Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Makna Isra Miraj bagi Dedi Mulyadi: Kesunyian, Keikhlasan, dan Introspeksi Seorang Pemimpin

Kompas.com, 16 Januari 2026, 10:18 WIB
Farid Assifa

Editor

KOMPAS.com — Peristiwa Isra Miraj tidak sekadar dipahami sebagai perjalanan spiritual Nabi Muhammad SAW, tetapi juga sebagai refleksi mendalam tentang kemanunggalan manusia dengan Sang Pencipta.

Bagi Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, Isra Miraj adalah dialektika komunikasi spiritual antara makhluk dan Khalik yang hanya bisa dicapai melalui kebeningan hati dan keikhlasan total.

Menurut Dedi, dalam terminologi kehidupan modern, makna Isra Miraj sejatinya identik dengan spiritualitas. Yakni, proses komunikasi batin manusia dengan pemilik dirinya, Allah SWT.

Komunikasi spiritual itu, kata dia, hanya akan tercapai ketika manusia terbebas dari kepentingan-kepentingan personal yang kerap merusak nilai penyerahan diri.

Baca juga: 20 Ucapan Isra Miraj 2026 Penuh Makna untuk Status WhatsApp

“Dialektika komunikasi spiritual antara makhluk dengan Khalik akan tercapai manakala manusia terbebas dari kepentingan yang bersifat personal,” ungkap Dedi dalam refleksinya memaknai Isra Miraj, kepada Kompas.com, Jumat (16/1/2025).

Ia menjelaskan, sebelum Nabi Muhammad SAW mencapai Sidratul Muntaha, ada fase kebersihan hati yang menjadi syarat utama.

Dalam konteks kehidupan sehari-hari, kebersihan hati itu berarti terbebas dari rasa benci dan iri kepada siapa pun, serta melepaskan segala keinginan duniawi, kecuali satu: keinginan untuk mendapatkan cinta Allah.

Bagi Dedi, keinginan-keinginan personal sering kali menjadi penghalang utama dalam perjalanan spiritual manusia.

Keinginan itulah yang perlahan merusak tata nilai penyerahan diri, membuat manusia sulit mencapai kualitas tafakur yang sejati.

Ia menilai, proses tafakur yang mendalam nyaris sulit ditemukan di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern.

Tafakur sejati justru lahir dalam kesendirian, tanpa ditemani siapa pun. Dalam Islam, bentuk tertinggi dari kesendirian spiritual itu tercermin dalam shalat tahajud.

“Tahajud itu kan kesendirian. Pada saat ada keriuhan, kita justru menghadapi kesunyian,” ujarnya.

Makna Isra Miraj bagi Pemimpin

Refleksi Isra Miraj itu pula yang, menurut Dedi, seharusnya menjadi pegangan seorang pemimpin.

Dalam pandangannya, pemimpin perlu menyediakan ruang untuk menyendiri, melakukan introspeksi diri, bercermin pada hati dan rasa.

“Seorang pemimpin harus berani mengambil kesendirian. Introspeksi diri, berkaca pada rasa. Di situ kita akan menandang wajah diri kita sendiri,” katanya.

Dedi mengakui, di balik aktivitasnya yang padat dari pagi hingga sore hari, ia justru banyak menghabiskan waktu sendiri di luar jam kegiatan resmi.

Kesendirian itu ia gunakan untuk merenung, mengevaluasi diri, sekaligus menyelaraskan kembali niat dan langkah.

Ia bahkan menyebut aktivitas sederhana seperti membersihkan sungai, menanam pohon, membersihkan tanaman, hingga berjalan sendiri di pematang sawah sebagai bagian dari proses kontemplasi. Kegiatan tersebut sering ia lakukan pada malam hari dengan kesendirian.

Baca juga: Isra Miraj 2026 Hari Ini: Makna, Sejarah, dan Hikmah Peristiwa Agung Nabi Muhammad SAW

Dalam keheningan itulah, ide-ide sering muncul, disertai koreksi batin tentang apa yang masih kurang tepat dan perlu diperbaiki.

“Diam, memperhatikan air, memperhatikan alam. Dari situ selalu muncul ide, lalu mengoreksi diri—oh ini yang kurang tepat,” tuturnya.

Bagi Dedi Mulyadi, Isra Miraj bukan hanya peristiwa sejarah keagamaan, melainkan pengingat abadi bahwa kepemimpinan, seperti halnya spiritualitas, membutuhkan kesunyian, kejujuran batin, dan keberanian untuk berdialog dengan diri sendiri di hadapan Tuhan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com