KOMPAS.com – Di antara titik paling sakral di sekitar Ka'bah, terdapat satu area yang selalu dipadati jamaah haji dan umrah.
Mereka berdesakan, menempelkan tubuh, bahkan menitikkan air mata sambil berdoa. Tempat itu dikenal dengan nama Multazam, sebuah lokasi yang diyakini sebagai salah satu titik paling mustajab untuk bermunajat kepada Allah SWT.
Bagi banyak orang, kesempatan berada di Multazam bukan sekadar ritual, melainkan momen spiritual yang sulit dilupakan.
Lantas, apa sebenarnya Multazam, di mana letaknya, serta bagaimana tata cara berdoa di sana menurut para ulama?
Secara bahasa, kata “Multazam” berasal dari akar kata Arab iltazama yang berarti “melekat”, “berpegang erat”, atau “menempel dengan kuat”.
Makna ini menggambarkan praktik ibadah yang dilakukan di tempat tersebut, yakni menempelkan tubuh ke dinding Ka'bah sambil berdoa.
Dalam konteks ibadah, Multazam adalah bagian dari dinding Ka'bah yang memiliki keutamaan khusus sebagai tempat memanjatkan doa.
Dalam buku Bimbingan Lengkap Haji dan Umrah karya Syukron Maksum dijelaskan bahwa Multazam merupakan lokasi di mana seorang hamba “mengikatkan” harapannya kepada Allah dengan penuh kerendahan hati.
Baca juga: Doa Thawaf Lengkap 7 Putaran dan Doa Setelah Thawaf
Multazam terletak di antara Hajar Aswad dan pintu Ka'bah, tepatnya di sisi timur bangunan suci tersebut. Jaraknya sekitar dua meter, menjadikannya area yang relatif sempit namun sangat diminati.
Karena posisinya yang strategis dan penuh keutamaan, tidak jarang jamaah harus menunggu atau berdesakan untuk bisa mencapai titik ini, terutama saat musim haji atau umrah.
Dalam keterangan yang dikutip dari berbagai riwayat, termasuk hadis yang diriwayatkan oleh Al-Baihaqi, disebutkan:
“Tidaklah seseorang berdoa di Multazam memohon sesuatu kepada Allah, kecuali Allah akan mengabulkannya.”
Meskipun sebagian ulama menilai kualitas hadis ini, maknanya tetap diterima secara luas sebagai dorongan untuk memperbanyak doa di tempat tersebut.
Multazam bukan sekadar lokasi fisik, tetapi juga ruang spiritual yang sarat makna. Para ulama menjelaskan sejumlah keutamaan berdoa di tempat ini.
Banyak riwayat menyebutkan bahwa doa di Multazam memiliki peluang besar untuk dikabulkan.
Dalam kitab Al-Adzkar, Imam Nawawi menegaskan anjuran memperbanyak doa di tempat-tempat mulia, termasuk di sekitar Ka'bah.
Menempelkan tubuh ke dinding Ka'bah menghadirkan rasa kedekatan yang mendalam antara hamba dan Tuhannya. Ini menjadi pengalaman batin yang sulit digambarkan dengan kata-kata.
Banyak jamaah memanfaatkan momen ini untuk bertobat. Tangisan dan doa yang dipanjatkan di Multazam diyakini sebagai bentuk penyesalan yang tulus.
Posisi tubuh yang menempel mencerminkan ketundukan total. Dalam buku Syama'il Rasulullah karya Ahmad Mustafa Mutawalli, dijelaskan bahwa praktik ini menunjukkan kesungguhan seorang hamba dalam memohon kepada Allah.
Baca juga: Doa-doa di Makkah Al-Mukarramah: Bacaan Arab, Arti, dan Keutamaannya bagi Jemaah Haji
Meski tidak ada tata cara baku yang bersifat wajib, para ulama memberikan panduan berdasarkan riwayat dan praktik salaf.
Datanglah dengan niat tulus, bukan sekadar mengikuti arus jamaah. Keikhlasan menjadi kunci utama dalam berdoa.
Menurut penjelasan Ibnu Taimiyyah, dianjurkan untuk menempelkan dada, wajah, dan kedua tangan ke dinding Multazam.
Tangan kanan diarahkan ke pintu Ka'bah, sementara tangan kiri mengarah ke Hajar Aswad. Posisi ini disebut dalam beberapa riwayat, meskipun tidak bersifat wajib.
Salah satu doa yang dianjurkan terdapat dalam kitab Al-Adzkar karya Imam Nawawi, yang berisi pujian kepada Allah, shalawat kepada Nabi, serta permohonan perlindungan dan keberkahan.
اللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ حَمْداً يُوَافِي نِعَمَكَ وَيُكَافِي مَزِيدَكَ أَحْمَدُكَ بِجَمِيعِ مَحَامِدِكَ مَا عَلِمْتُ مِنْهَا وَمَا لَمْ أَعْلَمْ عَلَى جَمِيعِ نِعَمِكَ مَا عَلِمْتُ مِنْهَا وَمَا لَمْ أَعْلَمْ وَعَلَى كُلِّ حَالٍ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلَّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ اللَّهُمَّ أَعِذْنِي مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّحِيمِ وأَعِذْنِي مِنْ كُلِّ سُوءٍ وَقَنَعْنِي بِمَا رَزَقْتَنِي وَبَارِكْ لِي فِيهِ، اَللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِنْ أَكْرَمِ وَفْدِكَ عَلَيْكَ وَأَلْزِمْنِي سَبِيْلَ الْاسْتِقَامَةِ حَتَّى أَلْقَاكَ يَا رَبَّ العَالَمِينَ
Allahumma lakal hamdu hamday yuwaafi ni'amika wa yukaafiu maziidak, ahmaduka bi jamii-i mahaamidika maa 'alimtu minhaa wa maa lam a'lam 'alaa jamii-i ni'amika maa 'alimtu minhaa wa maa lam a'lam wa 'alaa kulli haal, allaahumma shalli wa sallim 'alaa muhammadin wa'alaa aali muhammad, allaahumma a'idznii minasy syaithaanir rajiim, wa 'aid- znii min kulli suu', wa qanni'nii bi maa razaqtanii wa baarik lii fiih. Allaa- hummaj 'alnii min akrami wafdika 'alaika, wa alzimnii sabiilal istiqaamati hattaa alqaaka yaa rabbal 'aalamiin.
Artinya: "Ya Allah, Segala puji bagi-Mu, dengan pujian yang menyampaikan pada kenikmatan-Mu dan menepati tambahan kenikmatan itu. Aku memuji-Mu dengan semua pujian baik yang aku ketahui maupun yang tidak aku ketahui atas seluruh kenikmatan-Mu baik yang aku ketahui maupun yang tidak aku ketahui, atas segala keadaan. Ya Allah, limpahkanlah sholawat dan salam atas Nabi Muhammad SAW dan keluarga Nabi Muhammad SAW. Ya Allah, lindungilah aku dari setan-setan yang terkutuk, dan lindungilah aku dari segala keburukan dan jadikanlah aku qanaah menerima apa yang Engkau berikan dan berkahilah di dalamnya untukku. Ya Allah, jadikanlah aku termasuk orang yang mulia yang Engkau utus, dan tetapkanlah istikamah sampai aku bertemu kepada-Mu, wahai Tuhan pemilik seluruh alam."
Setelah membaca doa yang dianjurkan, jamaah dipersilakan memanjatkan doa apa pun—tentang kehidupan, keluarga, ampunan, hingga harapan masa depan.
Multazam dapat didatangi kapan saja, tetapi beberapa ulama menganjurkan waktu tertentu, seperti:
Dalam buku Panduan Beribadah Khusus Pria karya Syaikh Hasan Muhammad Ayyub, disebutkan bahwa momentum setelah tawaf memiliki nilai spiritual yang tinggi karena hati berada dalam kondisi lebih khusyuk.
Baca juga: Niat Ihram dan Doa Haji: Arab, Latin, Arti, dan Kemudahan bagi Jemaah
Bagi sebagian orang, Multazam adalah tempat di mana doa-doa terasa lebih dekat dengan langit. Banyak kisah dari jamaah yang mengaku doanya terkabul setelah bermunajat di sana.
Namun, para ulama mengingatkan bahwa yang terpenting bukanlah tempat semata, melainkan keikhlasan dan keyakinan dalam berdoa. Multazam hanyalah salah satu wasilah yang Allah muliakan.
Di tengah hiruk pikuk Masjidil Haram, Multazam menghadirkan ruang sunyi bagi setiap jiwa yang ingin bersandar kepada Tuhannya.
Ia bukan sekadar lokasi di antara batu dan pintu, melainkan titik pertemuan antara harapan manusia dan rahmat Ilahi.
Bagi yang berkesempatan, Multazam adalah momen langka. Namun bagi yang belum sampai ke sana, esensi doa tetap sama, bahwa setiap tempat bisa menjadi “Multazam”, selama hati benar-benar melekat kepada Allah SWT.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang