Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Makna Dialog Nabi Muhammad dan Nabi Musa dalam Isra Miraj

Kompas.com, 16 Januari 2026, 18:00 WIB
Norma Desvia Rahman,
Khairina

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Peristiwa Isra Miraj bukan hanya menandai perjalanan spiritual Nabi Muhammad SAW menuju hadirat Allah SWT, tetapi juga menghadirkan dialog penting antar nabi yang berdampak langsung pada praktik ibadah umat Islam hingga hari ini.

Salah satu momen yang paling menyentuh adalah pertemuan Rasulullah SAW dengan Nabi Musa AS di langit keenam, sebuah perjumpaan yang sarat empati dan kebijaksanaan.

Dalam kitab Al-Bidayah wa An-Nihayah karya Imam Ibnu Katsir, dijelaskan bahwa ketika Rasulullah SAW tiba di langit keenam, Malaikat Jibril memperkenalkan beliau kepada Nabi Musa AS.

Keduanya saling memberi salam dan doa kebaikan. Nabi Musa menyambut Rasulullah SAW dengan penuh penghormatan seraya berkata, “Selamat datang nabi yang saleh dan saudara yang mulia.”

Baca juga: Haedar Nashir: Isra Miraj Harus Bangun Kesadaran Murakabah

Namun setelah Rasulullah SAW melanjutkan perjalanan, Nabi Musa tampak menangis. Rasulullah kemudian bertanya, “Apa yang membuatmu menangis, wahai Musa?”

Nabi Musa menjawab dengan suara penuh haru, “Aku menangis karena seorang nabi yang diutus setelahku memiliki umat yang akan masuk surga lebih banyak daripada umatku.”

Tangisan ini oleh para ulama dimaknai sebagai bentuk kepedulian Nabi Musa terhadap umat manusia sekaligus pengakuan atas keistimewaan risalah Nabi Muhammad SAW.

Baca juga: Makna Isra Miraj bagi Dedi Mulyadi: Kesunyian, Keikhlasan, dan Introspeksi Seorang Pemimpin

Perintah Shalat dan Nasihat Nabi Musa

Setelah bertemu Nabi Ibrahim AS di langit ketujuh dan menyaksikan kemuliaan Sidratul Muntaha, Rasulullah SAW menerima perintah langsung dari Allah SWT berupa kewajiban shalat sebanyak 50 kali dalam sehari semalam.

Hal ini dijelaskan dalam buku Al-Isra’ wa Al-Mi’raj karya Ibnu Hajar Al-Asqalani dan Jalaluddin As-Suyuthi yang merujuk pada hadis riwayat Imam Muslim.

Ketika Rasulullah SAW turun kembali dan bertemu Nabi Musa AS, beliau menceritakan perintah tersebut.

Nabi Musa kemudian berkata, “Apa yang diwajibkan Tuhanmu kepada umatmu?” Rasulullah SAW menjawab, “Lima puluh shalat dalam sehari semalam.”

Mendengar itu, Nabi Musa segera menasihati Rasulullah SAW dengan pengalaman dakwahnya, “Kembalilah kepada Tuhanmu dan mohonlah keringanan. Sesungguhnya umatmu tidak akan sanggup melaksanakannya. Aku telah menguji Bani Israil dan mengetahui beratnya beban umat.”

Baca juga: Khutbah Jumat Singkat: Jadikan Momen Isra Miraj untuk Memperbaiki Kualitas Shalat

Proses Keringanan Hingga Lima Waktu

Rasulullah SAW kemudian kembali menghadap Allah SWT dan memohon keringanan bagi umatnya.

Allah pun mengurangi jumlah shalat secara bertahap. Setiap kali Rasulullah kembali menemui Nabi Musa, beliau tetap mengingatkan, “Umatmu masih belum mampu. Mintalah keringanan lagi.”

Proses ini berlangsung beberapa kali hingga akhirnya kewajiban sholat ditetapkan menjadi lima waktu sehari semalam.

Baca juga: 35 Ucapan Isra Mi’raj 2026 Paling Menyentuh, Penuh Doa dan Makna

Pada pertemuan terakhir, Rasulullah SAW menyampaikan bahwa shalat telah ditetapkan lima kali.

Nabi Musa masih menyarankan untuk meminta keringanan, namun Rasulullah SAW menjawab dengan penuh adab, “Aku merasa malu kepada Tuhanku. Aku ridha dan menerimanya.”

Dalam riwayat disebutkan bahwa Allah SWT berfirman bahwa meskipun jumlahnya lima, pahalanya tetap bernilai lima puluh, sebagai bentuk rahmat dan kemurahan-Nya kepada umat Nabi Muhammad SAW.

Makna Spiritualitas di Balik Dialog Para Nabi

Dialog antara Nabi Muhammad dan Nabi Musa tidak sekadar percakapan biasa, tetapi mencerminkan nilai musyawarah, empati, dan kepedulian lintas generasi kenabian.

Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa peristiwa ini menunjukkan bagaimana syariat Islam dibangun di atas prinsip kemudahan tanpa menghilangkan kualitas ibadah.

Shalat lima waktu lahir bukan hanya dari perintah ilahi, tetapi juga dari kasih sayang Allah SWT yang mempertimbangkan kemampuan manusia, serta kepedulian Nabi Musa yang memahami realitas umat.

Baca juga: Khutbah Jumat 16 Januari 2026 tentang Isra Miraj: Perjalanan Penuh Hikmah dan Perintah Shalat

Relevansi bagi Umat Islam Masa Kini

Bagi umat Islam hari ini, kisah dialog ini mengajarkan bahwa ibadah tidak dimaksudkan sebagai beban, melainkan sebagai sarana membangun kedekatan spiritual dengan Allah SWT.

Shalat menjadi penghubung langsung antara hamba dan Tuhannya, sekaligus warisan agung dari peristiwa Isra Miraj.

Lebih dari itu, perjumpaan dua nabi besar ini juga mengajarkan pentingnya saling menasihati dalam kebaikan, menjaga empati sosial, dan membangun keimanan secara kolektif.

Isra Miraj pada akhirnya bukan hanya kisah perjalanan langit, tetapi juga kisah lahirnya fondasi spiritual umat Islam yang terus hidup hingga hari ini.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang



Terkini Lainnya
Keberuntungan Bukan Kebetulan, Begini Pandangan Islam
Keberuntungan Bukan Kebetulan, Begini Pandangan Islam
Doa dan Niat
6 Calon Petugas Haji Dipulangkan, Wamenhaj: Tidak Jujur soal Kesehatan Sejak Seleksi
6 Calon Petugas Haji Dipulangkan, Wamenhaj: Tidak Jujur soal Kesehatan Sejak Seleksi
Aktual
Mengapa Isra Miraj Bukan Hari Libur di Arab Saudi dan UEA?
Mengapa Isra Miraj Bukan Hari Libur di Arab Saudi dan UEA?
Aktual
Makna Dialog Nabi Muhammad dan Nabi Musa dalam Isra Miraj
Makna Dialog Nabi Muhammad dan Nabi Musa dalam Isra Miraj
Doa dan Niat
Haedar Nashir: Isra Miraj Harus Bangun Kesadaran Murakabah
Haedar Nashir: Isra Miraj Harus Bangun Kesadaran Murakabah
Aktual
Peringatan Isra Mi’raj 2026, Ini Cara Masyarakat Merayakannya
Peringatan Isra Mi’raj 2026, Ini Cara Masyarakat Merayakannya
Aktual
Transisi Kemenhaj, 90 Persen Urusan Haji Resmi Lepas dari Kemenag
Transisi Kemenhaj, 90 Persen Urusan Haji Resmi Lepas dari Kemenag
Aktual
20 Ucapan Isra Mi’raj 2026 Penuh Doa untuk Caption Media Sosial
20 Ucapan Isra Mi’raj 2026 Penuh Doa untuk Caption Media Sosial
Aktual
Isra Mi’raj 2026 Hari Ini, 10 Amalan Isi Libur Lebih Bermakna
Isra Mi’raj 2026 Hari Ini, 10 Amalan Isi Libur Lebih Bermakna
Aktual
Khutbah Jumat 16 Januari 2026 tentang Isra Miraj: Perjalanan Penuh Hikmah dan Perintah Shalat
Khutbah Jumat 16 Januari 2026 tentang Isra Miraj: Perjalanan Penuh Hikmah dan Perintah Shalat
Doa dan Niat
Tiket Kereta Mudik Lebaran 2026 Mulai Dibuka Akhir Januari, Catat Jadwal War Pertamanya!
Tiket Kereta Mudik Lebaran 2026 Mulai Dibuka Akhir Januari, Catat Jadwal War Pertamanya!
Aktual
Seperti Apa Sidratul Muntaha? Simak Penjelasan Para Ulama
Seperti Apa Sidratul Muntaha? Simak Penjelasan Para Ulama
Doa dan Niat
Makna Isra Miraj bagi Dedi Mulyadi: Kesunyian, Keikhlasan, dan Introspeksi Seorang Pemimpin
Makna Isra Miraj bagi Dedi Mulyadi: Kesunyian, Keikhlasan, dan Introspeksi Seorang Pemimpin
Aktual
20 Ucapan Isra Miraj 2026 Penuh Makna untuk Status WhatsApp
20 Ucapan Isra Miraj 2026 Penuh Makna untuk Status WhatsApp
Aktual
Cerita Dahnil soal Jamaah Haji Asal Lampung, Jual Rumah dan Hidup Menumpang demi Berhaji
Cerita Dahnil soal Jamaah Haji Asal Lampung, Jual Rumah dan Hidup Menumpang demi Berhaji
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com