KOMPAS.com – Di tengah beragam amalan doa dalam tradisi Islam, terdapat satu doa yang cukup populer di kalangan umat Muslim, yaitu Doa Nurbuat atau yang juga dikenal sebagai Doa Nurun Nubuwwah.
Doa ini kerap diamalkan sebagai bentuk ikhtiar spiritual untuk memohon perlindungan, keselamatan, dan keberkahan hidup.
Meski tidak termasuk doa yang bersumber langsung dari hadis-hadis shahih yang masyhur, Doa Nurbuat tetap memiliki tempat dalam khazanah keislaman klasik.
Para ulama memasukkannya dalam kumpulan doa-doa pilihan yang diwariskan melalui tradisi keilmuan dan praktik spiritual umat Islam dari masa ke masa.
Lantas, bagaimana bacaan lengkap Doa Nurbuat, serta apa saja keutamaan yang diyakini terkandung di dalamnya?
Secara etimologis, kata Nurbuat berasal dari dua kata Arab, yaitu nūr yang berarti cahaya, dan nubuwwah yang berarti kenabian.
Dengan demikian, doa ini dimaknai sebagai “cahaya kenabian”, sebuah simbol spiritual yang mengarah pada keberkahan dan perlindungan Ilahi.
Dalam buku Malaikat pun Mengamini: Kumpulan Doa Penggapai Rida Ilahi karya H. Hamdan Hamedan, MA., disebutkan bahwa doa ini dinisbatkan kepada riwayat yang dihimpun oleh Imam Abul Qasim Ali Ibn Asakir dalam Tarikh Dimasyq.
Sementara itu, dalam buku Panduan Lengkap Shalat Wajib dan Sunnah karya KH. Ustadz Sholechul Azis, doa ini termasuk amalan yang dianjurkan untuk dibaca secara rutin.
Meski statusnya berada dalam ranah doa-doa tradisional, banyak ulama memandangnya sebagai bentuk dzikir dan permohonan yang mengandung nilai tauhid, sehingga tetap dapat diamalkan selama tidak bertentangan dengan prinsip akidah Islam.
Baca juga: Takdir Bisa Berubah? Ini Peran Doa Tolak Bala yang Jarang Disadari
اَللّٰهُمَّ ذِى السُّلْطَانِ الْعَظِيْمِ وَذِى الْمَنِّ الْقَدِيْمِ وَذِي الْوَجْهِ الْكَرِيْمِ وَوَلِيِّ الْكَلِمَاتِ التَّامَّاتِ وَالدَّعَوَاتِ الْمُسْتَجَابَةِ عَاقِلِ الْحَسَنِ وَالْحُسَيْنِ مِنْ اَنْفُسِ الْحَقِّ عَيْنِ الْقُدْرَةِ وَالنَّاظِرِيْنَ وَعَيْنِ الْجِنِّ الْاِنْسِ وَالشَّيَاطِيْنِ
وَاِنْ يَّكَادُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا لَيُزْ لِقُوْنَكَ بِاَبْصَارِهِمْ لَمَّا سَمِعُوا الذِّكْرَ وَيَقُوْلُوْنَ اِنَّهُ لَمَجْنُوْنٌ وَمَاهُوَ اِلاَّذِكْرٌ لِّلْعَالَمِيْنَ وَمُسْتَجَابُ اْلقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ وَوَرِثَ سُلَيْمَانُ دَاوُدَ عَلَيْهِمَا السَّلَامُ الْوَدُوْدُ ذُوالْعَرْشِ الْمَجِيْدِ
طَوِّلْ عُمْرِيْ وَصَحِّحْ جَسَدِيْ وَاقْضِ حَاجَتِيْ وَاَكْثِرْ اَمْوَالِيْ وَاَوْلَادِيْ وَحَبِّبْنِيْ لِلنَّاسِ اَجْمَعِيْنَ وَتَبَاعَدِ الْعَدَاوَةَ كُلَّهَا مِنْ بَنِيْ اٰدَمَ عَلَيْهِ السَّلَامُ مَنْ كَانَ حَيًّا وَّيَحِقَّ الْقَوْلُ عَلَى الْكَافِرِيْنَ اِنَّكَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ
Allaahumma dzis-sultaanil ‘adziimi wadzil-mannil qadiimi wadzil-wajhil-kariimi wawaliyyil-kalimaatit taammati wadda‘awaatil mustajaabaati ‘aaqilil hasani wal-husaini min anfusil haqqi ‘ainil qudrati wan-naaziriina wa ‘ainil jinni wal insi wasy-syayaatiin.
Wa iy yakaadulladziina kafaruu layuzliquunaka bi absaarihim lammaa samii‘udz-dzikra wayaquuluuna innahuu lamajnuunuw wamaa huwa illaa dzikrul lil-‘aalamiin, wamustajaabil-qur’aanil-‘aziim, wawaritsa sulaimaanu daawuuda ‘alaihimassalaam, al-wuduudu dzul ‘arsyil-majiid.
Tawwil ‘umrii wa shahhih jasadii waqdii haajatii wa aktsir amwaalii wa aulaadii wahabbibnii linnaasi ajma‘iina watabaa‘adil ‘adaawata kullahaa mim banii aadama ‘alaihissalaamu man kaana hayyaw wayahiqqal-qaulu ‘alal kaafiriina innaka ‘alaa kulli syai’in qadiir.
Subhaana rabbika rabbil-‘izzati ‘ammaa yasifuuna wasalaamun ‘alal-mursaliina walhamdu lillaahi rabbil-‘aalamiin.
“Ya Allah, Pemilik kekuasaan yang agung, yang memiliki karunia sejak dahulu, yang memiliki wajah yang mulia, yang menguasai kalimat-kalimat yang sempurna dan doa-doa yang mustajab…
Panjangkanlah umurku, sehatkanlah tubuhku, penuhilah kebutuhanku, limpahkanlah rezeki berupa harta dan keturunan, serta jadikan aku dicintai oleh manusia. Jauhkanlah permusuhan dari diriku dan lindungilah aku dari segala keburukan…
Maha Suci Tuhanmu, Tuhan Yang Maha Perkasa dari apa yang mereka sifatkan. Dan semoga keselamatan tercurah kepada para rasul, serta segala puji bagi Allah Tuhan seluruh alam.”
Baca juga: 6 Penghalang Doa dalam Islam, Ini Penyebab Doa Sulit Dikabulkan
Dalam buku Tuntunan Shalat Lengkap dan Asmaul Husna karya KH. Ustadz Solechul Aziz, disebutkan bahwa Doa Nurbuat memiliki sejumlah keutamaan yang diyakini oleh para ulama dan praktisi spiritual Islam.
Pertama, doa ini dipercaya sebagai wasilah terkabulnya hajat, terutama jika diamalkan secara istiqamah setelah shalat fardu.
Hal ini selaras dengan prinsip umum dalam Islam bahwa doa yang diulang dengan penuh keyakinan memiliki peluang lebih besar untuk dikabulkan.
Kedua, doa ini diyakini dapat menjadi sebab perlindungan dari gangguan makhluk halus, sihir, serta energi negatif. Dalam perspektif tasawuf, dzikir yang kuat akan membentuk “perisai spiritual” bagi seseorang.
Ketiga, Doa Nurbuat juga sering dikaitkan dengan ketenangan batin. Seseorang yang rutin membacanya akan merasakan stabilitas emosional, karena hatinya senantiasa terhubung dengan Allah.
Keempat, dalam praktik masyarakat, doa ini bahkan digunakan sebagai bentuk ikhtiar menjaga keberkahan lingkungan, termasuk rumah, usaha, hingga pertanian.
Meski bersifat tradisional, keyakinan ini menunjukkan bagaimana doa dipahami sebagai bagian dari interaksi manusia dengan alam melalui izin Allah.
Dalam karya Ad-Da’ wa Ad-Dawa’, Ibnu Qayyim al-Jauziyah menjelaskan bahwa doa merupakan bagian dari sebab yang ditetapkan Allah untuk mendatangkan manfaat dan menolak mudarat. Artinya, doa bukan sekadar pelengkap, melainkan bagian dari sistem takdir itu sendiri.
Senada dengan itu, Imam An-Nawawi dalam Al-Adzkar menekankan pentingnya memperbanyak doa dalam setiap kondisi, baik saat lapang maupun sempit.
Menurutnya, doa adalah bentuk pengakuan akan kelemahan manusia di hadapan kekuasaan Allah.
Baca juga: Tata Cara Wudhu Lengkap: Niat, Rukun, Sunnah dan Doa agar Shalat Sah
Doa Nurbuat, sebagaimana doa-doa lainnya dalam Islam, pada dasarnya adalah bentuk ikhtiar batin.
Ia bukan jaminan mutlak, tetapi sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah sekaligus memohon perlindungan-Nya.
Dalam kehidupan yang penuh ketidakpastian, doa menjadi ruang harapan yang tidak pernah tertutup. Selama seseorang masih berdoa, selama itu pula ia tidak benar-benar kehilangan arah.
Pada akhirnya, kekuatan doa bukan hanya terletak pada lafaznya, tetapi pada keyakinan, keikhlasan, dan konsistensi dalam mengamalkannya.
Sebab dari sanalah lahir ketenangan, perlindungan, dan keberkahan yang dicari setiap manusia.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang