syam.

Baca juga: Kisah Usamah bin Zaid: Panglima Perang Termuda dalam Sejarah Islam

Pengalaman Salman Al Farisi di Syam

Ketika tiba di Syam, Salman segera mencari orang yang paling paham agama Nasrani. Ia kemudian dikenalkan dengan seorang uskup di sebuah gereja. Salman pun menyatakan keinginannya.

“Aku tertarik dengan agama Nasrani. Aku ingin mendampingi dan membantumu. Aku mau belajar darimu dan melakukan kebaktian bersama penganut Nasrani yang lainnya,” ujar Salman Al Farisi kepada sang Uskup.

Salman diterima dengan baik di gereja tersebut dan membantu disana. Selama beberapa waktu, Salman tinggal di gereja tersebut. Uskup awal yang ditemuinya meninggal dan digantikan uskup yang baru.

Menjelang ajal uskup baru tersebut, Salman meminta petunjuk untuk meneruskan pengabdiannya. Ia singgah di beberapa daerah untuk mengamalkan apa yang sudah didapatkannya.

Sampai suatu waktu, Ia mengabdi kepada seorang yang alim dan tak ada lagi sesudahnya. Sebelum orang tersebut meninggal, ia memberikan wasiat kepada Salman Al Farisi.

“Anakku, demi Allah aku tidak mengetahui adanya seseorang yang masih menganut agama yang kita ikuti. Akan tetapi sebentar lagi akan muncul di tanah Arab seorang Nabi yang di utus dengan membawa agama Ibrahim. Kemudian ia berhijrah dari negerinya ke sebuah negeri yang memiliki banyak pohon kurma di antar dua buah lembah berbatu. Dia memiliki tanda-tanda yang jelas. Ia menerima hadiah dan menolak sedekah. Di antara kedua pundaknya terdapat tanda kenabian. Jika kau mampu datang ke negeri tersebut, maka lakukanlah!” ujarnya.

Baca juga: Kisah Umar bin Khattab: Pemimpin Berani dan Adil dalam Sejarah Islam

Salman Al Farisi Melakukan Perjalanan ke Madinah

Sesuai dengan pesan yang disampaikan gurunya, ia kemudian melakukan perjalanan ke negeri Arab. Ia menumpang sebuah kafilah dagang. Sayangnya, ia dikhianati dan dijual sebagai budak. Salman dibeli oleh orang Yahudi dari Bani Quraidzah yang berasal dari Madinah.

Ketika dibawa ke Madinah, Salman baru menyadari bahwa ia sudah sampai di negeri yang disampaikan gurunya, yaitu sebuah negeri yang banyak ditumbuhi pohon kurma, yang tak lain adalah Madinah.

Selama beberapa waktu ia melakukan pekerjaan menjadi budak dan melupakan tujuannya pergi ke Madinah. Sampai suatu hari, ia mendengar dari tuannya bahwa telah datang seorang Nabi dari Mekkah.

Sontak Salman kembali mengingat tujuannya. Selesai bekerja, Salman menemui Nabi tersebut. Ia menguji Nabi dengan sedekah dan hadiah sebagaimana pesan yang disampaikan gurunya. Dan ia mendapati tanda seperti yang disampaikan gurunya.

Salman juga berusaha untuk mengetahui tanda kenabian yang ada di pundak Nabi. Suatu hari ia berhasil melihatnya, maka semakin yakin bahwa orang tersebut adalah Nabi yang disampaikan oleh gurunya.

Baca juga: Kisah Bilal bin Rabah: Sang Muadzin Rasulullah SAW

Salman Menemukan Islam sebagai Keyakinan Terakhirnya

Setelah yakin dengan tanda kenabian seperti yang disampaikan gurunya, Salman kemudian menyatakan masuk Islam. Namun kedudukannya sebagai budak membuatnya tak leluasa untuk mengamalkan Islam. Akhirnya, Nabi memerintahkan Salman untuk menebus dirinya.

Tuannya meminta syarat 300 pohon kurma dan 40 uqiyah emas atau sekitar 1,3 kg emas (1 uqiyah sama dengan 31,7 gram). Dengan bantuan Nabi dan para Sahabat, akhirnya Salman Al Farisi menjadi manusia bebas.

Sejak saat itu, ia tidak pernah berhenti berjuang untuk Islam dan berperang bersama Rasulullah SAW. Salah satu jasanya bagi Islam adalah idenya untuk membuat parit di perang Ahzab. Perang itu juga dinamakan perang Khandaq atau parit karena ide Salman untuk membuat parit guna menghalangi musuh.

Berkat ide Salman Al Farisi, umat Islam memperoleh kemenangan dalam perang tersebut.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Aktual
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
Aktual
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
Aktual
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
Aktual
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Aktual
PUI Apresiasi 'Walk Out' Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
PUI Apresiasi "Walk Out" Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
Aktual
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Aktual
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Aktual
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Aktual
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Aktual
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Aktual
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Aktual
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Aktual
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Aktual
Buku Karya Abdul Mu’ti Tentang Pluralisme dan Pendidikan Muhammadiyah Resmi Jadi Koleksi Perpustakaan OCIS Oxford
Buku Karya Abdul Mu’ti Tentang Pluralisme dan Pendidikan Muhammadiyah Resmi Jadi Koleksi Perpustakaan OCIS Oxford
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar